Saturday, August 17, 2013

Api cinta disebuah masjid

"Kebakaran.... Kebakaran.... Kebakaran..." suara masyarakat yang teredengar dari halaman depan masjid At-taqwa
"Hah...? Rumah siapa yang kebakaran?" masa ia masjid kebakaran? tanyaku dalam hati, membuatku tersadar dari lamunan sedari tadi ... Bergegas akupun mencari tahu
(terdengar suara orang berlari dengan rasa panik sambil mulutnya meneriakan kata kebakaran)
Akupun menghampiri dan menghentikan langkah orang tersebut...
"maaf pak! Memangnya rumah siapa yang kebakaran? Kedengarannya dari halaman masjid?" Tanyaku penuh dengan rasa ingin tau disertai rasa panik
"benar neng...di...di...masjid... Mas..mas..masjid at-taqwa yang kebakaran" jawab bapak itu dengan terbata-bata
"ap....ap...apa! Masjid...?" ndak salah pak?  tanyaku kembali karena rasa tidak percaya
"iya neng, yasudah ayo kita kesana" jawab bapak, kamipun berlari menuju lokasi kejadian

 --------- 
Sejak sebulan yang lalu semenjak kejadian kebakaran dimasjid At-taqwa didesaku, akupun merasa bersalah kepada seseorang yang memang menjadi penyebab kebakaran itu terjadi. Dahulu aku mempunyai seorang kekasih, ia bernama fuad. Kami melewati hari-hari dengan sangat senang dan bahagia, janji manis yang telah kami buat serta kesepakatan yang telah ditetapkan untuk masa depan seolah-olah menjadikan bumi ini milik kita berdua, kebahagiaan yang kami alami begitu dahsyat pada waktu itu sebelum semuanya musnah dengan sekatika. "Lia aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hati sampai tak ada tempat dihatiku untuk perempuan lain" begitulah ucapan fuad yang terakhir kali kepadaku sebelum akhirnya kami berpisah

 ----------

Sore itupun tiba, ketika aku harus pindah dari desa ini. Desa yang telah mengukir pengalaman cinta terindahku bersama fuad kekasihku. Benar pepatah mengatakan "setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan dan akan meninggalkan bekas kesedihan" memang benar, kesedihan yang aku dan fuad rasakan amatlah begitu dalam karena kami sudah saling mencintai dan membuat janji manis yang kelak akan kami wujudkan. Ketika matahari sudah berada dibarat dan langit mulai menggelap akupun harus pergi ketempat tinggalku yang baru, aku pindah disebabkan oleh tugas ayahku yang juga berpindah-pindah. Dari kaca mobilku, aku melihat sosok fuad yang menangis tersedu-sedu melihat kepergianku dan tak terasa akupun berlinang air mata, memang aku belum sempat berpamitan dengannya karena ayah melarangku untuk menemuinya. 

----------

 Tak terasa waktu berjalan dengan amat sangat cepat, sudah hampir satu tahun aku tinggal dirumah baruku, rasanya baru kemarin aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam, kini akupun harua pindah lagi kerumahku yang dulu dan bertemu dengan seseorang yang sudah lama aku tunggu, memang semenjak perpisahan itu kami tidak lagi berhubungan baik lewat telepon atau surat. Tetapi ketika aku sampai dirumahku yang dulu, ayah dan ibuku diam-diam telah menjodohkanku dengan teman baik mereka didesa ini, seorang anak lurah yang lumayan tampan dan baik. Ketika orang tuaku mengabarkan hal itu kepadaku aku hanya terdiam mendengarnya, akupun memberitahukan bahwa telah ada seseorang yang telah mengisi hatinya yaitu fuad, orang tuaku pun setuju untuk melihat seseorang yang menjadi pilihan putrinya. Tetapi entah kemana fuad semenjak aku tinggalkan desa ini dia juga menghilang entah kemana begitu ungkapan salah seorang warga.

 ---------

Hari pernikahan itupun tiba, akhirnya akupun menerima penjodohan antara aku dan anak teman baik ayahku itu. Sebab aku terima hal itu karena aku tak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku yang selama ini membesarkan dan merawatku untuk segera menikah ditambah fuad yang tak tau kemana ia pergi menghilang. Pagi itu dimasjid At-taqwa acara pernikahanpun dimulai serta kalimat sakral telah diucapkan oleh suamiku kamipun resmi menjadi sepasang suami isteri. Setelah beberapa bulan menikah keluarga kamipun bahagia setelah mengetahui bahwa diriku positif hamil. Mungkin kebahagiaan yang kini aku rasakan bersama suamiku akibat aku ikhlas menerima keinginan kedua orang tuaku.

 ---------


Benar saja masjid yang dulu menjadi tempat mengucapkan kalimat sakral oleh suamiku itu terbakar, dan tanpa diduga ada seseorang yang membakar masjid itu yang tak kusangka orang itu adalah fuad, memang ketika fuad kembali lagi kedesa ini kondisi kesehatan dia terganggu terutama pola pikirnya dan setelah mengetahui diriku kembali kedesa ini lalu menikah dengan orang lain ia melakukan tindakan yang diluar kesadarannya. Sampai akhirnya fuad pun dibawa kerumah sakit jiwa. Maafkan aku fuad...

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: