Saturday, August 10, 2013

Petuah Pak Kiyai


Ditulis Oleh: SAVRAN BILLAHI

Sang surya masih tertidur pulas, belum mau bangkit dari tempatnya. Namun, suara weker terdengar mengetuk-ngetuk  telinga untuk sadar dalam mimpi. Telingaku pun otomatis mengirimkan rangsangan kepada otak untuk bangun dari pulasku. Terlihat samar jarum jam menunjukkan waktu dini hari. Aku pun bangun dari pulasku.
                Suasana kamar terlihat seperti biasanya, begitu tenang dan berbau keilmuan dengan tumpukan buku yang menemani dengan penuh kesabaran. Aku pun beranjak dari diam, berjalan membuka tirai jendela. Subhanallah, ungkapan yang selalu kuucupkan tiap kali membuka tirai jendela. Bagaimana tidak, suasana kota Paris yang terkenal dengan the city of lights selalu meronta-ronta mengeluarkan cahaya dari segala sudutnya, meminta pujian dan takjub kepada insan yang melihatnya. Kilauan lampu-lampu mencurahkan warna yang agung bagai kilauan emas menyapa dengan keramahan suasana kota biru yang membahana ini.
                Di tengah kilauan cahaya tersebut menjulang tinggi, berdiri melangit sebuah menara dengan sanggahan empat kaki, merefleksikan sebuah raksasa yang berdiri dengan penuh wibawa. Ya, menara itu adalah menara Eiffel, ikon negara paling romantis di jagat ini.
                Paris menurutku merupakan kota terseksi sedunia, ia cantik sekaligus merangsang syahwat semua insan untuk datang kepadanya, membuka rasa penasaran akan kemolekannya, menawarkan bangunan-bangunan eksklusif sebagai bagian dari tubuhnya serta kecupan indah pengalaman yang didapat darinya. Paris memang kota mewah penuh cita rasa.
                Terharu rasanya, kalau aku mengingat memori delapan belas tahun yang lalu. Tak mungkin rasanya aku dapat merasakan suasana indah mempesona ini, apalagi menikmatinya bersama istriku tercinta, Nurul Fatih serta kedua anakku, Wahyu dan Diba. Kalau bukan berkat prestasi yang ku raih karena dukungan kawan-kawanku di ladang hijau pengetahuan, tak mungkin kaki ini dapat menginjak tanah yang penuh dengan ilmu yang ku minati, sejarah.
                Memang benar petuah guruku dulu, bahwa seseorang terangkat derajatnya oleh pengorbanan yang dilakukan bukan dengan sekedar keinginan. Nasehat itu membuatku untuk berjuang lebih keras dan tekun dalam menghadapi segala macam problematika kehidupan, baik di Indonesia maupun di negeri seberang.
                “Pa…pa…” panggilan istriku terdengar jelas di telinga, suaranya agak sayup menunjukkan ia baru sadar dari tidurnya.
                “Ya, mah” sahutku sambil menikmati suasana indah kota Paris.
                “Sudah tahajud pa?” tanya istriku.
                Sambil geleng-geleng kepala aku menjawab, “belum mah”
                “Oh, yuk kita shalat!” ajak istriku.
                Aku langsung bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan panggilan Allah bersama istriku. Sembari berwudhu, istriku menyiapkan dan memasang sajadah di tengah kamar. Setelah segala sesuatunya selesai, kami pun langsung menunaikan shalat.
                Tahajud memang menjadi kebiasaan kami yang telah mendarah daging. Apalagi diriku, tiga tahun di pesantren membuatku sadar betapa pentingnya tahajud. Nurul, istriku pun melazimkannya dan seiring berjalannya waktu, ia pun mengikuti. Inilah keluarga kami, berusaha untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dengan selalu menambah kedekatan kepada-Nya. Setelah tahajud, aku mencium tangan kanan istriku dengan penuh rasa cinta dan ia pun membalasnya dengan kecupan rasa sayang seorang istri.
                “Mah, tolong ambilkan foto itu!” pintaku sambil menunjuk foto wisudaku delapan belas tahun lalu.
                “Oh ya yah, ini” jawabnya sambil memberikan foto tersebut.
                Aku pun mengambilnya, menatapnya dan tiba-tiba  pikiranku melayang, menerobos masuk ke lorong waktu, mengingat memori-memori yang tersimpan di balik foto itu.
                “Kapan ya mah, papa bisa berkumpul bersama mereka lagi?” tanyaku melihat foto itu.
                “Kangen ya pa? mungkin sebentar lagi kalau Allah mengizinkan” jawab istriku menghibur.
                “Aamiin mah, papa rindu mereka sekali, padahal dulu papa ingin cepat-cepat keluar dari pesantren. Tapi sekarang, papa kangen sekali suasana di sana. Lucu, kalau papa ingat memori dulu di pesantren, makan bersama, keceng-kecengan bareng teman. Ada yang dipanggil Syadam ‘Bon’, Asep ‘Ceper’, ‘Obama Sufi’, Aji ‘Luber’, Usuludin dan lainnya. Tidak bisa disangka, papa bisa menjadi seperti ini” kenangku.
                “Begitulah pa, ada dimana saatnya kita kesal dan ada kalanya kita rindu. Itulah Allah, Yang Maha membolak-balikan hati” kata istriku menenangkan.
                “Tapi papa bersyukur sekali bisa mengenyam pendidikan di sana. Papa bisa menemukan guru-guru hebat yang selalu memberikan papa dan kawan-kawan falsafah hidup. Berkat itu, papa bisa menjadi seperti ini”.
                Obrolan antara suami-istri itu pun sejenak terhenti, ketika aku melihat waktu akan masuk waktu subuh.
                “Mah, dzikir dulu ya, obrolannya dilanjutkan nanti”. Pintaku mengakhiri pembicaraan.
∞∞∞
Pangkat, 12 September 2011
Lomba Karya Tuis Ilmiah Remaja Tingkat SMA Nasional
Topik                                 : Hubungan Internasional Indonesia-Maroko
Pengumpulan Naskah      : 30 November 2011
Pengumuman Pemenang : 5 Desember 2011
Persentasi                        : 11-12 Januari 2012
Tempat                             : Kedutaan Besar Maroko
Hadiah                            : Wisata pendidikan ke Maroko satu bulan

                Tersontak aku melihat pengumuman itu, apalagi melihat iming-iming hadiahnya. Timbul keinginan untuk mengikuti perlombaan tulis tersebut. Apalagi lomba ini sesuai dengan kemampuanku, dunia tulis-menulis. Tiba-tiba aku melamun, membayangkan nanti mendapat hadiah tersebut, terbang menuju Maroko, salah satu negara yang memiliki banyak situs sejarah.
                Teeeeett….
                Bunyi jaros menyadarkan lamunanku. Aku baru sadar bahwa aku masih di pesantren. Aku pun langsung menon-aktifkan laptop dan merapikannya kembali. Dengan cepat aku berlari untuk mengembalikan laptop ke LC (Laptop Center). Aku berharap laptopku tidak disita oleh ustadz Asep, sang penjaga LC. Tapi aku ragu, waktu sudah lewat dari pukul lima sore. Dengan tergesa-gesa aku terus berlari seperti pedagang kaki lima dikejar Satpol PP. Benar saja, sesampainya di sana laptopku diamankan dalam seminggu. Terpaksa aku pasrah.
                Malamnya, aku menghubungi orangtuaku, mengabarkan bahwa aku tertarik untuk mengikuti lomba tulis itu. Namun, ketika aku memberitahukan meraka, tidak ada tanggapan yang berarti kecuali perkataan “ikuti saja”. Tak ada komentar, motivasi atau arahan yang ku terima. Aku hanya bisa positive thinking bahwa orangtuaku sedang mengantuk, tidak bergairah untuk menerima kabarku.
                Terpaksa aku mencari informasi sendiri. Mencari buku di perpustakaan, tanya sana-sini, menggali informasi dari para ustadzku, begadang sampai larut malam, mengobarkankan jam pelajaran demi merangkai kata sampai ketiduran di mimbar masjid. Nyamuk dan baqatun pun menjadi teman setiaku setiap malam.
                Teman-temanku sampai berkata, “sok sibuk banget si Ifan”. Jadilah, aku katakan kepada mereka dengan penuh rasa percaya diri bahwa aku akan menginjakkan kaki di negeri seberang sana. Entah, mengapa aku hanya bisa menunjuk jauh, tanpa mengatakan “Maroko”, negara yang dijadikan hadiah perlombaan tersebut. Itu menunjukkan bahwa aku belum yakin, tapi dari situ aku meningkatkan usaha dan keyakinanku untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang pembual.
                Mimpi seperti itu tentu dirasa sangat mustahil sebab aku merasa diriku hanya seorang santri yang masih hijau yang berani diam-diam menggapai dunia. Dan itu benar, sampai tanggal 30 November 2011 aku belum mengumpulkan naskah. Berakhirlah impianku kali ini. Terlilitlah perasaan kesal dan kecewa di hatiku. Aku langsung menghibur diri dengan membaca buku “Filsafat Hidup K.H. Ahmad Rifa’I Arief”. Aku merinding membacanya, banyak petuah hidup yang bisa diamalkan. Sampai pada halaman tujuh puluh, aku mebaca petuah pak kyai tentang cara mendapatkan kesuksesannya, kurang lebih seperti ini: Kibarkan terus semangat belajarmu Nak, berjalan terus sampai ke batas, berlayarlah sampai ke pulau. Tak ada lautan yang tak bisa diseberangi. Tak ada daratan yang tak bisa dilalui. Bila tekad tetap terpatri, bila semangat juang tetap dimiliki, kemenangan pasti menjadi kenyataan.
                Deg, aku tersontak membaca tulisan itu, apalagi pada kalimat, “tekad yang terpatri” dan “kemenangan pasti menjadi kenyataan”. Aku tiba-tiba seperti terdoktrin oleh kalimat tersebut. Petuah ini menurutku mengisyaratkan bukti dari sebab-akibat. Petuah yang rasanya langsung menyihir kebulatan hatiku dan menyindir tekadku yang masih lemah. Ya, kemenangan adalah akibat dari adanya tekad yang kuat. Hal tersebut adalah suatu yang pasti.
                Aku langsung merenung, mengkaji kembali petuah pak kyai tersebut. Membacanya berulang-ulang sampai akhirnya aku menyimpulkan bahwa kegagalanku kali ini adalah akibat dari lemahnya tekadku. Mimpi akan hanya menjadi mimpi jika tidak direalasasikan dengan perbuatan dan usaha yang mantap. Tetapi di perenungan itu, datang setan menggoda, “itu bukan masalah tekadmu, itu karena kamu tinggal di pesantren”. Aku langsung membuang bisikan itu. Aku pikir fasilitas tidak akan mampu menghalangi tekad yang kuat. Setelah itu pun aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa jika ada kesempatan yang kedua, aku tidak akan membuangnya. Itulah tekadku. Aku pun melanjutkan bacaanku sampai akhirnya terbawa ke alam lain.
∞∞∞
                “Fan…Fan…” terdengar suara samar memanggilku.
                “Ada apaan sih?” ucapku tersadar bahwa aku ketiduran membaca buku.
                “Mudif tuh, orangtuamu menunggu di saung”
                “Ha… mudif?” tanyaku kaget, maklum uangku sudah kembang-kempis.
                “Iya, bangun makanya”
                “Iya… iya… makasih” ucapku terkantuk.
                Aku bergegas mencuci muka ke kamar mandi dan mengganti pakaianku yang masih terlihat lusuh. Sudah lama aku tidak mudif. Sebelumnya, mereka hanya mampir dari Pandeglang. Itu pun hanya memberi kabar, dus air dan uang. Setelah itu, kembali ke rumah. Berbeda dengan setahun yang lalu, mereka terlihat lebih memanjakanku. Mungkin pada umurku yang ke-16 ini mereka sudah menganggapku dewasa, tak perlu lagi manjaan yang berlebihan.
                Aku sangat mengenal watak kedua orangtuaku, ibuku keturunan Sunda dan ayahku keturunan Jawa-Madura. Maka wajar bila aku mendapatkan dua pendidikan yang berbeda, halus dan keras. Ketika aku sedang keras kepala, itulah tugas ibuku untuk melemahkan dan ketika aku berada di zona yang lemah, itulah tugas ayahku untuk memotivasi. Aku rasa diriku sedang berada di zona yang kedua. Aku butuh ayahku. Untunglah meraka datang hari ini, aku dapat menceritakan segala hal yang tertimpa padaku, khususnya kejadian kemarin.
                Sampai akhirnya aku menemui mereka dan bercerita segalanya sembari mengunyah nasi dan lalapan yang dibawa dari rumah. Di ujung cerita, ayah memberikanku selembaran berwarna yang ternyata merupakan brosur perlombaan karya tulis ilmiah tingkat SMA nasional. Aku sangat senang menerimanya. Ini membuktikan bahwa orangtuaku masih memberikan perhatian pada anaknya. “Untuk kali ini ayah siap membimbing” kata ayahku penuh wibawa. Hati yang tadi seperti ladang kering seakan tersiram oleh hujan yang menumbuhkan bunga-bunga yang penuh kesejukan.
                Aku melihat brosur itu dengan teliti, tertulis jelas, “Tema: Membangun Peradaban Indonesia”. Terdapat delapan topik yang tertera dan aku memilih topik tentang demokrasi dan nasionalisme, sesuai dengan kompetensiku di bidang ilmu sosial.
                Dimulailah kembali perjuanganku, perjuangan part 2. Kali ini aku benar-benar membulatkan tekad. Mimpi harus dikejar dengan usaha. Menurut kabar dari ayahku, lomba ini cukup ketat karena pesertanya banyak berasal dari sekolah favorit. Aku tak boleh kalah, aku harus mengharumkan nama almamaterku, Daar el Qolam 3. Kali ini pula aku tak boleh buta dengan bayang-bayang hadiah, karena aku sadar bahwa itu adalah api yang membakar mimpi.
                Melihat ketatnya iklim persaingan, aku harus cerdas membagi waktuku, tidak ada alasan untuk berdiam diri dan kalah. Aku bukan keledai bodoh yang jatuh pada lubang yang sama. Aku akan menggunakan otakku lebih keras dari biasanya serta tangan yang lebih banyak bergerak daripada biasanya.
                Setiap hari aku mencari bahan, siang dan malam ku tantang hingga aku terserang tipus karena kelelahan dan keadaan ini memungkinkanku untuk pulang. Ini adalah sesuatu yang tidak aku inginkan. Padahal seminggu ke depan memasuki masa ujian. Keadaan ini memaksaku untuk memahami pelajaran serta mencari bahan sebagai bumbu tulisan dalam keadaan yang tidak seperti biasanya. Tapi dalam momen ini, aku harus memanfaatkannya untuk bertanya lebih kepada ayahku, karena aku kira ia sangat berkompeten dalam bidang tulis-menulis. Jujur, sampai sekarang aku belum dapat mengerucutkan topik tulisan, topikku masih sangat global.
                Aku perlu diskusi dengan ayahku, karena sekarang hanya ia yang bisa ku tanya. Tapi sayang, akhir-akhir ini ditumpukkan banyak pekerjaan. Ia selalu pulang ba’da isya dan langsung istirahat, tidak enak hati aku mendekatinya. Sampai datang waktu itu, ketika aku harus kontrol ke dokter untuk kedua kalinya.
                Kali ini ayahku bersedia untuk mengantarkanku, “ini kesempatanku”, bisikku dalam hati. Memang benar, di tengah perjalanan kami mengobrol banyak tentang lomba tulisku. Hal yang paling sering ku tanyai adalah mengenai pengerucutan topik. Awalnya aku merasa bingung , karena ayah hanya menyarankanku untuk mencari bahan tulisan dari lingkungan sekitar. Tapi di tengah kebingungan itu, ayahku memberikan saran keduanya, “coba kaitkan topik dengan pelajaran di pesantren saja” gumamnya memberi nasehat. Dari situ sedikit cahaya pun masuk ke akalku.
                “Fiqih” jawabku semangat.
                “Terlalu melebar” kata ayahku menyanggah.
                “Mahfudhat” ucapku lagi.
                “Ehm… boleh. Tapi terlalu datar” sanggahnya lagi.
                Aku pun terus memutar otak, mengingat pelajaran-pelajaran di pesantren. Sampai muncul bayangan ustadz Fahmi, guru muthala’ahku.
                “Nah itu bisa, coba Ifan hubungkan cerita-cerita dalam muthala’ah dengan nilai-nilai demokrasi. Kan, banyak cerita inspiratif di sana. Mungkin itu bisa dicoba” saran ayah. Ia juga seorang santri tiga puluh tahun lalu, maka ia mafhum akan dunia kepesantrenan.
                Dari diskusi itu ceritaku dimulai. Dari sana pula aku sekarang mengerti bagaimana memperjelas sebuah tema tulisan. Berkat itu, akalku terbuka untuk menulis.
                Setelah sakit selama seminggu, aku kembali menuju pesantren untuk mengikuti ujian akhir semester. Di tengah suasana ujian yang kelabu, aku sempatkan tanganku untuk menulis, tentunya tanpa membuang ujianku. Seperti menyelam sambil minum air, aku melakukan dua pekerjaan sekaligus sampai aku lupa bahwa tiga hari lagi merupakan waktu akhir pengumpulan. Aku pun bingung mengatasi masalah ini. Aku tidak ingin kalah untuk kedua kalinya. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mengadu lewat gagang telepon.
                Lima menit aku mengadu berusaha meneguhkan jiwa, menata hati, meminta jalan keluar. Tetapi di tengah pengaduanku, ibuku memberi kabar gembira bahwa waktu pengumpulan dipending karena melihat situasi siswa SMA yang sedang mengikuti ujian akhir. Huft… akhirnya aku bisa bernapas lega, memfokuskan diri menghadapi ujian.
∞∞∞
                “Fan, gimana tulisannya? Sudah selesai?” tanya ayahku sambil menyetir mobil.
                “Belum semua, mungkin nanti di rumah, Ifan janji akan menyelesaikannya liburan kali ini” jawabku.
                “Hal yang harus diperhatikan dalam karya tulis ilmiah itu data Fan. Ifan bawa buku muthala’ahnya kan? Kalau bawa, nanti klasifikasikan judul-judulnya dengan nilai-nilai demokrasi yang Ifan tulis” tambah ayahku.
                “Bawa bukunya kok yah, maksudnya diklasifikasikan gimana?” tanyaku bingung.
                “Ya diklasifikasikan, pisahkan judul-judulnya dan kelompokkan dengan nilai-nilai demokrasi yang bersangkutan, lalu analisis”
                “Oh Ifan mengerti, nanti Ifan coba”
                “Nanti kita bahas lagi di rumah” ucap ayahku.
                Sesampainya di rumah, aku tersungkur di ruang TV sambil mendengarkan lantunan syair yang dilagukan dengan indah sembari menggerakkan jemari menekankan tombol-tombol keyboard dengan kecepatan super. Sejenak terhenti, mengerinyitkan dahi memanggil ide dari alamnya yang ghaib untuk disampaikan di layar monitor.
                Puas sekali rasanya bisa menyambungkan pikiran, jemari dan laptop dalam satu waktu sepanjang pagi dan malam. Di waktu itu, aku mengingat-ingat pelajaran muthala’ah yang diajarkan ustadz Fahmi di kelas. Kali ini aku tak boleh membuang kesempatan. Aku tak mempedulikan mataku yang memerah keletihan. Aku terus mengingat kata-kata pak kyai bahwa kemenangan adalah hasil dari keyakinan yang terpatri kuat. Walau napas mulai terlihat parau aku tak peduli, aku puas menuangkan ide-ideku.
                Tanpa sadar ibuku mendapati aku tertidur di ruang TV. Aku kaget, Ia membangunkanku dengan mengenakan mukena. Ia menyuruhku untuk tidur di kamar, tapi keyakinanku membuatku untuk memilih melanjutkan tulisan. Ibuku pun melazimkan.
                Setelah seminggu penulisan serta sedikit koreksi dari ayah, aku mengirimkan tulisan itu melalui email. Bismillahirrahmaanirrahim, ucapku. “Sekarang tinggal tawakal Fan, pengumumannya sebulan lagi, banyak doa” nasehat ayahku.
∞∞∞
                Sebulan kemudian ayah meneleponku bahwa aku berhasil masuk sepuluh besar, aku terkejut sekali apalagi aku berada di posisi pertama dalam penulisan. Wahana perjuanganku dalam memperjuangkan tulisan dalam waktu kurang lebih tiga bulan terbayar oleh pengumuman tadi. Sebagai pemula aku merasa puas. Dengan demikian, minggu depan aku akan berangkat ke Jakarta untuk mewakili Daar el Qolam 3 pada babak persentasi melawan sekolah lainnya.
                Aku merasa ciut ketika aku tahu bahwa lawan-lawanku banyak berasal dari sekolah terkenal apalagi beberapa dari mereka sudah pernah menjuari beberapa lomba tulisan ilmiah lainnya. Tapi aku akan membuktikan kepada mereka bahwa pesantren juga bisa bersaing. Benar saja, pada waktu persentasi aku berdiri gagah mempersentasikan tulisanku di hapadan para juri, yang kebanyakan bergelar profesor. Mereka terheran ketika melihat alat peragaku hanya berupa tiga buku arab klasik di tangan, tidak seperti yang lain yang membawa alat peraganya berupa penelitian ilmiah. Mereka pun banyak bertanya tentang buku muthala’ah, baik dari isinya maupun cara mempelajarinya. Dengan yakin aku menjawab semua pertanyaan itu dengan tenang.
                Hari semakin larut, raut wajah peserta pun semakin kusam oleh rasa ketegangan menunggu hasil lomba. Di tengah penantian, kami saling bertukar pengalaman dan bercanda satu sama lain untuk lebih mengakrabkan diri kami. Di tengah canda kami, para juri akhirnya datang dan mengumumkan hasil perlombaan. Kami para peserta tegang, hidung kami kembang kempi, jantung kami berdebar ketika para juri memanggil nama kami satu per satu. Betapa bahagianya aku, ketika nama almamaterku dipanggil pada urutan keempat. Para juri pun memberikan penghargaan, berupa sertifikat dan uang jutaan rupiah. Aku merasa puas karena ini adalah hasil kerja kerasku sendiri.
                Setelah pembagian hadiah selesai, kami pun duduk kembali mendengarkan seminar yang diadakan dari LIPI (Lembaga Penelitian Indonesia). Betapa kagetnya aku ketika mereka mengabarkan bahwa para finalis dalam lomba ini akan diberangkatkan ke Jepang. Aku langsung bersujud syukur di tengah suasana yang penuh dengan keilmuan tersebut.  Para peserta seminar terheran-heran padaku. Tapi aku tak mempedulikan, ini adalah puncak rasa syukur kepada Allah.
Tokyo, 18 November 2012
                Aku berada di Jepang? Negeri nun jauh dari tanah airku? Tanyaku keheranan, masih tidak percaya dengan keadaan ini. Aku dapat menghirup udara negeri sakura dengan penuh penghayatan. Bagiku ini terasa seperti mimpi.
                Inilah aku, santri penjelajah negeri sakura. Di Jepang kami menghadiri seminar tentang penelitian yang dibawakan oleh Prof. Kiyoto Takashi, Phd. Dari perfektur Nagakura. Aku dan kawan-kawan mengikutinya dengan penuh antusias. Walau persentasinya menggunakan bahasa Inggris, aku paham dengannya karena bahasa tersebut adalah bahasa ibu ketiga di pesantrenku setelah, bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
                Di ujung seminar, ia memberikan selamat kepada kami dan memberikan kepada kami tantangan untuk membuat karya tulis ilmiah dalam waktu tiga hari. Kami pun tersontak menelan ludah mendengar kabar itu. Dan lagi-lagi petuah pak kyai di bukunya terlintas di benakku, kemenangan adalah hasil dari tekad yang kuat.
                Kami semua pun membentuk kelompok sesuai perintah pak prof. dan aku satu kelompok dengan Galih dan Prasetya. Kami membuat penelitian tentang hegemoni Islam di Jepang. Tiga hari bukan waktu yang lama, kami berjuang siang dan malam sampai akhirnya dapat mengumpulkannya tepat waktu. Dan betapa senangnya, ketika pak prof. mengumumkan bahwa kami berada di posisi teratas dan berhak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Bill University di Prancis. Sontak, kami pun menangis terharu. Lagi-lagi petuah pak kyai membawaku ke tingkatan yang lebih tinggi. Aku langsung bersujud di tengah keramaian melampiaskan rasa syukur yang begitu dalam.
                Cita-cita yang selama ini aku impikan untuk melanjutkan studi ke Prancis, hari ini terkabulkan. Setelah wisuda, teman-teman seangkatan mengantarkanku ke bandara Soekarno-Hatta. Mereka bersorak-sorai dan membawa sebuah spanduk bertuliskan, “Selamat Fan, Bring Glory to France”. Syadam dan Asep yang badannya kecil melambai-lambaikan tangan. Air mata pun tak terbendung oleh rasa haru yang begitu mendalam. Terimakasih kawan, aku akan sangat merindukan kalian. “Fan,berjuang di sana ya!” teriak Zaka, teman sepiringku di pesantren.
∞∞∞
                Tombo hati ada lima perkaranya…
                Berdering suara HP menandakan ada sms masuk. Deringan itu menyadarkanku dari lamunan.
                Besok Fan, tanggal 18 Mei 2030, reunian angkatan kita. Datang ya, jangan sampai tidak hadir. Kami tunggu besok! @Zaki.
                Sms tersebut membuatku menegukkan ludah. Betapa bodohnya aku, lupa akan reuni akbar seperti ini. Tapi bagaimana, besok juga aku dipercaya menjadi tutor sejarah di Sorbonne University. Aku harus memilih. Aku berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia menghadiri reuni akbar tersebut.
                Aku langsung bergegas membuka laptop untuk membeli maskapai penerbangan ke Indonesia hari ini. “Mah, hari ini kita pulang ke Indonesia!” istriku kaget dan hanya bisa mengiyakan. Pagi itu kami sibuk menyiapkan segala halnya untuk dibawa ke Indonesia, seperti tiket, kamera, baju dan buku. Akhirnya kami terbang ke Indonesia. Di pesawat aku mengirimkan email kepada sobat karibku di Prancis bahwa aku berhalang hadir di seminar. Alhamdulillah ia mengizinkan.
                Akhirnya kami menginjakkan kaki di tanah air tercinta, Indonesia. Kami tiba pukul 21.00 WIB. Di bandara Soekarno-Hatta, perasaanku campur aduk, sulit untuk menentukan rasa apa yang paling mendominasi dalam hati, rindu, haru, letih dan lain sebagainya berputar-putar tanpa mempedulikan suasana.
                Tiba-tiba datang segerombolan wartawan mendekati kami. Aku tahu, yang mereka tuju adalah aku. Di Indonesia, akhir-akhir ini banyak tersiar namaku karena berhasil menemukan teori baru dalam dunia sejarah. Aku berhasil memutarbalikkan sejarah dunia 180 derajat. Sejarah yang dulu didominasi oleh-oleh barat berubah menjadi dominasi Islam. Aku berhasil meyakinkan dunia bahwa sejarah Islam adalah sejarah yang paling berpengaruh di dunia.
                Entah dari mana mereka tahu bahwa aku kembali ke Indonesia hari ini. Tanpa memikirkan itu, aku dan keluargaku berjalan di tengah kerumunan wartawan yang sudah stand by  di gerbang arrival sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Di tengah kerumunan tersebut, tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari kerumunan. Otomatis istri dan anak-anakku tertarik olehku. Ternyata dia adalah Adam, sobat karibku di pesantren.
                “Cepat sini, kerumunan ini sungguh menyebalkan. Janjimu kepadaku sudah terlaksana untuk memutarbalikkan alur sejarah” ucapnya sambil bercanda. Aku dan keluargaku tersenyum mendengarnya dan mengangguk-angguk serempak.
                Besoknya, aku sangat terkejut melihat pemandangan yang ku lihat. Semua kawanku berkumpul menjadi satu di pesantren kami, Daar el Qolam 3. Mereka semua telah berubah, ada yang menjadi pedagang, pebisnis, dokter, dosen, kyai, da’i, pengusaha, polisi dan lainnya. Ketika aku datang, mereka semua menyapaku dengan hangat. Dengan guyonan kami bercanda dalam keharuan.
                Siang hari, kami sowan ke kyai Syahid dan berziarah ke makam pak Kyai Ahmad Rifa’I Arief. Di sana aku hanya bisa menangis haru. Mengingat betapa dahsyatnya petuah pak kyai dalam perjalanan hidupku. Aku memeluk makamnya lalu mendoakannya dengan penuh sendu. “Terimakasih pak kyai, berkatmu, kaki ini, tangan ini, mata ini dapat menyentuh dan menyeberangi lautan serta daratan yang dulu kau katakan tak mungkin tidak bisa dilalui”. Berkatnya aku dapat mengerti apa itu makna dari keyakinan. Semakin dewasa aku dapat memahami petuahmu, bahwa kemenangan adalah hasil dari keyakinan yang terpatri kuat dalam sanubari. Terimakasih pesantrenku.

∞∞∞

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: