Saturday, August 10, 2013

Curahan Anak Hujan


Ditulis Oleh: Iik Nurul Fatimah 


Hujan? Bagaimana kamu mengenalnya? Apa hadirnya membuat kamu bahagia atau mungkin sebaliknya. Sekilas aku melihat hujan bagai ketukan nada paling kacau yang ada di dunia. Bayangkan saja derap setiap tetes air hujan tak pernah seirama, mereka menyerbu tanpa tempo. Membuat beberapa insan yang mendengar menutup rapat – rapat telinga mereka. Belum lagi sahabat hujan yang paling ganas dan menakutkan. Keluarga besar Guntur. Siapa saja yang menghalangi dentumannya adik kecil Guntur, Kilat siap menyilaukan pandangan atau mungkin Kakak Petir yang akan menganggu dengan nyanyian yang begitu menggelegar.
Kadang hujan memang begitu menakutkan. Tapi,kadang hujanlah yang mampu menenangkan perasaan galau atau apapun perasaan yang paling menyakitkan. Aku bahagia ketika melihat hujan turun secara beraturan tanpa keluarga besar Guntur yang berpatisipasi. Mereka terlihat elok, dan cantik seperti hari ini. Aku senang melihat hujan turun. Nada yang kacau itu tidak ada , hanya tetes – tetes yang bertempo sedang mengguyur bumi asramaku tercinta. Aku terduduk melamun didepan blok kamar melihat anak – anak hujan yang turun dengan lembut. Beberapa temanku berlarian ke tempat pakaian. Melindungi jerih payah mencuci mereka atau yang lain berlarian sambil menutupi kepala mereka dengan tangan yang terlungkup, atau bahkan yang lain menari – nari bahagia di bawah hujan. Aku terkekeh sendiri melihat monrow dan edrow menggoyang – goyangkan tangan & kaki beriringan. Aku seperti melihat cuplikan video musik india.  Hanya saja mereka tak menggunakan selendang sutna yang selalu terkalung dileher penari india itu. Mereka terlihat bahagia. Mereka bahkan tak merasa malu ketika beberapa adik kelas yang melintap menertawai mereka.
 “ Ka besok haflah loh …” seru salah satu adik kelas yang sedari tadi mengawasi tirakan mereka. Mereka melirik kearahnya sejenak terpaku kepadanya lalu saling bertatap muka keduanya dan tertawa keras. Mereka tak menggubris setiap teriakan yang ada. Mereka tetap menari dibawah hujan. Di lain sisi, aku melihat Damar yang sedang sibuk menghitungi kardus- kardus didepan kamarnya. Menuliskan sesuatu disalah satu buku yang diambilnya dari kardus itu. Lama dia berkutat dengan penanya mengukir kata di dalam buku itu, sepertinya dia berpikir secara kesar. Terlihat dahinya yang mengerut.
“Lama banget sih ka ? “ Keluh Salman. Sepertinya salman sedang menungguinya.
“ Hehe, maaf nih “ ujarnya sambil meberi buku itu. Buku yang tak setebal bulughol ma’rom juga tak setipis buku Fiqih Wadhi.
 “Makasih” ucap Salman.
Damar terlihat sedang membagikan koleksian bukunya kepada adik kelas yang lumayan dekat ini. Hem.. !! dia memang cukup dekat dengan beberapa adik kelas. Kaka paling eksis di angkatan adik kelas . Warisan dong ? seolah ingin pergi selamanya saja. Padahal nanti juga kita masih bertemu. Walaupun dalam ruang lingkup yang berbeda. Memang semua hal dipinta menjadi barang turun temurun. Mulai dari Nametag sampai sarung bolong pun dipintannya. Mereka bilang agar menjadi kenangan simbolis untuk mereka. Entahlah ? kenapa mewarisi benda yang telah dipakai sebelumnya menjadi keharusan. Kadang aku tak enak hati , harus berbagi barang yang telah kupakai sebelumnya.
Miris… Kembali pada hujan yang tadi. Hujan yang mulai deras airnya yang jatuh membuat cipratan kecil kewajahku. Aku masih terduduk melamun. Memandangi setiap sudut asrama. Tidak terasa sekali, besok aku akan benar – benar meninggalkan tempat ini. Tempat yang telah meneduhi kusadari rasa dahaganya ilmu. Tempat ini telah membuat wlise cerita yang sangat menarik dalam perjalanan hidupku. Dan tempat ini pulalah, tempat aku bertemu cintaku. Aku jatuh cinta ditempat ini. Aku telah memilihnya sebagai orang yang terpatri disanubariku. Dia, Aqia gadis manis yang sangat suka tertawa. Aku telah menyukainya sejak aku duduk sekelas bersamanya. Namun, hingga hari ini , Hingga aku duduk diteras rayon ini pun aku masih memendam perasaan yang sangat indah ini. Aku hanya mampu memandanginya dari tempatku duduk.
Mengawasi segala tingkah lakunya yang terkadang membuatku tertawa sendiri. Entah dia merasa atau tidak kalau selama ini mataku tak pernah lepas tertuju padanya, kami memang dekat. Dan kedekatan  itu dimulai ketika  aku sekelas dengannya,dia menarik. Itu kesan pertamaku untuknya. Gadis tidak terlalu cantik namun entah mengapa dirinya mampu menyihir setiap mata untuk melihat dirinya bak putri yang sangat cantik. Sekilas dia terlihat biasa, potongan santriwati biasa. Dengan jilbab panjang seperut dan rok yang megar. Tapi, dia tak pernah terlihat sama dengan yang lain. Keceriaan yang dia hadirkan membuatnya terlihat lebih menarik dari Primadona sekalipun. Bila dilihat secara fisik, dia .. berkulit sawo matang, tinggi bonsor, dengant mata sipitnya. Bila dia diam, kerutan wajah jutek itu sangat tergambar. Aku selalu mencoba untuk menghindarinya bahwa selama ini aku mencintainya. Namun, sulit sekali untuk bilang cinta itu padanya. Aku terlalu segan untuk memilikinya sebagai kekasihku. Aku lebih nyaman dengannya yang akan tertawa besar atas leluconku, aku lebih nyaman dengannya yang selalu melipat kerudungnya di semua sisi. Aku lebih nyaman dengannya selalu menyuruhku membuang sampah setiap pagi dikelas. Aku lebih nyaman seperti itu. Aku pernah sangat kesal padanya dulu. Tiba – tiba saja kudengar kabar dia dekat dengan yang lain. Aku marah, dan memandangnya ketus sekali. Lucu yah aku ? aku marah padanya karena dia dekat dengan yang lain. Padahal karena aku pula yang tak pernah berani mengakuinya, benar katanya kelakian-lakianku harus diuji. Pernah suatu hari kucoba memberanikan diriku untuk memintanya menuliskan sesuatu dibuku baruku. Kala itu sedang naik daun sekali tren menuliskan kesan dan pesan terakhir di kelas tiga. Aku, tak mau ketinggalan barisan. Kubujuk dia untuk menulis di bukuku.
 “Nulis apa coba?“ tanyanya, suaranya yang lembut dan manja terdengar lebih tegas.
“Apa saja,“ Jawabanku singkat. Terlihat dia mengkerutkan dahinya sejenak.
 “Aku tak pintar menulis,“ rendahnya.
“Buat kenangan simbolis aja,“ rayuku.
“Mana? Sini aku tulis.“ kuserahkan bukunya, lama dia berkutat dengan penanya.
 Mengetuk-ngetukan penanya kekepalanya “Rudi…” teriaknya “nih udah!“ lanjutnya sambil memberikan bukunya lagi. Aku membukanya secara antusial. Kubuka hatiku sedikit berdegup lebih kencang dan ternyata disana tertulis ,
“ Rudi, semangat yah buat kuliah nanti. Jangan lupain Aqia yah!“
“GUBRAKKKKK.......“ cukup lama menulis, hanya ucapan semangat saja. Kumenoleh ke tempatnya duduk.
“ Bagus kan?“ tanyannya sambil tersenyum menahan tawa.
“Dikit banget “ .
Kan udah bilang, kalau gak biasa nulis.“ senyumnya lebih melebar. Membuat lingkaran unik dipipinya terukir.
Dia sangat manis memang, “makasih yah!“ kataku.
“ Marah?“ tanyannya cemas.
 “Gak kok! gak apa – apa.“
“ mukanya gak ikhlas gitu.“
“emang mukanya kayak gini dari sononya.“
“dih sini deh ditulis lagi .“
 “udah gak apa.”
“senyum dong!”
Nih!” ucapku sambil tersenyum lebar padanya, lagi dia tertawa geli melihatku.
“Fiuh…. “ kucoba menghela nafas, terlebih panjang nanti, setelah besok tak akan kulihat lagi tawanya itu. Atau mungkin mendegarnya merengek untuk meminta bantuanku melakukan sesuatu. Semua memang akan pergi . Kadang pergi dari tempat ini sangat kuinginkan. Menjauh dari segala aturan, omelan, rangkulan kemunafikan, tapi ternyata sebenarnya hari belum siap bahkan enggan untuk meninggalkan semua kisah yang telah terbalut dibalik tembok hijau ini.
 “Rudi…!“ seru seseorang padaku, terlihat jamal dan teman–teman yang lain bermandikan hujan dengan tiang besar yang digotongnya beramai–ramai panggilannya membuyarkan lamunan kecilku. Semua bayangan tentangnya berlarian diatas kepalaku.
“ Kenapa ? “ teriakku.
“Bantu nih!“ titahnya, tanpa banyak berfikir kuberlari ditengah hamburan hujan. Membiarkan langit membasahi tubuhku dengan hujannya. Dengan sigap, kuambil pernan dalam pembopongan ini. Hujan semakin deras, bajuku benar – benar basah kini.
“Hujan–hujanan terkahir,“ celotehku.
“Kaya mau mati aja?“ kilah Jamal semua yang mendengar malah tertawa geli.
“Loh kok ketawa ?“ Tanya Jamal heran .
“Mukanya  kayak karapan sapi, coba ngomong lagi!“ celetuk yang lain.
“Rese!“ sinisnya, wajahnya bertambah lucu ketika dia marah seperti  itu.
Bukannya membujuknya agar tidak marah, kami malah tertawa lebih besar lagi, kebersamaan  seperti ini pun, akan ikut pergi menghilang dan hanya membekas menjadi kenangan manis. Seperti Aqia yang juga akan menjadi kenangan paling indah yang akan Kuingat. Aku belum cukup berani untuk mengatakan apa yang ada dihatiku.
                Biarlah ia melekat dihati ini saja. Aku percaya jodoh tidak akan lari kemanapun. Seperti hujan yang akan turun disatu titik yang sama. Meski angin menerpanya , Dia akan tetap menetes di satu titik saja. Aku sangat percaya, apa yang telah ditakdirkan oleh Allah telah diperhitungkan dengan baik. Aku hanya berharap apa yang Allah takdirkan adalah dia, dan bukan yang lain. Dan hujan, bisikianlah padanya aku memikirnya sedari tadi. Dan sampaikanlah akulah orang yang selalu mengharapkannya.


∞∞∞

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: