Ditulis Oleh: ARI SUJIAR
Aku
lepaskan pandanganku diruangan ini. Bebas mengembara menjelajahi seisi ruangan
disetiap sudutnya. Menelisik setiap jengkal kenikmatan dan fasilitas yang ada.
Teriknya matahari diluar tak mempengaruhi ruangan ini karena adanya AC yang dulu sangat kuidamkan. Empuknya
kursi busa berlapis kulit original yang kududuki ini menemani keseharianku
mebekerja di tempat ini. Tempat yang bahkan dulu aku tak sempat
membayangkannya. Jangankkan untuk bekerja disini dan memikirkan rakyat
negaraku, untuk mengurusi diriku saja pun sudah lebih dari cukup membuatku
pusing.
“excuse me, sir!”, terdengar suara staff
khususku mengetuk pintu seraya meminta izin untuk masuk. Menyadarkan pikiranku
dari lamunan panjangnya.
“yes, come in please!”, kataku seraya
menyuruhnya masuk.
“sir, here is the required documents for our
meeting with Indonesia. We are going to meet them in Jakarta next week.”
Katanya dengan nada yang sangat diplomatis.
“ok, I`ll obsrve.” Timpalku menanggapi.
Diapun keluar dari ruanganku. Meninggalkank sendirian bersama lamunanku.
Aku buka
berkas-berkas dari staaf ahliku. Membaca dengan seksama semua data yang
terlampir disana dan barulah aku tahu ternyata minggu depan aku akan
mengunjungi tanah kelahiranku. Indonesia.
Ya,
beginilah pekerjaanku sebagai seorang kepala negara. Aku harus bolak-balik ke
negeri orang. Bertemu dengan para penguasa yang bersandiwara di tengah liciknya
panggung perpolitikan. Memasang wajah manis sesuai dengan lakon mereka
masing-masing. Menelusup dibalik agungnya sebuah agungnya otorisasi kepemimpinan.
Setipa hari ku bergumul dengan kotornya penghuni-penghuni singgasana
kemunafikan. Serakah dan tamak berbungkus celotehan indah dari bibir tebal
mereka sudah akrab di gendang telingaku. Kadang aku juga termakan rayuan setan
untuk mengikuti jejak mereka, tapi sekuat tenaga ku palingkan niat. Tapi tak
jarang juga nafsuku memberontak membunuh nuraniku dan akhirnya kalah dalam
pergulatan batin. Alhasil, akupun menikmati indahnya kenikmatan semu. Tapi apa
daya, inilah konsekuensi pekerjaanku.
∞∞∞
Bandara
Soekarno-Hatta menyambutku dengan nuansa Indonesia yang khas. Dengan kawalan
pasukan khusus kepresidenan yang super ketat, aku berjalan menyusuri lorong
khusus tamu negara. Terlihat di ujung sanasebuah mobil hitam nan glamor
menunggu kedatanganku. Sekilas ku memandang berkeliling. Ah, ternyata negeriku
sudah jauh lebih baik dibanding ketika dulu aku meninggalkannya 20 tahun yang
lalu. Walaupun aku sudah menjadi warga negara Amerika Serikat, tapi aku tetap
mengikuti pemberitaan mengenai sang bangsa garuda. Samar ku mendengar cerita di
media tentang kebobrokan tanah kelahiranku ini, tapi ternyata semua itu tak
separah dengan apa yang mereka katakan tentangnya.
Mobil
Royal-Saloon yang kunaiki ini membelah jalanan kota. Kesan macet yang dulu
sempat melekat dengan kota ini teryata sudah sirna. Ya, memang hebat ibukota
negaraku ini. Dulu ia begitu terhina. Sungai kotor dan penuh sampah, jalanan
rusak penuh macet serta masalah-masalah lain yang seolah mustahil untuk bisa
diatasi sampai-sampai para ahli menganjurkan untuk memindahkan ibukota ini.
Ternyata wacana itu memang menjadi solusi yang tepat. Hebat pemerintahan
Indonesia sekarang ini. Mereka mengikuti sistem yang dianut oleh Negeri Paman
Sam, membagi ibukota negara menjadi dua distrik pemerintahan. Pusat ekonomi
dipindahkan ke Palangkaraya, tetapi pusat pemerintahan tetap di Jakarta.
Alhasil, lebih dari setengah penduduk jakarta berbondong-bondong hijrah ke
Palangkaraya meninggalkan tanah Betawi. Pada akhirnya, Jakarta pun
berangsur-angsur bebas dari segala masalah yang menyertainya.
Memasuki
pusat kota, Monas pun menampakkan kewibawaannya. Masih sama seperti dulu. Tetap
anggun dan berwibawa. Teringat masa-masa kecilku dulu ketika aku merengek untuk
melihatnya kepada orangtuaku yang ketika itu terpenjara keterbatasannya. Ah,
indah sekali.
Tak berapa
lama berselang, Senayan pun menunjukkan keangkuhannya. Tak tahu lagi aku
bagaimana keadannya sekarang. Tapi melihat kemajuan Indonesia seperti sekarang
ini, yakinlah aku bahwa yang ada di dalamnya pastilah para abdi masyarakat yang
profesional.
Hampir
satu jam kemudian, mobilku pun berhenti di depan istana kepresidenan. Banyak
sekali orang disana. Dari mulai paparazi sampai para petinggi negeri. Aku
keluar dari mobilku dan langsung disambut oleh presiden Indonesia. Tapi tunggu,
rasanya aku kenal secara pribadi siapa presiden ini.ah entahlah, mungkin aku
salah. Lagipula aku disini untuk mengurusi kepentingan rakyatku, bukan untuk
meladeni daya khayalku. Segera setelah acara penyambutan itu, kami segera masuk
ke ruang rapat kenegaraan membicarakan tentang kerja sama ekonomi antara RI dan
AS.
Rapat pun
usai, terjalinlah kerjasama antara negara kami. Lelah setelah seharian aku
membicarakan urusan rakyat negaraku, mataku pun terlelap dalam naungan kenangan
masa kecil yang penuh dengan perjuangan nyata.
∞∞∞
Esoknya,
aku pergi ke sebuah stasiun televisi memenuhi undangan wawancara tentang diriku
dan perjuanganku. Kabar tentang kedatanganku memang menjadi headline news di
negara ini. Rasa heran terus menari-nari membayangi pikiran mereka. Keheranan
yang besar atas nasibku yang menurut mereka sangat beruntung ini. Keheranan
yang datang bersama sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar yang sedang memayungi
bangsa ini, bagaimana aku yang seorang anak kampung dari pedalaman Malingping ini
bisa menjadi seorang penguasa negeri adidaya? Jangankan mereka, aku sendiri pun
heran dengan nasibku ini.
“ok Mister
Prahasto. Welcome back to Indonesia. How are you?”, sapa pembawa acara dengan ramah.
“kabar
saya baik, tidak usahlah memakai Bahasa Inggris, walaupun saya presiden
Amerika, tapi tetap saja saya ini wong Indonesia kok mbak!”, ucapku disusul
tawa para penonton.
“baiklah
bapak presiden, rakyat Indonesia sekarang sedang dilanda gelombang rasa
penasaran karena ada putra daerah asli Indonesia yang melanglang buana ke luar
negeri hingga dia berhasil meraih kedudukan terhormat disana. Biskah anda
ceritakan bagaimana itu bisa terjadi?” , tanyanya santai tapi penuh rasa ingin
tahu.
Mendengar
pertanyaan itu, memoriku pun menjelajah menyusuri jejak-jejak perjuangan masa
laluku. Menapak tilas kisah keberuntunganku.
∞∞∞
Semuanya
berawal dari desa kecil di pedalaman Malingping. Namaku Tri Prahasto setiawan.
Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Tak ada yang istimewa dari diriku
ataupun keluargaku. Masa kecilku dihabiskan untuk membantu kedua orangtuaku.
Ayahku adalah seorang kuli tani miskin yang diupah dengan bayaran tak seberapa
atas kerja kerasnya untuk menggarap ladang milik orang lain. Sementara ibuku
hanya seorang ibu rumah tangga yang membantu meringankan beban ayahku dengan
menjual nasi uduk di pagi hari.
Setiap
harinya, setelah pulang sekolah, aku pergi keladang tempat ayahku bekerja.
Membawakan bekal
Selepas
isya, aku kembali ke rumah dari tempatku mengaji. Di bawah temaram lmpu pijar
kuning 5 watt, aku membuka kembali pelajaran yang telah aku dapatkan di sekolah
tadi. Berusaha meniti titian ilmu dalam otakku. Berharap aku bisa mengingat
mereka semua. Atau setidaknya ada satu dua hurup yang bersemayam dalam
pikiranku.
Pukul 3
pagi, biasanya aku terbangun dari tidurku. Melangkah keluar rumah menuju kamar
mandi. Rumahku tidak seperti rumah kebanyakan orang yang memiliki kamar mandi
di dalamnya karena rumahku hanyalah seonggok gubuk rapuh yang dimakan usia.
Berdinding bilik bambu yang menghitam menahan renta. Beratap genteng kusam yang
penuh dengan jaring laba-laba, seolah mereka semua menjadi bagian dari
keluargaku. Berlantai semen kasar dengan hiasan banyak lubang disana dan
disini. Tapi, karena adanya kehangatan keluarga, aku pun sudah cukup betah
tinggal di dalamnya walaupun terkadang aku juga merasa iri dengan rumah orang
lain yang terlihat jauh lebih nyaman untuk dihuni. Kucuci mukaku disana, lalu
kupergi ke dapur. Terlihat disana ada seorang wanita yang sedang asyik dengan
pekerjaannya. Memasak nasi uduk dan meracik bumbu-bumbu sebagai penyedap nasi
uduknya. Itu memanglah sudah menjadi rutinitasnya setipa hari. Dari raut
mukanya, terlihat jelas beratnya beban yang dipikul oleh ibuku ini. Dia harus
sudah bangun dan bekerja di saat semua orang masih terbuai dalam mimpinya,
bahkan aku rasa matahari pun masih terdekap dalam selimut malamnya. Ditambah
lagi ibuku harus mengurusi kakak pertamaku yang sedari kecil mengalami gangguan
mental. Terkadang batinku memberontak, kenapa Allah memberikan cobaan yang
berat kepada keluargaku yang miskin ini? Tapi seiring dengan berjalannya waktu,
aku pun tahu bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan
hamba-Nya. Begitu kata ustadzku di pengajian.
Di hari
Minggu, aku sring pergi ke rumah temanku untuk menonton TV karena di rumahku
tidak ada sarana hiburan selain radio tua yang sudah rusak tiga bulan yang
lalu. Walhasil, aku harus menumpang di rumah orang. Aku menyakskan beragam
pemberitaan tentang kebobrokan negeri ini. Dari mulai kemiskinan, kelaparan,
pengangguran sampai kasus korupsi pejabat. Jarang sekali aku menemukan pemberitaan
yang bagus dan enak untuk didengar oleh telinga. Aku heran, pernahkah mereka
berpikir untuk membangga-banggakan negeri mereka sendiri, negara yang telah
memberikan mereka tempat untuk menyambung hidup. Negara yang telah memberikan
lahan untuk mereka tinggal. Negara yang dengan senang hati memberikan mereka
kehidupan. Lantas bagaimana bisa bangsa ini dihormati oleh bangsa lain jika
penduduknya saja tidak bisa menghargai eksistensi negaranya? Ah, rasanya
terlalu dini aku memikirkan masalah ini. Biarlah mereka yang berdasi yang
memikirkannya.
Setelah
lulus SMP, aku sempat ragu untuk melanjutkan pendidikanku ke SMA karena melihat
kondisi ekonomi keluarga serba kekurangan. Tapi orangtuaku bilang, aku harus
tetap sekolah dan mereka memintaku untuk masuk pesantren. Wow? Pondok pesantren. Tak pernah terbesit dalam bayanganku untuk
masuk pesantren sebelumnya. Tapi tak apalah, hitung-hitung untuk menambah
pengalaman. Begitu hatiku membatin ketika itu. Lalu dengan tekad yang kuat, aku
pun berangkat ke Daar el-Qolam, tempat yang aku pilih untuk menimba ilmu.
Dengan meminjam mobil Pick-up milik majikan ayahku, akupun berangkat kesana.
Pondok
Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza, itulah pondok tempatku nanti
belajar. Sekilas ku melihat, tampaknya pondok ini masih dalam tahap
pembangunan. Terlihat gundukan tanah disna-sini. Gedung sekolah yang masih
belum rampung dan bangunan masjid yang masih tak beratap membuatku semakin
yakin bahwa pondok ini memang masih meniti eksistensinya. Aku pun melangkah
menuju kamar asramaku. Menurunkan barang-barangku dari mobil pick-up pinjaman
ini. Lemari bekas dan kasur lapuk ini akan menjadi teman setiaku selama 3 tahun
kedepan. Setelah itu, orangtuaku pergi pulang. Rasa sedih menggelayut di
hatiku. Membuat mataku ingin menteskan air matanya. Tapi karena gengsi, ku
tahan sekuat tenaga rasa itu.
Tahun
pertamaku disini, kurasakan dengan kesendirian. Walaupun disini banyak
teman-teman sebayaku, tapi tetap saja mereka bukan keluargaku. Tapi lambat laun
aku pun bisa menjadikan mereka sabagai pelepur lara atas keluargaku. Tak hanya
itu saja masalah yang kualami di tahun pertamaku. Ada juga ada rasa putus asa
ketika otakku tak sanggup menerima materi yang sebagian besar berbahasa arab.
Ingin rasanya aku menangis karena itu semua. Selain itu, batinku pun
memberontak, menyulut rasa bosanku karena peraturan-peraturan di pondok ini
yang membuatku seolah terkekang dalam kekangan yang mengusik hati. Aku merasa
seperti seekor tikus yang terguncang diguncangkan oleh pemiliknya. Setiap hari
aku berlari kesana dan kemari, mengantri nasi dan terkomando dengan komando
jarosh. Ingin rasanya aku keluar dari pondok ini, tapi mengingat wajah kedua
orangtuaku, kuurungkan niatku itu.
Di tahun
kedua, aku sudah mulai mengerti apa itu arti sebuah kebersamaan. Aku sudah
mulai bisa memfamilikan sahabat-sahabatku. Mungkin, karena perjalanan waktu
membuat rasa ukhuwahku timbul. Mengingat bagaimana kebersamaan kami disini,
makan kami selalu bersama di satu nampan. Terkesan jorok memang, tapi itulah
yang membuat makanan yang kami makan terasa nikmat walaupun itu hanya nasi
kusam ditemani potongan tempe kuning dengan hiasan kerupuk oranye. Teringat
juga ketika aku belajar bersama teman-temanku, saling mengajari dan diajari.
Apalagi ketika waktu ujian tiba, berbondong-bondong aku dan teman-temanku pergi
belajar bersama. Aku yakin, diluar sana pastilah aku tidak akan memikirkan
ujian. Belum lagi ketika aku harus berada di dalam kamar mandi bersama temanku
yang lain. Bukan karena ingin melakukan mandi bersama, tapi kerena aku harus
berpacu dengan waktu agar tidak mendapat hukuman dari pengurus kerena
keterlambatanku .Ya, itulah yang membuat rasa persaudaraanku timbul. Tapi tak
jarang aku juga mengerutu karena ada diantara kami yang meneriakkan loyalitas
dan solidaritas semu. Berujar kompak tapi bertingkah layaknya perompak. Berucap
satu tapi lebih sering menjadi benalu. Seolah-olah dialah orang yang maha
sempurna. Mengajak ma’ruf tapi dia sendiri sendiri berorientasi munkar. Mencari
pandangan baik dari ustadz-ustadz kami. Munafik, itulah satu kata yang bisa
mewakili tabiat hidupnya. Tak pernah menyadari salahnya. Berkelit dari
kesalahannya dengan berjuta alasan. Ah,aneh
memang. Tapi inilah dunia, tak akan pernah lepas dari orang-orang munafik.
Di tahun
terakhirku, aku semakin memahami makna dari sebuah perjuangan. Tahun ini
menjadi tahun dimana aku dituntut untuk berjuang lebih keras. Banyak sekali
ujian yang harus aku hadapi sebulum aku bisa dikatakan lulus dari institusi
ini. Baik itu ujian mental maupun ujian pikiran. Semuanya harus kulewati dengan
semangat yang besar. Di tahun ini pun aku sebagai penghuni kelas terakhir
sekaligus tertua harus menjadi pengurus dan pengayom bagi adik-adikku yang
lain. Sebenernya aku ragu apakah aku bisa atau tidak menjalaninya. Tapi karena
ini adalah sunnah pondok, jadi mau tidak mau aku harus mengikutinya. Berat
memang mengurusi mereka. Mengutamakan kepentingan orang lain dibanding
kepentingan sendiri. Aku bukan kakak mereka, mereka pun bukan adik-adikku. Aku
tidak dibyar atas semua ini, mereka pun tidak memberiku bayaran. Tapi, aku
dituntut ikhlas untuk mengurusi mereka semua. Ketika itu, aku diangkat menjadi
pengurus bagian bahasa, itu berarti aku harus menegakkan disiplin berbahasa
resmi di pondok ini. Jangan kira bahasa resi di pondok ini adalah bahasa
indonesia yang baku dan benar. Tapi bahasa resmi di pondok ini berarti bahasa
arab dan bahasa inggris. Bah, bagaimana pula aku yang asli sunda ini harus
mengurusi bahasa asing? Jangankan berceloteh kata inggris ataupun arab, mengeja
deretan huruf indonesia pun terkadang aku masih terbata kaku. Tapi tak ada gunanya
aku terus mengeluh dengan keadaanku. Ini adalah amanah, amanah berarti tanggung
jawab, dan tanggung jawab harus diemban dengan baik. Di tahun ini juga aku
harus menghadapi ujian nasional yang bagi sebagian besar siswa menganggapnya
sebagai seorang malaikat maut yang menentukan nasib mereka kelak. Bagaimana
tidak mereka beranggapan seperti itu? Masa iya setelah capek-capek belajar tiga
tahun, nasib kelulusan mereka hanya ditentukan dengan 6 buah lembar kertas
ujian yang harus mereka kerjakan dalam kurun empat hari. Apalagi UN tahun ini,
pemerintah menerapkan sistem baru. 20 paket soal yang berbeda ditambah dengan
adanya embel-embel barcode yang membuat pusing. Tapi yang menjadi ujian
terberatku ketika itu adalah aku harus merelakkan ayahku dipanggil oleh
emiliknya. Ya, ayahku harus pergi meninggalkanku di saat sebentar lagi aku akan
mengakhiri masa belajarku di pesantren ini. Peristiwa ini menjadi pukulan yang
sangat menyakitkan bagiku. Tapi aku tidak boleh menyerah dan kalah. Aku harus
ikhlas. Itu yang sering dikatakan oleh kyaiku.
Disaat
teman-temanku sedang sibuk membicarakan rencana kuliahnya, aku harus terdiam
membisu karena aku tak tahu harus melanjutkan kemana. Bukan karena aku tidak
mau, tapi karena keterbatasan eknomilah yang
menjadi pengekang langkahku. Tapi untunglah, disaat seperti itu,
datanglah tawaran untuk mendapatkan beasiswa di UIN. Syaratnya aku harus
menghafal 8 juz al-Qur`an. Aku rasa syaratnya tak begitu sulit, toh aku juga
diwajibkan unuk menghafal al-Qur`an disini. Lalu, dengan langkah yang mantap,
aku mendaftarkan diriku untuk menjadi salah satu mahasiswa program beasiswa
disana. Alhamdulillah aku diterima.
Aku
menjalani masa belajarku di UIN tanpa rintangan yang berarti. 4 tahun berlalu,
kutamatkan masa kuliahku disana. Tapi ternyata Allah memberikanku sesuatu yang
lebih indah. Aku direkomendasikan menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa
di McGill University Canada. UIN memamng menjalin kerjasama pendidikan dengan
universitas itu. Dan ternyata akulah dipilih menjadi salah satu mahasiswa yang
diberi kesempatan untuk belajar disana. Pendidikan di negara itu pun kutamatkan
dengan lancar. Lalu pada tahun 2020, aku kembali ke Indonesia dan menjadi dosen
di almamaterku itu. Aku mengajar hukum internasional disana, karena memang itulah
yang menjadi keahlianku ketika di Canada. 2 tahun setelah itu, aku melanjutkan
studi S3 ku Yale University Amerika Serikat. Karena pemikiranku yang kata
mereka gemilang, aku pun diminta untuk menjadi dosen di univeritas itu. 10
tahun kemudian, aku menanggalkan kewarganegaraan Indonesiaku dan beralih
menjadi warga negara Amerika. Hal ini aku ambil bukan karena aku bosan dan malu
menjadi warga Indonesia, tapi ini kulakukan karena aku ingin mencoba hal yang
baru. Terdengar serakah memang, tapi itulah manusia. Pada dasarnya tabiat
mereka adalah tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Jadi
wajar sajalah kalau aku merasa perlu mengembangkan potensiku dibidangyang lain.
Aku
memutuskan untuk berkecimpung di bidang perpolitikan Amerika, dan kewarganegaraan
Amerika adalah sebuah hal yang mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Aku mengawali karir
politikku dengan menjadi anggota Partai Republik. Di Amerika memang hanya ada 2
partai politik, Republik dan Demokrat. 5 tahun berkiprah di paratai itu, dengan
mengerahkan segala kemampuan dan loyalitasku, aku pun terpilih menjadi senator
negara bagian California. 2 tahun setelah itu, senat parlemen memilihku untuk maju sebagai calon presiden dari partai Republik 2044 mendatang. Dan
akhirnya, aku bisa menduduki singgasana tertinggi kedaulatan negara adidaya itu
di Gedung Putih. Kalau ditanya kenapa aku bisa seperti ini, aku juga tidak
tahu. Tapi waktu di Daar el-Qolam dulu, teman-temanku bilang kalau aku ini
mirip Obama. Ya, Barack Husein Obama yang pada saat itu menjadi presiden
Amerika yang ke-44. Mereka memanggilku Obemz, sebutan yang keren menurutku.
Mungkin perkataan teman-temanku itu menjadi do`a hingga aku bisa mengikuti
jejak Obama. Jika Obama adalah presiden kulit hitam pertama di negara itu, maka
aku boleh berbangga karena aku adalah presiden muslim pertama disana.
“Berbicara
tentang Daar el-Qolam, tampaknya pesantren itu menjadi pabrikan para pemimpin
masa kini. Redaksi kami mencatat, banyak sekali alumni pondok itu yang
menempati posisi penting di negara ini. Sebut saja bapak Zulbahri si ketua PSSI
yang berduet dengan bapak Menpora Naufal Dzaky sehingga membawa Timnas
Indonesia menjadi semifinalis Piala Dunia 2044 baru-baru ini. Ada juga KH. Aep
Puadus Shofwan yang menjadi Menteri Agama. Selain itu Panglima TNI RI kita juga
bapak Syadam Husein juga berasal dari pondok itu. Bahkan Presiden RI saat ini,
bapak DR. M. Hasan juga jebolan dari sekolah itu. Memangnya ada apa dengan Daar
el-Qolam?”, tanyanya lagi dengan penasaran. Mendengar pertanyaan itu, sontak
aku pun kaget. Ternayata teman-temanku yang lain juga berhasil meraih
kesuksesannya.
“Daar
el-Qolam memang menjadikan santrinya untuk menjadi pemimpin. ‘Siap dipimpin dan
siap memimpin’. Itulah salah satu semboyannya. Seperti yang saya katakan tadi,
disana kami diajarkan untuk menjadi pemimpin dengan mengurusi dan mengayomi
adik-adik kelas kami. Jadi, sejak itulah tertanam jiwa kepemimpinan di hati
kami semua.” Tuturku kepada para penonton disana.
∞∞∞
30 menit
berlalu, acara talkshow pun selesai. Di mobil, aku masih memikirkan
teman-temanku dulu. Tak kusangka ternyata mereka juga mendapat nasib mujur
sepert diriku. Pantas saja, kemarin rasanya aku mengenal siapa presiden negeri
ini. Ternya dia si Hasan yang dulunya bercita-cita membuka tambak ikan di Tasik.
Si Aep yang dulu kerjaannya cuma ngori di masjid, ternyata bisa juga menjadi
seorang Menteri Agama. Si Syadam yang tampangnya memang sangar itu ternyata
menjadi pimpinan di lembaga tertinggi pertahanan negara ini. Si Naufal yang
dulu kerjaannya Cuma ngrusin bola-bola ternyata jadi Menpora. Oantas saja di
Piala Dunia 2044 kemarin, Indonesia basuk ke babak semifinal. Pantas juga
keadaan negara ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena ternyata yang
mengendalikan pemerintahan negara adalah para intelektual yang berakhlak
jebolan Daar el-Qolam. Ah, kangen
rasanya aku dengan mereka semua.
Besok lusa
aku harus pulang kembali ke Amerika untuk mengurusi rakyatku lagi. Maka sebelum
aku pulang, aku harus bisa bertemu dengan mereka semua. Aku pun meminta asisten
pribadiku untuk menghubungi pihak Istana Negara untuk mengadakan pertemuan
dengan Presiden M. Hasan. Mereka pun menyetujuinya. Maka esoknya, aku berangkat
dari hotel temp tku menginap menuju Istana Kepresidenan. Di ruang jamuan khusus
tamu negara itu, kumulai pembicaraan.
“Bapak
Hasan, pertemuan kita kali ini bukan untuk membicarakan tentang negara kita.
Melainkan untuk membicarak masalah kita pribadi.” Mukanya langsung terlihat
heran.
“masalah
apa yang anda maksudkan?”
“jadi,
saya ingin menanyakan apakah anda berhasil membuka tambak ikan di wilayah
Tasik?”, tanyaku lagi. Terlihat wajahnya semakin heran.
“Darimana
anda tahu tentang itu?”
“tentulah
saya tahu karena saya adalah teman SMA anda ketika di Daar el-Qolam, masih
ingat?”, tanyaku lagi. Terlihatlah kini wajahnya yang sudah tidak bingung lagi.
Dengan tersenyum, dia menjawab pertanyaanku.
“oh, ente Obemz? Yang dulu ering jadi cencengan anak satu angkatan kan?”
“nah, itu
ente masih inget ane. Hebat yah ente sekarang, dulunya pengen jadi raja ikan, eh
taunya malah jadi presiden.”
“ah, ente malah lebih hebat dari ane, ane
Cuma jadi presiden Indonesia, nah ente
jadi presiden Amerika.”
“hahaha..
bisa aja ente. Eh, kita ke pondok yuk.
Sekalian silaturahim sama ustadz-ustadz disana. Ajak juga si Aep, Naufal,
Syadam, sama Zulbahri! Sekarang jadi bawahan
ente semua kan mereka tuh.”
“boleh lah, mumpung hari ini ane gak ada acara kenegaraan.”
Tak
menunggu lama, setelah menguhubungi teman-teman kami yang lain, kami pun
berangkat ke Daar el-Qolam. Sesampainya disana, ternyata mereka semua telah
tida lebih dahulu. Pangling rasanya ketika melihat mereka yang dulunya dekil,
kurus dan rebek, kini menjadi pria
dewasa berdasi yang mempunyai peran penting di negeri ini.
Keadaan
Daar el-Qolam ternya sudah berubah 180 derajat. Jauh lebih baik dari 32 tahun
yang lalu ketika aku meninggalkannya. Semuanya jauh lebih tertata. Pohon-pohon
yang dulunya masih kecil, kini sudah menjadi rimbun. Kamipun tenggelam dalam
kenangan masa lalu. Kalau bukan karena pondok, mungkin tak bisa aku menjadi
seperti ini.
∞∞∞

0 komentar:
Post a Comment