Ditulis Oleh : ZAKI ABDURROKHIM
“ you are the only one who can make the
difference, whatever your dream, go for it !“
Malam ini
begitu sempurna, hitam pekat beradu cahaya kuning bulan yang pucat. Tidak ada
kerlip putih mala mini, semuanya tertutup awan mendung nan gelap. Yang tersisa
hanya desir angin malam tanpa makna.
Tiba-tiba
saja ada sesuatu yang menggugah diriku, entah apa itu. Hingga timbul
keinginanku untuk merubah segalanya. Aku fikir aku berada pada titik jenuh, jenuh
dari ketidak pastian hidup yang menaungi hari-hariku. Terlepas dari
pemberitahuan hasil UN pagi tadi, aku menerawang jauh. Aku sadar, hidup
bagaikan sebuah panggung dan aku adalah
pemain yang bermain di dalam nya, cukup sudah bermain-main, bolos, begadang,
bergerak tanpa arah, tertawa terbahak-bahak. Hidup ini memliki haknya, yaitu
sebuah tujuan.
Panggil
aku dzar fikri. Nama yang dianugrahkan kepada ku adalah baris yang indah, dan
orang yang menggunakan nya adalah sosok yang ku kagumi, karena itulah aku.
Entah apa alasanya untuk bangga dengan diri ini, terlalu datar. Hidup ku selama
empat belas tahun aku bernafas adalah kehidupan seorang anak ingusan yang tidak
faham sedikitpun tentang arti sebuah hidup. Asal-asalan menjalani nya, padahal
banyak dari lapisan dunia ini yang ingin memilikinya, menggunakan untuk segala
sesuatu yang lebih bermanfaat. Ya, itu adalah sebuah kehidupan, anugrah yang
maha kuasa.
Dan
malam ini aku akan merubahnya, merubah semua yang salah dalam hidup ku. Segera
ku raih alat tulis dan sebuah note book yang telah lama ku miliki, entah sudah
berapa lama ini tersimpan, debunya terlalu banyak. Ini pemberian kakak ku, ayu
namanya. “ kamu tulis apa yang ada dalam fikiranmu disini, mudah-mudahan
menjadi kenyataan.” Ucap kakak ku seraya memberikannya, itu sudah lama terjadi,
sekitar dua tahun yang lalu, ketika aku berulang tahun yang ke dua belas.
Ternyata sampai sekarang buku itu masih kosong, oh tuhan, betapa tidak peduli
aku dengan segala yang ada di sekitar ku.
Mulai
ku menggoreskan tinta ini,
-Mimpi serta harapan-harapan ku, yang
akan menuntunku menjadi diriku yang baru :
1. SMAN 6 DEPOK.
2. S1 UNIVERSITAS INDONESIA, JURUSAN
ILMU EKONOMI, DEPOK.
3. S2 dan S3 UNIVERSITY OF MELBOURNE
AUSTRALIA.
Kupandangi
tulisan ku ini berkali-kali, sederhana memang. Ya, sangat sederhana. Tapi
tiba-tiba saja tubuhku merinding, aku seperti sedang menggambar perjalanan
hidup ku yang akan ku lalui nanti. Ini adalah sebuah syarat, kewajiban yang
harus aku penuhi. Apapun resikonya.
∞∞∞
“boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagi mu, dan boleh (juga) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
buruk bagi mu … “ ( AL- BAQARAH : 216 )
“Dzar !ayo sarapan …“ panggil bapak, ia
mengeraskan suaranya dari ruang makan keluarga kami. Aku segera dating dan kamu
makan bersama. Setiap pagi memang seperti ini, “ Dan harus “ kata bapak. Karena
saat-saat ini adalah saat kita sekeluarga berkumpul bersama sembari
benostalgia. Waktu yang tepat untuk mempererat tali kekeluargaan, kakak ku
datang lengkap dengan almamater kedokteran nya. Ya, sekarang dia adalah
mahasiswi kedokteran Universitas islam negri semester lima. Sesosok kakak
perempuan yang ku banggakan.
“
Kamu sudah punya pilihan dzar ? mau dimana ? “ Tanya bapak membuka pembicaraan
di antara kami. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu bapak
semuanya.
“
Ada pak, SMAN 6 DEPOK ! “
Satu alasan mengapa aku memilih sma itu.
Alasannya adalah sekolah itu merupakan rintisan sekolah berstandar
internasional (RSBI), dan aku menganggap sekolah itu akan merubah diriku,
karena aku akan bergaul dengan orang-orang yang pintar nan berkualitas, serta
di dukung dengan sarana yang memadai. Walau tidak ada yang bisa memastikan
siswa atau siswinya pintar, namun sejauh yang aku ketahui, seleksi masuknya
begitu sulit. Pastilah orang-orang yang berkesempatan belajar di sana adalah
orang-orang yang berkualitas.
“
Pilihan bagus, “ balas bapak, tapi kali ini ia diam, seperti menyiapkan
kata-kata untuk diungkapkannya lagi, “ Tapi, apa tidak lebih baik kamu
melanjutkan sekolahmu di pondok pesantren saja. Bapak punya pilihan yang bagus
untuk mu. “
DEG. Lisan ku berhenti mengunyak
makanan, aku tidak bisa percaya dengan apa yang di katakan bapak barusan. Ini
terlalu jauh dari perkiraan dan rencanaku, aku mengernyitkan dahi seraya
manatap bapak penuh heran. Baru saja aku ingin berubah, tiba-tiba saja semua
ini terjadi. Aku hanya diam, aku yakin bapak tahu ketidak inginanku dengan
semua rencananya. Dan bapak serta ibu dan kakak ku juga diam. Selesai sudah,
mereka bersekongkol menghancurkan hidup ku.
∞∞∞
“What would you do to make your dreams
come true ?can you handle the risk and never step back … ”
Aku berhadapan dengan dua buah
gerbang besar yang di pisahkan oleh sepetak pos satpam dia antara dua besi kekarnya.
Warnanya hijau, begitu juga dengan semua bangunan disini. Ada tulisan yang
diukir keramik persis disebelah gerbang paling kanan, “ PONDOK PESANTREN DAAR
EL-QOLAM “ ya tepat. Itu adalah nama pesantren ku, tempat dimana aku akan
menghabiskan masa SMA ku disini, dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter,
memisahkan aku dengan dunia luar setelah empat belas tahun aku hidup di
dalamnya.
Aku rasa, aku harus menyiapkan
diriku untuk menjalani sebagian fase hidupku dengan keterpaksaan. Jangan Tanya
tentang usaha ku untuk tetap bersekolah di SMA favorit ku, bapak selalu menang
dengan segala macam perhitungannya. Alhasil, aku berdiri disini. Mengikuti
saran bapak yang tidak bisa ku bantah, aku hanya bisa menguatkan diriku dengan
beranggapan bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh orangtua untuk ku, adalah
semata-mata untuk kebaikan ku, dan aku harus meyakini itu.
Ternyata, hidup di pondok pesantren
bukanlah perkara mudah. Jauh dari orangtua, itu sudah pasti. Ini lebih jatuh
kepada bagaimana kita menyikapi segala yang ada di pondok pesantren. Peraturan
adalah hal yang vital disini, segala sesuatu pasti dikaitkan dengan
peraturannya. Namun jika kita berbicara masalah akhlak, ini dinamakan sikap
atau sopan santun. Semuanya ada di sini, bahkan banyak keunggulan yang tidak
ada di sekolah-sekolah SMA. Aku contohkan satu, yaitu penerapan pembelajaran
menggunakan tiga bahasa, Indonesia, inggris dan arab. Tentu di dukung dengan
teriak-teriakan di pagi hari, bukan untuk membuat keributan, melainkan mengulang
dan menghafal setiap kata yang di berikan oleh ustadz atau kita biasa
memanggilnya guru. Untuk membantu kita memahami pelajaran. Oke, beralih ke
masalah fasilitas, menurut ku, ini jauh dari cukup.
Tetapi tetap saja, niat sudah
terpaksa. Ya semuanya jadi terasa hambar. Aku kembali kepada diriku yang dulu
lagi. Lupakan masalah mimpi-mimpi itu, rencana bapak cukup menjadikan rencana
itu semua omong kosong belaka.
Kehidupan ku disini semakin parah,
biasa saja. Malah terkesan malas-malasan. Teman-teman ku faham alasan diriku
yang seperti ini. karena ini bukan ingin ku, juga bukan kemauan ku. So, untuk
apa aku menjalani hidup yang bukan ingin ku. Ulangan semester satu seminggu
lagi, teman-teman ku sudah siap-siap dari seminggu yang lalu. Sedang aku
?membuka buku saja enggan, apalagi untuk membacanya. Tidak peduli dengan berapa
nila yang akan ku dapat nanti, anggap saja ini sebagai tanda protes ku kepada
orangtua. Aku ingin pergi dari semua omong kosong ini dengan kembali merajut
mimpi-mimpi ku yang tertunda, tidak ada waktu lagi.
∞∞∞
“ orang yang menginginkan sesuatu tetapi tidak
berusaha untuk meraihnya, sama saja ia mati sebelum mati. Atau hidup seperti
mati. “
Liburan semester satu telah
selesai, aku kembali lagi ke pondok pesantren. Bertemu teman-teman lama ku di
rumah membuat ku setengah mati iri dengan keinginan mereka yang terkabul,
sekolah mereka tepat seperti apa yang mereka inginkan dulu, sedang aku? percayalah kawan, aku hanya tersenyum ketika mereka menanyakan tentang aku dan
sekolah ini.
Hari ini pembagian raport. Aku
yakin mereka yang belajar sungguh menanti saat-saat seperti ini, disaat mereka
taHu hasil dari kerja keras mereka selama ujian berlangsung. Bedanya dengan ku,
aku tak menunggu hasil apa-apa.
Buruk
!buruk sekali. Nilaiku jelek, bahkan terlalu jelek bagiku. Dari dua ratus tujuh
puluh tiga teman-teman ku satu angkatan, aku duduk tiga puluh besar di
belakang. Aku menyesal, menyesal dengan apa yang telah aku lakukan dengan
nilai-nilai ku. Dan juga aku kecewa, seharusnya aku tidak semarah ini, tidak
semalu ini di hadapan teman-teman ku yang lain, ini adalah resiko, resiko
menjadi nomer urut terbawah di kelas dan dianggap menjadi anak yang kurang. Aku
malu, sangat malu. Aku memang bukan murid yang pintar, namun setidaknya aku
tidak menduduki peringkat terakhir di kelas. Ingatan ku tiba-tiba saja tertuju
pada sosok yang penting bagi ku, orangtua ku. Mereka pasti sangat malu dengan
nilai-nilai buruk yang ku peroleh. Lagi-lagi aku mengecewakan mereka, seharusnya
aku tidak mengorbankan mereka. Ini pure masalah hidup ku, diriku yang tidak
berdaya mempertahankan mimpi-mimpi ku. Tetapi mengapa harus membawa orang lain
dalam masalah ini. Bodoh !ternyata benar, penyesalan itu datang diakhir. Bapak,
ibu, maakan dzar.
Beberapa mingu kemudian, bapak dan
ibu datang menjenguk ku. Entak kenapa setelah kejadian raport ku itu, aku jadi
lebih sering mengingat bapak dan ibu. Kini rambutnya tidak lagi sehitam dulu,
kadang ada sedikit warna yang tidak selaras disana, menandakan umurnya yang
tidak lagi muda. Kulitnya yang tidak lagi sekencang dulu, adapun warna kulitnya
yang kelam, menandakan perjuangannya dalam menantang kehidupan. Melepuh
terbakar matahari, limbung dihantam angina dan menciut di terkam dingin. Aku
sadar ini berat, dan aku tidak ingin menambah beban mereka.
Menjelang pulang, aku memberikan
raport yang harus ditandatangani oleh bapak. Sikap dan ekspresi mereka terkesan
biasa, malah mereka tersenyum. Aku tahu mereka sedang menutupi kekecewaan
mereka. Aku membalas kerja keras orangtuaku dengan nilai-nilai yang memalukan.
Tuhan, betapa durhakanya aku, Aku mengantarkan mereka ke tempat parkir, aku
berjalan agak belakang dari mereka.
“
Bapak … “ panggil ku, bapak menoleh dan aku langsung memeluknya. Aku benamkan
wajahku pada bahu kekarnya, “ Dzar minta maaf pak, dzar sudah mengecewakan
bapak dan ibu, nilai dzar terlalu kecil. “ ucap ku sejelas mungkin, air mataku
terlalu banyak keluar yang kemudian membasahi baju batik yang bapak kenakan.
“ Tidak ada yang harus di maafkan
dzar, nilai yang kamu maksud adalah yang terdapat di kertas-kertas itu, bukan
yang ada di sini. “ bapak menepuk bahuku, “ di dalam dirimu, kamu lebih pintar
dan cerdas dari apa yang tertulis di kertas-kertas itu.”
Setelah kejadian itu, aku merasa
lega. Setidaknya aku sudah mengungkapkan permintaan maafku kepada mereka. Dan
aku berjanji akan mengganti kekecewaan yang telah ku perbuat ini.
Aku bertekat untuk membuka
lembaran baru dalam hidup ku, menumpahkan seluruh semangatku untuk hidup
ini,bukan lagi keterpaksaan. Aku sadar, aku mempunyai mimpi yang tinggi dan
besar, dan juga aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak ada yang bisa memberikan
mimpi-mimpi itu selain aku sendiri yang mengambilnya. Cukup untuk menyalahkan
keadaan, menyumpahinya setiap saat, memandingkan apa pun yang ada. Tugas kita
bukanlah untuk menggugat takdir yang telah ada dalam hidup kita, tapi membuat
diri kita pantas untuk mendapatkan takdir tersebut.
***
“jika
kita tidak bisa merubah arah angin, maka rubahlah arah sayap kita.”
Yang
lalu biarlah berlalu, setelah tragedi raport ku yang mengenaskan berakhir, aku
telah berubah seperti apa yang ku mau. Setiap kesempatan kulalui dengan rasa
antusias yang tinggi serta semangat yang menggelora. Berkali-kali ulangan,
Alhamdulillah, aku tidak pada absen paling bawah lagi, malah aku masuk sepuluh
besar di kelas.
Bicara tentang mimpi-mimpi ku, tidak
ada masalah yang berarti, selain hanya sebuah nama saja yang berbeda. Sudah aku
ganti SMAN 6 DEPOK, menjadi SMA DAAR EL-QOLAM. Tidak beda bukan, tetap sama,
yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil peran disana. Kini aku sadar,
tidak ada yang bisa menahan ku untuk meraih cita-cita ku. Tidak sekolahku,
tidak keinginan orangtua ku, tidak ekonomiku, tidak keterbatasku. Yang
terpenting adalah diriku, sejauh mana aku berkorban untuk semua yang aku
inginkan tersebut, lupakan segala kekurangan, namun tetap fokus pada kekuatan.
Ganjil sudah aku berada disini,
tempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tepat tahun ketiga aku
mengerti niat dan tujuan bapak, menyuruhku untuk terus disini, ini adalah
sebuah tujuan yang indah nan agung. Seminggu lagi, pesantrenku akan mengadakan
sebuah acara akbar yang pasti ada setiap tahunnya dan selalu diikuti oleh semua
lapisan yang ada di pesantren ini. Itu adalah wisuda santri kelas tiga, dan
khusus untuk tahun ini adalah angkatan kedua, angkatan ku. Kemarin kami baru
saja menyelsaikan ujian pondok, yang nilainya nanti akan menjadi bahan
pertimbangan pada hasil akhir kelulusan. Jangan kalian tanya usahaku, semuanya
mati-matian untuk mendapatkan predikat baik,begitu juga aku. Entahlah kawan,
aku tidak pernah memikirkan hasil apa nanti yang akan aku peroleh, yang
terpenting bagiku adalah bagaimana aku mendapatkan hasil tersebut, itulah
proses.
∞∞∞
“ tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya
mereka yang berhenti berusaha.”
Acara
wisuda kami berlangsung khidmat, disaat seperti ini kami baru menyadari betapa
beratnya meninggalkan pondok pesantren ini, tempat yang sangat dekat bagi kami.
Hal ini sama seperti yang kami rasakan ketika kami ingin meninggalkan dunia
luar, yang juga sangat dekat dari kami. Pembacaan hasil akhir pun telah usai,
jangan tanya bagaimana hasil akhirku. Itu jauh dari perkiraan dan harapan,
namun aku tidak menganggapnya sebuah kegagalan, karena aku tahu, aku telah
memberikan semua yang terbaik dari ku. Dari kejadian ini aku belajar
banyak,kedewasaan serta wawasan yang telah mengajariku untuk mengambil hikmah
dari segala kejadian yang terjadi dalam hidup. Yaitu hidup bukan hanya rentetan
kebahagiaan belaka, kadang kita butuh kegagalan untuk memahami nikmatnya sebuah
keberhasilan.
Siangnya aku pulang dan langsung
bergulat dengan laptopku, mencari-cari informasi seputar penerimaan mahasiswa
baru.
“Universitas indonesia pak !” jawabku
mantap ketika bapak bertanya tentang tempat kuliah yang kutuju.
“Apa tidak sebaiknya di tempat yang
lain saja dzar ?banyak kok tempat yang lebih cocok untuk mu.” Berita baiknya
adalah orangtua ku memberiku kebebasan untuk memilih. Namun buruknya, mereka
tidak percaya aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah aku pilih
tersebut. Nada negatif juga datang dari beberapa teman ku yang menyuruhku untuk
membuat planing ke dua, itu artinya mereka tidak percaya dengan kemampuan ku.
Semua orang melihatku dari segi
kekurangan, tidak ada lagi yang menyemangatiku selain diriku dan kepercayaanku
bahwa allah akan mengabulkan setiap doa orang yang meminta kepadanya. Aku harus
memulai semua ini dengan sebuah langkah. Ya besok aku akan belajar di sebuah
lembaga pendidikan, aku jauh masuk lebih lambat, karena aku di pondok pesatren,
sedangkan teman-teman bimbelku yang lain sudah enam bulan yang lalu disini.
Hasilnya, aku harus mengejar ketertinggalan ku. Tidak hari tanpa bergelut
dengan soal-soal yang ada di buku SNMPTN ku, semua aku kerjakan tidak tersisa,
kadang kurelakan waktu malamku untuk bergelut mengerjakan ya. Ibu terharu
mellihat usahaku, semuanya aku relakan, waktu makan dan tidur ku
acak-acakan,ini semua untuk satu, yaitu harapan dan mimpi-mimpi ku.
Sudah ratusan soal aku kerjakan, dari
beberapa buku yang ku punya. Hari yang di tunggu semakin dekat dan dekat. Aku
terus memacu semangat dan doa ku, jika sedang malas, aku melihat sebuah tulisan
bertinta merah yang ku pajang besar di meja belajarku.
“
AGUSTUS, DZAR MASUK UNIVERSITAS INDONESIA !!!”
∞∞∞
“ percayalah, dalam kesulitan yang menimpa
kita, terdapat rahmat allah di dalamnya.”
Aku tidak sabar menunggu Koran
nasional datang, hari ini adalah berita kelulusan SNMPTN. Akhirnya datang,
kemudian aku mencari-cari nomor ujian ku, aku cemas, lisanku terus berucap doa.
ADA
!!! Alhamdulillah … aku lulus sebagai mahasiswa universitas Indonesia.
Tiba-tiba air mataku jautuh, aku terharu, usahaku kini terbayar sudah.
Kebahagiaan ini tidak mampu aku bendung lagi,orangtuaku juga. Mereka tersenyum,
dan yang membuatku lebih bahagia lagi, aku adalah alasan di balik senyuman
mereka.
Kini aku memperoleh apa yang aku
inginkan, serta membuktikan kepada dunia bahwa segala sesuatu jika ada
keinginan dan usaha pasti ada jalan. Pada hari pengumuman itu, aku sudah
memasrahkan semuanya kepada Allah, sekalipun tidak lulus, aku percaya bahwa
Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuk ku. Dan aku
bersyukur, Allah mengizinkan ku.
Awal-awal masa perkuliahanku, aku
rajin mencari berita tentang berbagai macam beasiswa atau pun lomba-lomba
internasional yang diadakan kampus ku. Ini semua demi mewudjudkan mimpi ku yang
terakhir, walau belum sempurna.
Di awal tahun aku mendapat informasi
tentang pertukaran pelajar yang diadakan oleh kampusku yang berkerja sama dengan
university of Melbourne Australia. Aku senang, ya, setidaknya ada jalan bagiku
untuk pergi kesana, dan pertukaran pelajar ini bebas diikuti oleh seluruh
mahasiswa atau mahasiswi kampus ku. Dan ini akan menjadi persaingan yang ketat
dan berat. Aku langsung mengambil langkah, besoknya, aku mencoba untuk
mengetahui kemampuan bahasa inggris ku, aku test toefl. Hasilnya 420, hasil
yang sangat kecil untuk bisa lulus dalam seleksi nanti. Aku memasang niat, aku
tahu, teman-teman ku yang lain juga sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan
kesempatan ini, aku tidak boleh kalah, ya, aku harus bergerak cepat.
Aku mulai meningkatkan kemampuan
bahasa inggris ku, bagaimanapun caranya, karena ini adalah salah satu syarat
yang tidak bisa di rubah. Aku langsung membeli buku-buku bahasa inggris,
kemudian aku banyak menonton film barat dengan subtitle asli bahasa inggris,
aku juga membaca novel-novel bahasa inggris, chatting dengan orang-orang luar
untuk menambah rasa percaya diriku untuk berbicara dengan mereka nanti, aku
juga banyak menulis karangan atau pun karya ilmiah dengan bahasa inggris yang
baik dan benar, dan juga mendengarkan lagu barat sembari menerka-nerka apa yang
di ucapkannya. Hasilnya, setelah sekitar satu tahun aku terus belajar, tanpa
disangka nilai toefl ku naik menjadi 580.hasil yang sangat memuaskan, dengan
kemampuan bahasa inggrisku yang semakin mahir, sekarang aku tidak lagi
merasakan blok ketika berbicara atau pun mendengar orang berbicara bahasa
inggris walaupun itu orang asli.
Aku pun memberanikan diri untuk
mengikuti test yang diselenggarakan kampus untuk ikut berpartisipasi menjadi
delegasi dari UI. Dengan modal keyakinan dan doa, serta kemampuan bahasa
inggrisku yang baru, aku mencoba.
∞∞∞
“dan
mintalah pertolongan kepada tuhanmu dengan shalat dan sabar …” ( AL-BAQARAH
: 45 )
Tidak ada pengorbanan yang sia-sian
semuanya memiliki makna dimata Allah, aku percaya itu.
“jangan lupa shalat dan berdoa dzar
…” ibu selalu mengingatkanku untuk itu, ketika aku tengah sibuk dengan berbagai
macam keinginanku. Dan aku melaksanakannya. Aku beruntung terlahir ditengah
keluarga taat akan beragama, itu adalah salah satu alasan bapak kenapa aku
disekolahkan di pesantren, agar aku terbiasa untuk shalat lima waktu yang itu
adalah sebuah kewajiban bagi ku. Aku terus berdoa dibarengi dengan usahaku yang
keras. Kalian tahu kawan ?ketika kita berdoa, dan meminta segala sesuatu yang
kita inginkan, jangan bertanya apa jawabnya. Tapi yakinlah, bahwa ia maha mendengar.
“when
we pray, god hears more than we say. God answeres more than we ask. God gives
more than we imagine. Keep faith.”
∞∞∞
“I
am thankful to all those who said no to me, it’s because of them, I did my self.”
Sepertinya aku datang agak terlambat,
mading kampus penuh dengan banyak orang yang menantikan hasil pengumuman test
pertukaran pelajar kemarin. Aku berjalan pelan, seraya terus berdoa. Setelah
mading agak sepi, aku melihatnya dan mencari namaku disana.
Yes ada !!aku terkejut luar biasa.
Lalu aku mengucapkan rasa syukur ku berulang-ulang, ini benar-benar diluar
dugaan ku, aku adalah anak baru, dan orang-orang yang juga diterima adalah para
seniorku, aku bahagia.
“sekarang kamu buktikan itu dzar,
mimpi-mimpimu yang pernah kamu bilang ke bapak. Bapak selalu yakin, kamu bisa
mewujudkannya.” Ujar bapak kepada ku. Keluargaku merasa bangga kepadaku,
terutama orangtua ku, mudah-mudahan apa yang aku dapatkan kali ini mampu
mengantikan kekecawaan bapak dan ibu yang telah lalu.
Malamnya, aku shalat dan bersimpuh
di hadapannya, ini adalah kuasanya. Kau tahu kawan ?tuhan memiliki berbagai
macam cara untuk menggagalkan rencana manusia. Namun, ia juga memiliki beribu
alasan untuk menepati janji- janji-Nya bagi orang yang percaya. Karenanya
berdoalah, doa tidak hanya menguatkan tapi juga memberi kita ketenangan hati,
dan percayalah, ia maha mendengar atas segala doa-doa kita.
“tujuan
adalah sesuatu yang di tetukan di awal, di wudjudkan di akhir, tempat memulai
pemikiran dan akhir dari sebuah perjalanan.”
Siang ini aku tiba di bandara
internasional soekarno hatta, bersama keluarga dan bebarapa sanak saudara. Kami
sepakat untuk bertemu di bandara, dengan komitmen satu jam lebih awal agar
tidak telat. Aku memeluk kedua orang tuaku, lagi-lagi aku menangis.
Hari ini adalah kali pertamaku naik
pesawat terbang, sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi tak apalah, pertama
kali, gratis dan sekaligus mengunakan penerbangan internasional, aku
menikmatinya, hasil kerja keras ku.
Aku mendarat di langit Australia
dengan selamat tepatnya di Camberra international airport, kemudian langsung
bergegas menuju rumah kedutaan besar di Sydney dan memulai petualanganku selama
tiga bulan di Australia. Terlepas dari berbagai macam kegiatan kampus, aku
mencoba untuk jalan-jalan sendiri, ini benar layaknya mimpi yang menjadi
kenyataan. Aku sampai di salah satu tempat yang cukup terkenal di Australia
yaitu oprah house, walaupun tidak sampai masuk, aku cukup puas, puas sekali.
Kini mimpiku setengah menjadi kenyataan, karena mimpiku yang ketiga adalah
melanjutkan S1 dan S2 ku di sini, namun kali ini aku hanya mampir sebentar
saja, tapi setidaknya, aku tengah menemukan titik tengah untuk menuju kesana.
Dan aku berbisik pada diriku sendiri,
“all things are possible for those
who believe …”
∞∞∞

0 komentar:
Post a Comment