Saturday, August 10, 2013

Aku Mirip Obama


Ditulis Oleh: ARI SUJIAR

Aku lepaskan pandanganku diruangan ini. Bebas mengembara menjelajahi seisi ruangan disetiap sudutnya. Menelisik setiap jengkal kenikmatan dan fasilitas yang ada. Teriknya matahari diluar tak mempengaruhi ruangan ini karena adanya AC yang dulu sangat kuidamkan. Empuknya kursi busa berlapis kulit original yang kududuki ini menemani keseharianku mebekerja di tempat ini. Tempat yang bahkan dulu aku tak sempat membayangkannya. Jangankkan untuk bekerja disini dan memikirkan rakyat negaraku, untuk mengurusi diriku saja pun sudah lebih dari cukup membuatku pusing.
excuse me, sir!”, terdengar suara staff khususku mengetuk pintu seraya meminta izin untuk masuk. Menyadarkan pikiranku dari lamunan panjangnya.
yes, come in please!”, kataku seraya menyuruhnya masuk.
sir, here is the required documents for our meeting with Indonesia. We are going to meet them in Jakarta next week.” Katanya dengan nada yang sangat diplomatis.
ok, I`ll obsrve.” Timpalku menanggapi. Diapun keluar dari ruanganku. Meninggalkank sendirian bersama lamunanku.
Aku buka berkas-berkas dari staaf ahliku. Membaca dengan seksama semua data yang terlampir disana dan barulah aku tahu ternyata minggu depan aku akan mengunjungi tanah kelahiranku. Indonesia.
Ya, beginilah pekerjaanku sebagai seorang kepala negara. Aku harus bolak-balik ke negeri orang. Bertemu dengan para penguasa yang bersandiwara di tengah liciknya panggung perpolitikan. Memasang wajah manis sesuai dengan lakon mereka masing-masing. Menelusup dibalik agungnya sebuah agungnya otorisasi kepemimpinan. Setipa hari ku bergumul dengan kotornya penghuni-penghuni singgasana kemunafikan. Serakah dan tamak berbungkus celotehan indah dari bibir tebal mereka sudah akrab di gendang telingaku. Kadang aku juga termakan rayuan setan untuk mengikuti jejak mereka, tapi sekuat tenaga ku palingkan niat. Tapi tak jarang juga nafsuku memberontak membunuh nuraniku dan akhirnya kalah dalam pergulatan batin. Alhasil, akupun menikmati indahnya kenikmatan semu. Tapi apa daya, inilah konsekuensi pekerjaanku.
∞∞∞
Bandara Soekarno-Hatta menyambutku dengan nuansa Indonesia yang khas. Dengan kawalan pasukan khusus kepresidenan yang super ketat, aku berjalan menyusuri lorong khusus tamu negara. Terlihat di ujung sanasebuah mobil hitam nan glamor menunggu kedatanganku. Sekilas ku memandang berkeliling. Ah, ternyata negeriku sudah jauh lebih baik dibanding ketika dulu aku meninggalkannya 20 tahun yang lalu. Walaupun aku sudah menjadi warga negara Amerika Serikat, tapi aku tetap mengikuti pemberitaan mengenai sang bangsa garuda. Samar ku mendengar cerita di media tentang kebobrokan tanah kelahiranku ini, tapi ternyata semua itu tak separah dengan apa yang mereka katakan tentangnya.
Mobil Royal-Saloon yang kunaiki ini membelah jalanan kota. Kesan macet yang dulu sempat melekat dengan kota ini teryata sudah sirna. Ya, memang hebat ibukota negaraku ini. Dulu ia begitu terhina. Sungai kotor dan penuh sampah, jalanan rusak penuh macet serta masalah-masalah lain yang seolah mustahil untuk bisa diatasi sampai-sampai para ahli menganjurkan untuk memindahkan ibukota ini. Ternyata wacana itu memang menjadi solusi yang tepat. Hebat pemerintahan Indonesia sekarang ini. Mereka mengikuti sistem yang dianut oleh Negeri Paman Sam, membagi ibukota negara menjadi dua distrik pemerintahan. Pusat ekonomi dipindahkan ke Palangkaraya, tetapi pusat pemerintahan tetap di Jakarta. Alhasil, lebih dari setengah penduduk jakarta berbondong-bondong hijrah ke Palangkaraya meninggalkan tanah Betawi. Pada akhirnya, Jakarta pun berangsur-angsur bebas dari segala masalah yang menyertainya.
Memasuki pusat kota, Monas pun menampakkan kewibawaannya. Masih sama seperti dulu. Tetap anggun dan berwibawa. Teringat masa-masa kecilku dulu ketika aku merengek untuk melihatnya kepada orangtuaku yang ketika itu terpenjara keterbatasannya. Ah, indah sekali.
Tak berapa lama berselang, Senayan pun menunjukkan keangkuhannya. Tak tahu lagi aku bagaimana keadannya sekarang. Tapi melihat kemajuan Indonesia seperti sekarang ini, yakinlah aku bahwa yang ada di dalamnya pastilah para abdi masyarakat yang profesional.
Hampir satu jam kemudian, mobilku pun berhenti di depan istana kepresidenan. Banyak sekali orang disana. Dari mulai paparazi sampai para petinggi negeri. Aku keluar dari mobilku dan langsung disambut oleh presiden Indonesia. Tapi tunggu, rasanya aku kenal secara pribadi siapa presiden ini.ah entahlah, mungkin aku salah. Lagipula aku disini untuk mengurusi kepentingan rakyatku, bukan untuk meladeni daya khayalku. Segera setelah acara penyambutan itu, kami segera masuk ke ruang rapat kenegaraan membicarakan tentang kerja sama ekonomi antara RI dan AS.
Rapat pun usai, terjalinlah kerjasama antara negara kami. Lelah setelah seharian aku membicarakan urusan rakyat negaraku, mataku pun terlelap dalam naungan kenangan masa kecil yang penuh dengan perjuangan nyata.
∞∞∞
Esoknya, aku pergi ke sebuah stasiun televisi memenuhi undangan wawancara tentang diriku dan perjuanganku. Kabar tentang kedatanganku memang menjadi headline news di negara ini. Rasa heran terus menari-nari membayangi pikiran mereka. Keheranan yang besar atas nasibku yang menurut mereka sangat beruntung ini. Keheranan yang datang bersama sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar yang sedang memayungi bangsa ini, bagaimana aku yang seorang anak kampung dari pedalaman Malingping ini bisa menjadi seorang penguasa negeri adidaya? Jangankan mereka, aku sendiri pun heran dengan nasibku ini.
“ok Mister Prahasto. Welcome back to Indonesia. How are you?”,  sapa pembawa acara dengan ramah.
“kabar saya baik, tidak usahlah memakai Bahasa Inggris, walaupun saya presiden Amerika, tapi tetap saja saya ini wong Indonesia kok mbak!”,  ucapku disusul tawa para penonton.
“baiklah bapak presiden, rakyat Indonesia sekarang sedang dilanda gelombang rasa penasaran karena ada putra daerah asli Indonesia yang melanglang buana ke luar negeri hingga dia berhasil meraih kedudukan terhormat disana. Biskah anda ceritakan bagaimana itu bisa terjadi?” , tanyanya santai tapi penuh rasa ingin tahu.
Mendengar pertanyaan itu, memoriku pun menjelajah menyusuri jejak-jejak perjuangan masa laluku. Menapak tilas kisah keberuntunganku.
∞∞∞
Semuanya berawal dari desa kecil di pedalaman Malingping. Namaku Tri Prahasto setiawan. Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Tak ada yang istimewa dari diriku ataupun keluargaku. Masa kecilku dihabiskan untuk membantu kedua orangtuaku. Ayahku adalah seorang kuli tani miskin yang diupah dengan bayaran tak seberapa atas kerja kerasnya untuk menggarap ladang milik orang lain. Sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang membantu meringankan beban ayahku dengan menjual nasi uduk di pagi hari.
Setiap harinya, setelah pulang sekolah, aku pergi keladang tempat ayahku bekerja. Membawakan bekal
Selepas isya, aku kembali ke rumah dari tempatku mengaji. Di bawah temaram lmpu pijar kuning 5 watt, aku membuka kembali pelajaran yang telah aku dapatkan di sekolah tadi. Berusaha meniti titian ilmu dalam otakku. Berharap aku bisa mengingat mereka semua. Atau setidaknya ada satu dua hurup yang bersemayam dalam pikiranku.
Pukul 3 pagi, biasanya aku terbangun dari tidurku. Melangkah keluar rumah menuju kamar mandi. Rumahku tidak seperti rumah kebanyakan orang yang memiliki kamar mandi di dalamnya karena rumahku hanyalah seonggok gubuk rapuh yang dimakan usia. Berdinding bilik bambu yang menghitam menahan renta. Beratap genteng kusam yang penuh dengan jaring laba-laba, seolah mereka semua menjadi bagian dari keluargaku. Berlantai semen kasar dengan hiasan banyak lubang disana dan disini. Tapi, karena adanya kehangatan keluarga, aku pun sudah cukup betah tinggal di dalamnya walaupun terkadang aku juga merasa iri dengan rumah orang lain yang terlihat jauh lebih nyaman untuk dihuni. Kucuci mukaku disana, lalu kupergi ke dapur. Terlihat disana ada seorang wanita yang sedang asyik dengan pekerjaannya. Memasak nasi uduk dan meracik bumbu-bumbu sebagai penyedap nasi uduknya. Itu memanglah sudah menjadi rutinitasnya setipa hari. Dari raut mukanya, terlihat jelas beratnya beban yang dipikul oleh ibuku ini. Dia harus sudah bangun dan bekerja di saat semua orang masih terbuai dalam mimpinya, bahkan aku rasa matahari pun masih terdekap dalam selimut malamnya. Ditambah lagi ibuku harus mengurusi kakak pertamaku yang sedari kecil mengalami gangguan mental. Terkadang batinku memberontak, kenapa Allah memberikan cobaan yang berat kepada keluargaku yang miskin ini? Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku pun tahu bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Begitu kata ustadzku di pengajian.
Di hari Minggu, aku sring pergi ke rumah temanku untuk menonton TV karena di rumahku tidak ada sarana hiburan selain radio tua yang sudah rusak tiga bulan yang lalu. Walhasil, aku harus menumpang di rumah orang. Aku menyakskan beragam pemberitaan tentang kebobrokan negeri ini. Dari mulai kemiskinan, kelaparan, pengangguran sampai kasus korupsi pejabat. Jarang sekali aku menemukan pemberitaan yang bagus dan enak untuk didengar oleh telinga. Aku heran, pernahkah mereka berpikir untuk membangga-banggakan negeri mereka sendiri, negara yang telah memberikan mereka tempat untuk menyambung hidup. Negara yang telah memberikan lahan untuk mereka tinggal. Negara yang dengan senang hati memberikan mereka kehidupan. Lantas bagaimana bisa bangsa ini dihormati oleh bangsa lain jika penduduknya saja tidak bisa menghargai eksistensi negaranya? Ah, rasanya terlalu dini aku memikirkan masalah ini. Biarlah mereka yang berdasi yang memikirkannya.
Setelah lulus SMP, aku sempat ragu untuk melanjutkan pendidikanku ke SMA karena melihat kondisi ekonomi keluarga serba kekurangan. Tapi orangtuaku bilang, aku harus tetap sekolah dan mereka memintaku untuk masuk pesantren. Wow? Pondok pesantren. Tak pernah terbesit dalam bayanganku untuk masuk pesantren sebelumnya. Tapi tak apalah, hitung-hitung untuk menambah pengalaman. Begitu hatiku membatin ketika itu. Lalu dengan tekad yang kuat, aku pun berangkat ke Daar el-Qolam, tempat yang aku pilih untuk menimba ilmu. Dengan meminjam mobil Pick-up milik majikan ayahku, akupun berangkat kesana.
Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza, itulah pondok tempatku nanti belajar. Sekilas ku melihat, tampaknya pondok ini masih dalam tahap pembangunan. Terlihat gundukan tanah disna-sini. Gedung sekolah yang masih belum rampung dan bangunan masjid yang masih tak beratap membuatku semakin yakin bahwa pondok ini memang masih meniti eksistensinya. Aku pun melangkah menuju kamar asramaku. Menurunkan barang-barangku dari mobil pick-up pinjaman ini. Lemari bekas dan kasur lapuk ini akan menjadi teman setiaku selama 3 tahun kedepan. Setelah itu, orangtuaku pergi pulang. Rasa sedih menggelayut di hatiku. Membuat mataku ingin menteskan air matanya. Tapi karena gengsi, ku tahan sekuat tenaga rasa itu.
Tahun pertamaku disini, kurasakan dengan kesendirian. Walaupun disini banyak teman-teman sebayaku, tapi tetap saja mereka bukan keluargaku. Tapi lambat laun aku pun bisa menjadikan mereka sabagai pelepur lara atas keluargaku. Tak hanya itu saja masalah yang kualami di tahun pertamaku. Ada juga ada rasa putus asa ketika otakku tak sanggup menerima materi yang sebagian besar berbahasa arab. Ingin rasanya aku menangis karena itu semua. Selain itu, batinku pun memberontak, menyulut rasa bosanku karena peraturan-peraturan di pondok ini yang membuatku seolah terkekang dalam kekangan yang mengusik hati. Aku merasa seperti seekor tikus yang terguncang diguncangkan oleh pemiliknya. Setiap hari aku berlari kesana dan kemari, mengantri nasi dan terkomando dengan komando jarosh. Ingin rasanya aku keluar dari pondok ini, tapi mengingat wajah kedua orangtuaku, kuurungkan niatku itu.
Di tahun kedua, aku sudah mulai mengerti apa itu arti sebuah kebersamaan. Aku sudah mulai bisa memfamilikan sahabat-sahabatku. Mungkin, karena perjalanan waktu membuat rasa ukhuwahku timbul. Mengingat bagaimana kebersamaan kami disini, makan kami selalu bersama di satu nampan. Terkesan jorok memang, tapi itulah yang membuat makanan yang kami makan terasa nikmat walaupun itu hanya nasi kusam ditemani potongan tempe kuning dengan hiasan kerupuk oranye. Teringat juga ketika aku belajar bersama teman-temanku, saling mengajari dan diajari. Apalagi ketika waktu ujian tiba, berbondong-bondong aku dan teman-temanku pergi belajar bersama. Aku yakin, diluar sana pastilah aku tidak akan memikirkan ujian. Belum lagi ketika aku harus berada di dalam kamar mandi bersama temanku yang lain. Bukan karena ingin melakukan mandi bersama, tapi kerena aku harus berpacu dengan waktu agar tidak mendapat hukuman dari pengurus kerena keterlambatanku .Ya, itulah yang membuat rasa persaudaraanku timbul. Tapi tak jarang aku juga mengerutu karena ada diantara kami yang meneriakkan loyalitas dan solidaritas semu. Berujar kompak tapi bertingkah layaknya perompak. Berucap satu tapi lebih sering menjadi benalu. Seolah-olah dialah orang yang maha sempurna. Mengajak ma’ruf tapi dia sendiri sendiri berorientasi munkar. Mencari pandangan baik dari ustadz-ustadz kami. Munafik, itulah satu kata yang bisa mewakili tabiat hidupnya. Tak pernah menyadari salahnya. Berkelit dari kesalahannya dengan berjuta alasan. Ah,aneh memang. Tapi inilah dunia, tak akan pernah lepas dari orang-orang munafik.
Di tahun terakhirku, aku semakin memahami makna dari sebuah perjuangan. Tahun ini menjadi tahun dimana aku dituntut untuk berjuang lebih keras. Banyak sekali ujian yang harus aku hadapi sebulum aku bisa dikatakan lulus dari institusi ini. Baik itu ujian mental maupun ujian pikiran. Semuanya harus kulewati dengan semangat yang besar. Di tahun ini pun aku sebagai penghuni kelas terakhir sekaligus tertua harus menjadi pengurus dan pengayom bagi adik-adikku yang lain. Sebenernya aku ragu apakah aku bisa atau tidak menjalaninya. Tapi karena ini adalah sunnah pondok, jadi mau tidak mau aku harus mengikutinya. Berat memang mengurusi mereka. Mengutamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri. Aku bukan kakak mereka, mereka pun bukan adik-adikku. Aku tidak dibyar atas semua ini, mereka pun tidak memberiku bayaran. Tapi, aku dituntut ikhlas untuk mengurusi mereka semua. Ketika itu, aku diangkat menjadi pengurus bagian bahasa, itu berarti aku harus menegakkan disiplin berbahasa resmi di pondok ini. Jangan kira bahasa resi di pondok ini adalah bahasa indonesia yang baku dan benar. Tapi bahasa resmi di pondok ini berarti bahasa arab dan bahasa inggris. Bah, bagaimana pula aku yang asli sunda ini harus mengurusi bahasa asing? Jangankan berceloteh kata inggris ataupun arab, mengeja deretan huruf indonesia pun terkadang aku masih terbata kaku. Tapi tak ada gunanya aku terus mengeluh dengan keadaanku. Ini adalah amanah, amanah berarti tanggung jawab, dan tanggung jawab harus diemban dengan baik. Di tahun ini juga aku harus menghadapi ujian nasional yang bagi sebagian besar siswa menganggapnya sebagai seorang malaikat maut yang menentukan nasib mereka kelak. Bagaimana tidak mereka beranggapan seperti itu? Masa iya setelah capek-capek belajar tiga tahun, nasib kelulusan mereka hanya ditentukan dengan 6 buah lembar kertas ujian yang harus mereka kerjakan dalam kurun empat hari. Apalagi UN tahun ini, pemerintah menerapkan sistem baru. 20 paket soal yang berbeda ditambah dengan adanya embel-embel barcode yang membuat pusing. Tapi yang menjadi ujian terberatku ketika itu adalah aku harus merelakkan ayahku dipanggil oleh emiliknya. Ya, ayahku harus pergi meninggalkanku di saat sebentar lagi aku akan mengakhiri masa belajarku di pesantren ini. Peristiwa ini menjadi pukulan yang sangat menyakitkan bagiku. Tapi aku tidak boleh menyerah dan kalah. Aku harus ikhlas. Itu yang sering dikatakan oleh kyaiku.
Disaat teman-temanku sedang sibuk membicarakan rencana kuliahnya, aku harus terdiam membisu karena aku tak tahu harus melanjutkan kemana. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena keterbatasan eknomilah yang  menjadi pengekang langkahku. Tapi untunglah, disaat seperti itu, datanglah tawaran untuk mendapatkan beasiswa di UIN. Syaratnya aku harus menghafal 8 juz al-Qur`an. Aku rasa syaratnya tak begitu sulit, toh aku juga diwajibkan unuk menghafal al-Qur`an disini. Lalu, dengan langkah yang mantap, aku mendaftarkan diriku untuk menjadi salah satu mahasiswa program beasiswa disana. Alhamdulillah aku diterima.
Aku menjalani masa belajarku di UIN tanpa rintangan yang berarti. 4 tahun berlalu, kutamatkan masa kuliahku disana. Tapi ternyata Allah memberikanku sesuatu yang lebih indah. Aku direkomendasikan menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa di McGill University Canada. UIN memamng menjalin kerjasama pendidikan dengan universitas itu. Dan ternyata akulah dipilih menjadi salah satu mahasiswa yang diberi kesempatan untuk belajar disana. Pendidikan di negara itu pun kutamatkan dengan lancar. Lalu pada tahun 2020, aku kembali ke Indonesia dan menjadi dosen di almamaterku itu. Aku mengajar hukum internasional disana, karena memang itulah yang menjadi keahlianku ketika di Canada. 2 tahun setelah itu, aku melanjutkan studi S3 ku Yale University Amerika Serikat. Karena pemikiranku yang kata mereka gemilang, aku pun diminta untuk menjadi dosen di univeritas itu. 10 tahun kemudian, aku menanggalkan kewarganegaraan Indonesiaku dan beralih menjadi warga negara Amerika. Hal ini aku ambil bukan karena aku bosan dan malu menjadi warga Indonesia, tapi ini kulakukan karena aku ingin mencoba hal yang baru. Terdengar serakah memang, tapi itulah manusia. Pada dasarnya tabiat mereka adalah tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Jadi wajar sajalah kalau aku merasa perlu mengembangkan potensiku dibidangyang lain.
Aku memutuskan untuk berkecimpung di bidang perpolitikan Amerika, dan kewarganegaraan Amerika adalah sebuah hal yang mutlak yang tidak  bisa ditawar lagi. Aku mengawali karir politikku dengan menjadi anggota Partai Republik. Di Amerika memang hanya ada 2 partai politik, Republik dan Demokrat. 5 tahun berkiprah di paratai itu, dengan mengerahkan segala kemampuan dan loyalitasku, aku pun terpilih menjadi senator negara bagian California. 2 tahun setelah itu, senat parlemen memilihku untuk maju sebagai calon presiden dari partai Republik 2044 mendatang. Dan akhirnya, aku bisa menduduki singgasana tertinggi kedaulatan negara adidaya itu di Gedung Putih. Kalau ditanya kenapa aku bisa seperti ini, aku juga tidak tahu. Tapi waktu di Daar el-Qolam dulu, teman-temanku bilang kalau aku ini mirip Obama. Ya, Barack Husein Obama yang pada saat itu menjadi presiden Amerika yang ke-44. Mereka memanggilku Obemz, sebutan yang keren menurutku. Mungkin perkataan teman-temanku itu menjadi do`a hingga aku bisa mengikuti jejak Obama. Jika Obama adalah presiden kulit hitam pertama di negara itu, maka aku boleh berbangga karena aku adalah presiden muslim pertama disana.
“Berbicara tentang Daar el-Qolam, tampaknya pesantren itu menjadi pabrikan para pemimpin masa kini. Redaksi kami mencatat, banyak sekali alumni pondok itu yang menempati posisi penting di negara ini. Sebut saja bapak Zulbahri si ketua PSSI yang berduet dengan bapak Menpora Naufal Dzaky sehingga membawa Timnas Indonesia menjadi semifinalis Piala Dunia 2044 baru-baru ini. Ada juga KH. Aep Puadus Shofwan yang menjadi Menteri Agama. Selain itu Panglima TNI RI kita juga bapak Syadam Husein juga berasal dari pondok itu. Bahkan Presiden RI saat ini, bapak DR. M. Hasan juga jebolan dari sekolah itu. Memangnya ada apa dengan Daar el-Qolam?”, tanyanya lagi dengan penasaran. Mendengar pertanyaan itu, sontak aku pun kaget. Ternayata teman-temanku yang lain juga berhasil meraih kesuksesannya.
“Daar el-Qolam memang menjadikan santrinya untuk menjadi pemimpin. ‘Siap dipimpin dan siap memimpin’. Itulah salah satu semboyannya. Seperti yang saya katakan tadi, disana kami diajarkan untuk menjadi pemimpin dengan mengurusi dan mengayomi adik-adik kelas kami. Jadi, sejak itulah tertanam jiwa kepemimpinan di hati kami semua.” Tuturku kepada para penonton disana.
∞∞∞
30 menit berlalu, acara talkshow pun selesai. Di mobil, aku masih memikirkan teman-temanku dulu. Tak kusangka ternyata mereka juga mendapat nasib mujur sepert diriku. Pantas saja, kemarin rasanya aku mengenal siapa presiden negeri ini. Ternya dia si Hasan yang dulunya bercita-cita membuka tambak ikan di Tasik. Si Aep yang dulu kerjaannya cuma ngori di masjid, ternyata bisa juga menjadi seorang Menteri Agama. Si Syadam yang tampangnya memang sangar itu ternyata menjadi pimpinan di lembaga tertinggi pertahanan negara ini. Si Naufal yang dulu kerjaannya Cuma ngrusin bola-bola ternyata jadi Menpora. Oantas saja di Piala Dunia 2044 kemarin, Indonesia basuk ke babak semifinal. Pantas juga keadaan negara ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena ternyata yang mengendalikan pemerintahan negara adalah para intelektual yang berakhlak jebolan Daar el-Qolam. Ah, kangen rasanya aku dengan mereka semua.
Besok lusa aku harus pulang kembali ke Amerika untuk mengurusi rakyatku lagi. Maka sebelum aku pulang, aku harus bisa bertemu dengan mereka semua. Aku pun meminta asisten pribadiku untuk menghubungi pihak Istana Negara untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden M. Hasan. Mereka pun menyetujuinya. Maka esoknya, aku berangkat dari hotel temp tku menginap menuju Istana Kepresidenan. Di ruang jamuan khusus tamu negara itu, kumulai pembicaraan.
“Bapak Hasan, pertemuan kita kali ini bukan untuk membicarakan tentang negara kita. Melainkan untuk membicarak masalah kita pribadi.” Mukanya langsung terlihat heran.
“masalah apa yang anda maksudkan?”
“jadi, saya ingin menanyakan apakah anda berhasil membuka tambak ikan di wilayah Tasik?”, tanyaku lagi. Terlihat wajahnya semakin heran.
“Darimana anda tahu tentang itu?”
“tentulah saya tahu karena saya adalah teman SMA anda ketika di Daar el-Qolam, masih ingat?”, tanyaku lagi. Terlihatlah kini wajahnya yang sudah tidak bingung lagi. Dengan tersenyum, dia menjawab pertanyaanku.
“oh, ente Obemz? Yang dulu ering jadi cencengan anak satu angkatan kan?”
“nah, itu ente masih inget ane. Hebat yah ente sekarang, dulunya pengen jadi raja ikan, eh taunya malah jadi presiden.”
ah, ente malah lebih hebat dari ane, ane Cuma jadi presiden Indonesia, nah ente jadi presiden Amerika.”
“hahaha.. bisa aja ente. Eh, kita ke pondok yuk. Sekalian silaturahim sama ustadz-ustadz disana. Ajak juga si Aep, Naufal, Syadam, sama Zulbahri! Sekarang jadi bawahan ente semua kan mereka tuh.
“boleh lah, mumpung hari ini ane gak ada acara kenegaraan.”
Tak menunggu lama, setelah menguhubungi teman-teman kami yang lain, kami pun berangkat ke Daar el-Qolam. Sesampainya disana, ternyata mereka semua telah tida lebih dahulu. Pangling rasanya ketika melihat mereka yang dulunya dekil, kurus dan rebek, kini menjadi pria dewasa berdasi yang mempunyai peran penting di negeri ini.
Keadaan Daar el-Qolam ternya sudah berubah 180 derajat. Jauh lebih baik dari 32 tahun yang lalu ketika aku meninggalkannya. Semuanya jauh lebih tertata. Pohon-pohon yang dulunya masih kecil, kini sudah menjadi rimbun. Kamipun tenggelam dalam kenangan masa lalu. Kalau bukan karena pondok, mungkin tak bisa aku menjadi seperti ini.

∞∞∞

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: