Saturday, August 10, 2013

Dreams


Ditulis Oleh : ZAKI ABDURROKHIM
 
you are the only one who can make the difference, whatever your dream, go for it !“

Malam ini begitu sempurna, hitam pekat beradu cahaya kuning bulan yang pucat. Tidak ada kerlip putih mala mini, semuanya tertutup awan mendung nan gelap. Yang tersisa hanya desir angin malam tanpa makna.
                Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menggugah diriku, entah apa itu. Hingga timbul keinginanku untuk merubah segalanya. Aku fikir aku berada pada titik jenuh, jenuh dari ketidak pastian hidup yang menaungi hari-hariku. Terlepas dari pemberitahuan hasil UN pagi tadi, aku menerawang jauh. Aku sadar, hidup bagaikan sebuah panggung  dan aku adalah pemain yang bermain di dalam nya, cukup sudah bermain-main, bolos, begadang, bergerak tanpa arah, tertawa terbahak-bahak. Hidup ini memliki haknya, yaitu sebuah tujuan.
                Panggil aku dzar fikri. Nama yang dianugrahkan kepada ku adalah baris yang indah, dan orang yang menggunakan nya adalah sosok yang ku kagumi, karena itulah aku. Entah apa alasanya untuk bangga dengan diri ini, terlalu datar. Hidup ku selama empat belas tahun aku bernafas adalah kehidupan seorang anak ingusan yang tidak faham sedikitpun tentang arti sebuah hidup. Asal-asalan menjalani nya, padahal banyak dari lapisan dunia ini yang ingin memilikinya, menggunakan untuk segala sesuatu yang lebih bermanfaat. Ya, itu adalah sebuah kehidupan, anugrah yang maha kuasa.
                Dan malam ini aku akan merubahnya, merubah semua yang salah dalam hidup ku. Segera ku raih alat tulis dan sebuah note book yang telah lama ku miliki, entah sudah berapa lama ini tersimpan, debunya terlalu banyak. Ini pemberian kakak ku, ayu namanya. “ kamu tulis apa yang ada dalam fikiranmu disini, mudah-mudahan menjadi kenyataan.” Ucap kakak ku seraya memberikannya, itu sudah lama terjadi, sekitar dua tahun yang lalu, ketika aku berulang tahun yang ke dua belas. Ternyata sampai sekarang buku itu masih kosong, oh tuhan, betapa tidak peduli aku dengan segala yang ada di sekitar ku.
                Mulai ku menggoreskan tinta ini,
-Mimpi serta harapan-harapan ku, yang akan menuntunku menjadi diriku yang baru :
1. SMAN 6 DEPOK.
2. S1 UNIVERSITAS INDONESIA, JURUSAN ILMU EKONOMI, DEPOK.
3. S2 dan S3 UNIVERSITY OF MELBOURNE AUSTRALIA.
               
Kupandangi tulisan ku ini berkali-kali, sederhana memang. Ya, sangat sederhana. Tapi tiba-tiba saja tubuhku merinding, aku seperti sedang menggambar perjalanan hidup ku yang akan ku lalui nanti. Ini adalah sebuah syarat, kewajiban yang harus aku penuhi. Apapun resikonya.   
∞∞∞
boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh (juga) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu … “ ( AL- BAQARAH : 216 )

“Dzar !ayo sarapan …“ panggil bapak, ia mengeraskan suaranya dari ruang makan keluarga kami. Aku segera dating dan kamu makan bersama. Setiap pagi memang seperti ini, “ Dan harus “ kata bapak. Karena saat-saat ini adalah saat kita sekeluarga berkumpul bersama sembari benostalgia. Waktu yang tepat untuk mempererat tali kekeluargaan, kakak ku datang lengkap dengan almamater kedokteran nya. Ya, sekarang dia adalah mahasiswi kedokteran Universitas islam negri semester lima. Sesosok kakak perempuan yang ku banggakan.
“ Kamu sudah punya pilihan dzar ? mau dimana ? “ Tanya bapak membuka pembicaraan di antara kami. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu bapak semuanya.
“ Ada pak, SMAN 6 DEPOK ! “
Satu alasan mengapa aku memilih sma itu. Alasannya adalah sekolah itu merupakan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI), dan aku menganggap sekolah itu akan merubah diriku, karena aku akan bergaul dengan orang-orang yang pintar nan berkualitas, serta di dukung dengan sarana yang memadai. Walau tidak ada yang bisa memastikan siswa atau siswinya pintar, namun sejauh yang aku ketahui, seleksi masuknya begitu sulit. Pastilah orang-orang yang berkesempatan belajar di sana adalah orang-orang yang berkualitas.
“ Pilihan bagus, “ balas bapak, tapi kali ini ia diam, seperti menyiapkan kata-kata untuk diungkapkannya lagi, “ Tapi, apa tidak lebih baik kamu melanjutkan sekolahmu di pondok pesantren saja. Bapak punya pilihan yang bagus untuk mu. “
          DEG. Lisan ku berhenti mengunyak makanan, aku tidak bisa percaya dengan apa yang di katakan bapak barusan. Ini terlalu jauh dari perkiraan dan rencanaku, aku mengernyitkan dahi seraya manatap bapak penuh heran. Baru saja aku ingin berubah, tiba-tiba saja semua ini terjadi. Aku hanya diam, aku yakin bapak tahu ketidak inginanku dengan semua rencananya. Dan bapak serta ibu dan kakak ku juga diam. Selesai sudah, mereka bersekongkol menghancurkan hidup ku.
∞∞∞
“What would you do to make your dreams come true ?can you handle the risk and never step back …

           Aku berhadapan dengan dua buah gerbang besar yang di pisahkan oleh sepetak pos satpam dia antara dua besi kekarnya. Warnanya hijau, begitu juga dengan semua bangunan disini. Ada tulisan yang diukir keramik persis disebelah gerbang paling kanan, “ PONDOK PESANTREN DAAR EL-QOLAM “ ya tepat. Itu adalah nama pesantren ku, tempat dimana aku akan menghabiskan masa SMA ku disini, dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter, memisahkan aku dengan dunia luar setelah empat belas tahun aku hidup di dalamnya.
           Aku rasa, aku harus menyiapkan diriku untuk menjalani sebagian fase hidupku dengan keterpaksaan. Jangan Tanya tentang usaha ku untuk tetap bersekolah di SMA favorit ku, bapak selalu menang dengan segala macam perhitungannya. Alhasil, aku berdiri disini. Mengikuti saran bapak yang tidak bisa ku bantah, aku hanya bisa menguatkan diriku dengan beranggapan bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh orangtua untuk ku, adalah semata-mata untuk kebaikan ku, dan aku harus meyakini itu.
          Ternyata, hidup di pondok pesantren bukanlah perkara mudah. Jauh dari orangtua, itu sudah pasti. Ini lebih jatuh kepada bagaimana kita menyikapi segala yang ada di pondok pesantren. Peraturan adalah hal yang vital disini, segala sesuatu pasti dikaitkan dengan peraturannya. Namun jika kita berbicara masalah akhlak, ini dinamakan sikap atau sopan santun. Semuanya ada di sini, bahkan banyak keunggulan yang tidak ada di sekolah-sekolah SMA. Aku contohkan satu, yaitu penerapan pembelajaran menggunakan tiga bahasa, Indonesia, inggris dan arab. Tentu di dukung dengan teriak-teriakan di pagi hari, bukan untuk membuat keributan, melainkan mengulang dan menghafal setiap kata yang di berikan oleh ustadz atau kita biasa memanggilnya guru. Untuk membantu kita memahami pelajaran. Oke, beralih ke masalah fasilitas, menurut ku, ini jauh dari cukup.
          Tetapi tetap saja, niat sudah terpaksa. Ya semuanya jadi terasa hambar. Aku kembali kepada diriku yang dulu lagi. Lupakan masalah mimpi-mimpi itu, rencana bapak cukup menjadikan rencana itu semua omong kosong belaka.
          Kehidupan ku disini semakin parah, biasa saja. Malah terkesan malas-malasan. Teman-teman ku faham alasan diriku yang seperti ini. karena ini bukan ingin ku, juga bukan kemauan ku. So, untuk apa aku menjalani hidup yang bukan ingin ku. Ulangan semester satu seminggu lagi, teman-teman ku sudah siap-siap dari seminggu yang lalu. Sedang aku ?membuka buku saja enggan, apalagi untuk membacanya. Tidak peduli dengan berapa nila yang akan ku dapat nanti, anggap saja ini sebagai tanda protes ku kepada orangtua. Aku ingin pergi dari semua omong kosong ini dengan kembali merajut mimpi-mimpi ku yang tertunda, tidak ada waktu lagi.
∞∞∞
orang yang menginginkan sesuatu tetapi tidak berusaha untuk meraihnya, sama saja ia mati sebelum mati. Atau hidup seperti mati. “

            Liburan semester satu telah selesai, aku kembali lagi ke pondok pesantren. Bertemu teman-teman lama ku di rumah membuat ku setengah mati iri dengan keinginan mereka yang terkabul, sekolah mereka tepat seperti apa yang mereka inginkan dulu, sedang aku? percayalah kawan, aku hanya tersenyum ketika mereka menanyakan tentang aku dan sekolah ini.
            Hari ini pembagian raport. Aku yakin mereka yang belajar sungguh menanti saat-saat seperti ini, disaat mereka taHu hasil dari kerja keras mereka selama ujian berlangsung. Bedanya dengan ku, aku tak menunggu hasil apa-apa.
Buruk !buruk sekali. Nilaiku jelek, bahkan terlalu jelek bagiku. Dari dua ratus tujuh puluh tiga teman-teman ku satu angkatan, aku duduk tiga puluh besar di belakang. Aku menyesal, menyesal dengan apa yang telah aku lakukan dengan nilai-nilai ku. Dan juga aku kecewa, seharusnya aku tidak semarah ini, tidak semalu ini di hadapan teman-teman ku yang lain, ini adalah resiko, resiko menjadi nomer urut terbawah di kelas dan dianggap menjadi anak yang kurang. Aku malu, sangat malu. Aku memang bukan murid yang pintar, namun setidaknya aku tidak menduduki peringkat terakhir di kelas. Ingatan ku tiba-tiba saja tertuju pada sosok yang penting bagi ku, orangtua ku. Mereka pasti sangat malu dengan nilai-nilai buruk yang ku peroleh. Lagi-lagi aku mengecewakan mereka, seharusnya aku tidak mengorbankan mereka. Ini pure masalah hidup ku, diriku yang tidak berdaya mempertahankan mimpi-mimpi ku. Tetapi mengapa harus membawa orang lain dalam masalah ini. Bodoh !ternyata benar, penyesalan itu datang diakhir. Bapak, ibu, maakan dzar.
            Beberapa mingu kemudian, bapak dan ibu datang menjenguk ku. Entak kenapa setelah kejadian raport ku itu, aku jadi lebih sering mengingat bapak dan ibu. Kini rambutnya tidak lagi sehitam dulu, kadang ada sedikit warna yang tidak selaras disana, menandakan umurnya yang tidak lagi muda. Kulitnya yang tidak lagi sekencang dulu, adapun warna kulitnya yang kelam, menandakan perjuangannya dalam menantang kehidupan. Melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angina dan menciut di terkam dingin. Aku sadar ini berat, dan aku tidak ingin menambah beban mereka.
            Menjelang pulang, aku memberikan raport yang harus ditandatangani oleh bapak. Sikap dan ekspresi mereka terkesan biasa, malah mereka tersenyum. Aku tahu mereka sedang menutupi kekecewaan mereka. Aku membalas kerja keras orangtuaku dengan nilai-nilai yang memalukan. Tuhan, betapa durhakanya aku, Aku mengantarkan mereka ke tempat parkir, aku berjalan agak belakang dari mereka.
“ Bapak … “ panggil ku, bapak menoleh dan aku langsung memeluknya. Aku benamkan wajahku pada bahu kekarnya, “ Dzar minta maaf pak, dzar sudah mengecewakan bapak dan ibu, nilai dzar terlalu kecil. “ ucap ku sejelas mungkin, air mataku terlalu banyak keluar yang kemudian membasahi baju batik yang bapak kenakan.
             “ Tidak ada yang harus di maafkan dzar, nilai yang kamu maksud adalah yang terdapat di kertas-kertas itu, bukan yang ada di sini. “ bapak menepuk bahuku, “ di dalam dirimu, kamu lebih pintar dan cerdas dari apa yang tertulis di kertas-kertas itu.”
             Setelah kejadian itu, aku merasa lega. Setidaknya aku sudah mengungkapkan permintaan maafku kepada mereka. Dan aku berjanji akan mengganti kekecewaan yang telah ku perbuat ini.
             Aku bertekat untuk membuka lembaran baru dalam hidup ku, menumpahkan seluruh semangatku untuk hidup ini,bukan lagi keterpaksaan. Aku sadar, aku mempunyai mimpi yang tinggi dan besar, dan juga aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak ada yang bisa memberikan mimpi-mimpi itu selain aku sendiri yang mengambilnya. Cukup untuk menyalahkan keadaan, menyumpahinya setiap saat, memandingkan apa pun yang ada. Tugas kita bukanlah untuk menggugat takdir yang telah ada dalam hidup kita, tapi membuat diri kita pantas untuk mendapatkan takdir tersebut.
***
           jika kita tidak bisa merubah arah angin, maka rubahlah arah sayap kita.”

Yang lalu biarlah berlalu, setelah tragedi raport ku yang mengenaskan berakhir, aku telah berubah seperti apa yang ku mau. Setiap kesempatan kulalui dengan rasa antusias yang tinggi serta semangat yang menggelora. Berkali-kali ulangan, Alhamdulillah, aku tidak pada absen paling bawah lagi, malah aku masuk sepuluh besar di kelas.
           Bicara tentang mimpi-mimpi ku, tidak ada masalah yang berarti, selain hanya sebuah nama saja yang berbeda. Sudah aku ganti SMAN 6 DEPOK, menjadi SMA DAAR EL-QOLAM. Tidak beda bukan, tetap sama, yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil peran disana. Kini aku sadar, tidak ada yang bisa menahan ku untuk meraih cita-cita ku. Tidak sekolahku, tidak keinginan orangtua ku, tidak ekonomiku, tidak keterbatasku. Yang terpenting adalah diriku, sejauh mana aku berkorban untuk semua yang aku inginkan tersebut, lupakan segala kekurangan, namun tetap fokus pada kekuatan.
          Ganjil sudah aku berada disini, tempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tepat tahun ketiga aku mengerti niat dan tujuan bapak, menyuruhku untuk terus disini, ini adalah sebuah tujuan yang indah nan agung. Seminggu lagi, pesantrenku akan mengadakan sebuah acara akbar yang pasti ada setiap tahunnya dan selalu diikuti oleh semua lapisan yang ada di pesantren ini. Itu adalah wisuda santri kelas tiga, dan khusus untuk tahun ini adalah angkatan kedua, angkatan ku. Kemarin kami baru saja menyelsaikan ujian pondok, yang nilainya nanti akan menjadi bahan pertimbangan pada hasil akhir kelulusan. Jangan kalian tanya usahaku, semuanya mati-matian untuk mendapatkan predikat baik,begitu juga aku. Entahlah kawan, aku tidak pernah memikirkan hasil apa nanti yang akan aku peroleh, yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku mendapatkan hasil tersebut, itulah proses.
∞∞∞
tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya mereka yang berhenti berusaha.”

Acara wisuda kami berlangsung khidmat, disaat seperti ini kami baru menyadari betapa beratnya meninggalkan pondok pesantren ini, tempat yang sangat dekat bagi kami. Hal ini sama seperti yang kami rasakan ketika kami ingin meninggalkan dunia luar, yang juga sangat dekat dari kami. Pembacaan hasil akhir pun telah usai, jangan tanya bagaimana hasil akhirku. Itu jauh dari perkiraan dan harapan, namun aku tidak menganggapnya sebuah kegagalan, karena aku tahu, aku telah memberikan semua yang terbaik dari ku. Dari kejadian ini aku belajar banyak,kedewasaan serta wawasan yang telah mengajariku untuk mengambil hikmah dari segala kejadian yang terjadi dalam hidup. Yaitu hidup bukan hanya rentetan kebahagiaan belaka, kadang kita butuh kegagalan untuk memahami nikmatnya sebuah keberhasilan.
          Siangnya aku pulang dan langsung bergulat dengan laptopku, mencari-cari informasi seputar penerimaan mahasiswa baru.
          “Universitas indonesia pak !” jawabku mantap ketika bapak bertanya tentang tempat kuliah yang kutuju.
          “Apa tidak sebaiknya di tempat yang lain saja dzar ?banyak kok tempat yang lebih cocok untuk mu.” Berita baiknya adalah orangtua ku memberiku kebebasan untuk memilih. Namun buruknya, mereka tidak percaya aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah aku pilih tersebut. Nada negatif juga datang dari beberapa teman ku yang menyuruhku untuk membuat planing ke dua, itu artinya mereka tidak percaya dengan kemampuan ku.
          Semua orang melihatku dari segi kekurangan, tidak ada lagi yang menyemangatiku selain diriku dan kepercayaanku bahwa allah akan mengabulkan setiap doa orang yang meminta kepadanya. Aku harus memulai semua ini dengan sebuah langkah. Ya besok aku akan belajar di sebuah lembaga pendidikan, aku jauh masuk lebih lambat, karena aku di pondok pesatren, sedangkan teman-teman bimbelku yang lain sudah enam bulan yang lalu disini. Hasilnya, aku harus mengejar ketertinggalan ku. Tidak hari tanpa bergelut dengan soal-soal yang ada di buku SNMPTN ku, semua aku kerjakan tidak tersisa, kadang kurelakan waktu malamku untuk bergelut mengerjakan ya. Ibu terharu mellihat usahaku, semuanya aku relakan, waktu makan dan tidur ku acak-acakan,ini semua untuk satu, yaitu harapan dan mimpi-mimpi ku.
          Sudah ratusan soal aku kerjakan, dari beberapa buku yang ku punya. Hari yang di tunggu semakin dekat dan dekat. Aku terus memacu semangat dan doa ku, jika sedang malas, aku melihat sebuah tulisan bertinta merah yang ku pajang besar di meja belajarku.
“ AGUSTUS, DZAR MASUK UNIVERSITAS INDONESIA !!!”
∞∞∞
percayalah, dalam kesulitan yang menimpa kita, terdapat rahmat allah di dalamnya.”

          Aku tidak sabar menunggu Koran nasional datang, hari ini adalah berita kelulusan SNMPTN. Akhirnya datang, kemudian aku mencari-cari nomor ujian ku, aku cemas, lisanku terus berucap doa.
ADA !!! Alhamdulillah … aku lulus sebagai mahasiswa universitas Indonesia. Tiba-tiba air mataku jautuh, aku terharu, usahaku kini terbayar sudah. Kebahagiaan ini tidak mampu aku bendung lagi,orangtuaku juga. Mereka tersenyum, dan yang membuatku lebih bahagia lagi, aku adalah alasan di balik senyuman mereka.
          Kini aku memperoleh apa yang aku inginkan, serta membuktikan kepada dunia bahwa segala sesuatu jika ada keinginan dan usaha pasti ada jalan. Pada hari pengumuman itu, aku sudah memasrahkan semuanya kepada Allah, sekalipun tidak lulus, aku percaya bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuk ku. Dan aku bersyukur, Allah mengizinkan ku.
          Awal-awal masa perkuliahanku, aku rajin mencari berita tentang berbagai macam beasiswa atau pun lomba-lomba internasional yang diadakan kampus ku. Ini semua demi mewudjudkan mimpi ku yang terakhir, walau belum sempurna.
          Di awal tahun aku mendapat informasi tentang pertukaran pelajar yang diadakan oleh kampusku yang berkerja sama dengan university of Melbourne Australia. Aku senang, ya, setidaknya ada jalan bagiku untuk pergi kesana, dan pertukaran pelajar ini bebas diikuti oleh seluruh mahasiswa atau mahasiswi kampus ku. Dan ini akan menjadi persaingan yang ketat dan berat. Aku langsung mengambil langkah, besoknya, aku mencoba untuk mengetahui kemampuan bahasa inggris ku, aku test toefl. Hasilnya 420, hasil yang sangat kecil untuk bisa lulus dalam seleksi nanti. Aku memasang niat, aku tahu, teman-teman ku yang lain juga sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan ini, aku tidak boleh kalah, ya, aku harus bergerak cepat.
          Aku mulai meningkatkan kemampuan bahasa inggris ku, bagaimanapun caranya, karena ini adalah salah satu syarat yang tidak bisa di rubah. Aku langsung membeli buku-buku bahasa inggris, kemudian aku banyak menonton film barat dengan subtitle asli bahasa inggris, aku juga membaca novel-novel bahasa inggris, chatting dengan orang-orang luar untuk menambah rasa percaya diriku untuk berbicara dengan mereka nanti, aku juga banyak menulis karangan atau pun karya ilmiah dengan bahasa inggris yang baik dan benar, dan juga mendengarkan lagu barat sembari menerka-nerka apa yang di ucapkannya. Hasilnya, setelah sekitar satu tahun aku terus belajar, tanpa disangka nilai toefl ku naik menjadi 580.hasil yang sangat memuaskan, dengan kemampuan bahasa inggrisku yang semakin mahir, sekarang aku tidak lagi merasakan blok ketika berbicara atau pun mendengar orang berbicara bahasa inggris walaupun itu orang asli.
          Aku pun memberanikan diri untuk mengikuti test yang diselenggarakan kampus untuk ikut berpartisipasi menjadi delegasi dari UI. Dengan modal keyakinan dan doa, serta kemampuan bahasa inggrisku yang baru, aku mencoba.
∞∞∞
          dan mintalah pertolongan kepada tuhanmu dengan shalat dan sabar …” ( AL-BAQARAH : 45 )

          Tidak ada pengorbanan yang sia-sian semuanya memiliki makna dimata Allah, aku percaya itu.
          “jangan lupa shalat dan berdoa dzar …” ibu selalu mengingatkanku untuk itu, ketika aku tengah sibuk dengan berbagai macam keinginanku. Dan aku melaksanakannya. Aku beruntung terlahir ditengah keluarga taat akan beragama, itu adalah salah satu alasan bapak kenapa aku disekolahkan di pesantren, agar aku terbiasa untuk shalat lima waktu yang itu adalah sebuah kewajiban bagi ku. Aku terus berdoa dibarengi dengan usahaku yang keras. Kalian tahu kawan ?ketika kita berdoa, dan meminta segala sesuatu yang kita inginkan, jangan bertanya apa jawabnya. Tapi yakinlah, bahwa ia maha mendengar.
          when we pray, god hears more than we say. God answeres more than we ask. God gives more than we imagine. Keep faith.”
∞∞∞
          I am thankful to all those who said no to me, it’s because of them, I did my self.”

          Sepertinya aku datang agak terlambat, mading kampus penuh dengan banyak orang yang menantikan hasil pengumuman test pertukaran pelajar kemarin. Aku berjalan pelan, seraya terus berdoa. Setelah mading agak sepi, aku melihatnya dan mencari namaku disana.
         Yes ada !!aku terkejut luar biasa. Lalu aku mengucapkan rasa syukur ku berulang-ulang, ini benar-benar diluar dugaan ku, aku adalah anak baru, dan orang-orang yang juga diterima adalah para seniorku, aku bahagia.
          “sekarang kamu buktikan itu dzar, mimpi-mimpimu yang pernah kamu bilang ke bapak. Bapak selalu yakin, kamu bisa mewujudkannya.” Ujar bapak kepada ku. Keluargaku merasa bangga kepadaku, terutama orangtua ku, mudah-mudahan apa yang aku dapatkan kali ini mampu mengantikan kekecawaan bapak dan ibu yang telah lalu.
           Malamnya, aku shalat dan bersimpuh di hadapannya, ini adalah kuasanya. Kau tahu kawan ?tuhan memiliki berbagai macam cara untuk menggagalkan rencana manusia. Namun, ia juga memiliki beribu alasan untuk menepati janji- janji-Nya bagi orang yang percaya. Karenanya berdoalah, doa tidak hanya menguatkan tapi juga memberi kita ketenangan hati, dan percayalah, ia maha mendengar atas segala doa-doa kita.
          tujuan adalah sesuatu yang di tetukan di awal, di wudjudkan di akhir, tempat memulai pemikiran dan akhir dari sebuah perjalanan.”
          Siang ini aku tiba di bandara internasional soekarno hatta, bersama keluarga dan bebarapa sanak saudara. Kami sepakat untuk bertemu di bandara, dengan komitmen satu jam lebih awal agar tidak telat. Aku memeluk kedua orang tuaku, lagi-lagi aku menangis.
          Hari ini adalah kali pertamaku naik pesawat terbang, sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi tak apalah, pertama kali, gratis dan sekaligus mengunakan penerbangan internasional, aku menikmatinya, hasil kerja keras ku.
          Aku mendarat di langit Australia dengan selamat tepatnya di Camberra international airport, kemudian langsung bergegas menuju rumah kedutaan besar di Sydney dan memulai petualanganku selama tiga bulan di Australia. Terlepas dari berbagai macam kegiatan kampus, aku mencoba untuk jalan-jalan sendiri, ini benar layaknya mimpi yang menjadi kenyataan. Aku sampai di salah satu tempat yang cukup terkenal di Australia yaitu oprah house, walaupun tidak sampai masuk, aku cukup puas, puas sekali. Kini mimpiku setengah menjadi kenyataan, karena mimpiku yang ketiga adalah melanjutkan S1 dan S2 ku di sini, namun kali ini aku hanya mampir sebentar saja, tapi setidaknya, aku tengah menemukan titik tengah untuk menuju kesana. Dan aku berbisik pada diriku sendiri,
 “all things are possible for those who believe …”


∞∞∞

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: