Tuesday, August 13, 2013

Derita Putri

    Sore hari itu ditengah keramaian kota Megapolitan Jakarta, gadis kecil nan mungil dengan beberapa koran ditangannya masih sibuk berjalan kesana kemari berharap masih ada seorang pembeli yang berbaik hati untuk membeli korannya, sebenarnya koran yang ia jajakan sejak pagi tadi tetapi belum habis terjual entah mengapa? biasanya sebelum waktu sore tiba koran telah habis tiada tetapi apa daya demi membantu perekonomian keluarga ia pun rela mengorbankan waktunya mencari uang dan menjadi tulang punggung keluarga, diumurnya yang masih anak-anak yang sebenarnya masih harus duduk dibangku sekolah untuk mengenyam pendidikan, namun semenjak ayahnya pergi mengahadap sang ilahai dan ibunya sakit-sakitan maka ia pun rela harus membanting tulang untuk mencari uang.

"koran!" teriak seorang bapak paruh baya memanggilnya dari dalam mobil mewah

"iya pak, ini korannya" menyerahkan koran disertai seulas senyum yang merekah nan indah

"namamu siapa dik" tanya bapak itu sambil menyerahkan uang.

"ama saya Putri pak, ini kembaliannya pak" jawab anak itu

"ambil saja kembaliannya dik" ujar bapak tersebut, mungkin karena rasa iba bapak itu melihat gadis mungil yang menjual koran.

"terima kasih pak" ujar putri sambil tersenyum manis

     Mobil itu kemudian melaju dengan kencang dan langsung menghilang dari pandangan sigadis mungil itu.

"Alhamdulillah" sudah laku satu koran lagi, gumam Putri didalam hatinya sambil mengeluarkan senyum manis atas rasa syukurnya.

#####

       "Uhuk....uhuk....uhuk.... terdengar suara batuk dari ruang dapur, tampak sesosok perempuan yang sudah mulai renta, tangan yang mulai keriput, rambut yang memutih tak menjadi hambatan bagi dirinya untuk tetap menjadi sesosok ibu yang baik untuk anaknya, wanita tersebut bernama Ayu yang biasa disebut ibu oleh Putri.

     Memang sejak ayahnya Putri yaitu Ilham meninggal sekaligus suami dari Ayu, hidup mereka serba kekurangan dan terpaksa putri yang mencari uang, untuk kehidupan ia dan ibunya serta adiknya yang masih berumur tiga tahun.

#####

"bu... putri pergi dulu yah? mau jualan koran lagi" suara putri yang memberitahukan ibunya

"tapi inikan masih pagi nak? apa kamu ndak makan dulu? uhuk... uhuk... uhuk..." sahut ibu sambil terbatuk-batuk

"tak apa bu, nanti saja putri makannya" sambil berlari keluar pintu rumahnya (rumah yang sangat sederhana, beralaskan tanah dan berdinding bambu)

"yasudah nak hati-hati" nasihat ibu untuk Putri


       Seperti biasa Putri menjalankan rutinitasnya sebagai penjual koran, pagi-pagi ia harus berangkat menjajakan korannya dijalanan, terkadang jika koran yang ia jajakan habis sebelum sore hari iapun langsung pulang untuk mengganti pekerjaan yang lain yaitu membantu ibunya.
Kondisi ibu Ayu pun semakin lama bertambah makin parah karena tidak kunjung dibawa kerumah sakit hanya menghandalkan obat warung yang mudah didapat dan harganya pun yang murah, jikalau pergi kedokter biaya dari mana? jangankan untuk pergi kedokter, makan dengan nasi tanpa lauk sudah sangat beruntung.
     Hari-hari Putri pun ia lalui dengan penuh kesedihan, ketika ia melihat sesosok malaikat yang bernama ibu hanya bisa terbaring lemah, tak rela sebenarnya jikalau ia meninggalkan ibunya dirumah sendiri karena terpaksa Putri membawa adiknya berjualan koran karena jikalau adiknya dirumah takut merepotkan ibunya yang sedang sakit.

     Puncak kesedihan pun hadir dikala sosok malaikat yang selama ini menyayanginya itu pergi untuk selama-lamanya rasa sedih yang mencapai puncaknya membuat Putri semakin menderita. kini ia pun hidup berdua dengan adiknya.

#####

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: