Ditulis Oleh: Iik Nurul Fatimah
Hujan?
Bagaimana kamu mengenalnya? Apa hadirnya membuat kamu bahagia atau mungkin
sebaliknya. Sekilas aku melihat hujan bagai ketukan nada paling kacau yang ada
di dunia. Bayangkan saja derap setiap tetes air hujan tak pernah seirama,
mereka menyerbu tanpa tempo. Membuat beberapa insan yang mendengar menutup
rapat – rapat telinga mereka. Belum lagi sahabat hujan yang paling ganas dan
menakutkan. Keluarga besar Guntur. Siapa saja yang menghalangi dentumannya adik
kecil Guntur, Kilat siap menyilaukan pandangan atau mungkin Kakak Petir yang
akan menganggu dengan nyanyian yang begitu menggelegar.
Kadang
hujan memang begitu menakutkan. Tapi,kadang hujanlah yang mampu menenangkan
perasaan galau atau apapun perasaan yang paling menyakitkan. Aku bahagia ketika
melihat hujan turun secara beraturan tanpa keluarga besar Guntur yang
berpatisipasi. Mereka terlihat elok, dan cantik seperti hari ini. Aku senang
melihat hujan turun. Nada yang kacau itu tidak ada , hanya tetes – tetes yang
bertempo sedang mengguyur bumi asramaku tercinta. Aku terduduk melamun didepan
blok kamar melihat anak – anak hujan yang turun dengan lembut. Beberapa temanku
berlarian ke tempat pakaian. Melindungi jerih payah mencuci mereka atau yang
lain berlarian sambil menutupi kepala mereka dengan tangan yang terlungkup,
atau bahkan yang lain menari – nari bahagia di bawah hujan. Aku terkekeh
sendiri melihat monrow dan edrow menggoyang – goyangkan tangan & kaki
beriringan. Aku seperti melihat cuplikan video musik india. Hanya saja mereka tak menggunakan selendang
sutna yang selalu terkalung dileher penari india itu. Mereka terlihat bahagia.
Mereka bahkan tak merasa malu ketika beberapa adik kelas yang melintap menertawai
mereka.
“ Ka besok haflah loh …” seru salah satu adik
kelas yang sedari tadi mengawasi tirakan mereka. Mereka melirik kearahnya
sejenak terpaku kepadanya lalu saling bertatap muka keduanya dan tertawa keras.
Mereka tak menggubris setiap teriakan yang ada. Mereka tetap menari dibawah
hujan. Di lain sisi, aku melihat Damar yang sedang sibuk menghitungi kardus-
kardus didepan kamarnya. Menuliskan sesuatu disalah satu buku yang diambilnya
dari kardus itu. Lama dia berkutat dengan penanya mengukir kata di dalam buku
itu, sepertinya dia berpikir secara kesar. Terlihat dahinya yang mengerut.
“Lama banget sih ka ? “ Keluh Salman.
Sepertinya salman sedang menungguinya.
“ Hehe, maaf nih “ ujarnya sambil
meberi buku itu. Buku yang tak setebal bulughol ma’rom juga tak setipis buku
Fiqih Wadhi.
“Makasih” ucap Salman.
Damar
terlihat sedang membagikan koleksian bukunya kepada adik kelas yang lumayan
dekat ini. Hem.. !! dia memang cukup dekat dengan beberapa adik kelas. Kaka
paling eksis di angkatan adik kelas . Warisan dong ? seolah ingin pergi
selamanya saja. Padahal nanti juga kita masih bertemu. Walaupun dalam ruang
lingkup yang berbeda. Memang semua hal dipinta menjadi barang turun temurun.
Mulai dari Nametag sampai sarung bolong pun dipintannya. Mereka bilang agar
menjadi kenangan simbolis untuk mereka. Entahlah ? kenapa mewarisi benda yang
telah dipakai sebelumnya menjadi keharusan. Kadang aku tak enak hati , harus
berbagi barang yang telah kupakai sebelumnya.
Miris…
Kembali pada hujan yang tadi. Hujan yang mulai deras airnya yang jatuh membuat
cipratan kecil kewajahku. Aku masih terduduk melamun. Memandangi setiap sudut
asrama. Tidak terasa sekali, besok aku akan benar – benar meninggalkan tempat
ini. Tempat yang telah meneduhi kusadari rasa dahaganya ilmu. Tempat ini telah
membuat wlise cerita yang sangat menarik dalam perjalanan hidupku. Dan tempat
ini pulalah, tempat aku bertemu cintaku. Aku jatuh cinta ditempat ini. Aku
telah memilihnya sebagai orang yang terpatri disanubariku. Dia, Aqia gadis
manis yang sangat suka tertawa. Aku telah menyukainya sejak aku duduk sekelas
bersamanya. Namun, hingga hari ini , Hingga aku duduk diteras rayon ini pun aku
masih memendam perasaan yang sangat indah ini. Aku hanya mampu memandanginya
dari tempatku duduk.
Mengawasi
segala tingkah lakunya yang terkadang membuatku tertawa sendiri. Entah dia
merasa atau tidak kalau selama ini mataku tak pernah lepas tertuju padanya,
kami memang dekat. Dan kedekatan itu
dimulai ketika aku sekelas dengannya,dia
menarik. Itu kesan pertamaku untuknya. Gadis tidak terlalu cantik namun entah
mengapa dirinya mampu menyihir setiap mata untuk melihat dirinya bak putri yang
sangat cantik. Sekilas dia terlihat biasa, potongan santriwati biasa. Dengan
jilbab panjang seperut dan rok yang megar. Tapi, dia tak pernah terlihat sama
dengan yang lain. Keceriaan yang dia hadirkan membuatnya terlihat lebih menarik
dari Primadona sekalipun. Bila dilihat secara fisik, dia .. berkulit sawo
matang, tinggi bonsor, dengant mata sipitnya. Bila dia diam, kerutan wajah
jutek itu sangat tergambar. Aku selalu mencoba untuk menghindarinya bahwa
selama ini aku mencintainya. Namun, sulit sekali untuk bilang cinta itu
padanya. Aku terlalu segan untuk memilikinya sebagai kekasihku. Aku lebih
nyaman dengannya yang akan tertawa besar atas leluconku, aku lebih nyaman
dengannya yang selalu melipat kerudungnya di semua sisi. Aku lebih nyaman
dengannya selalu menyuruhku membuang sampah setiap pagi dikelas. Aku lebih
nyaman seperti itu. Aku pernah sangat kesal padanya dulu. Tiba – tiba saja
kudengar kabar dia dekat dengan yang lain. Aku marah, dan memandangnya ketus
sekali. Lucu yah aku ? aku marah padanya karena dia dekat dengan yang lain.
Padahal karena aku pula yang tak pernah berani mengakuinya, benar katanya
kelakian-lakianku harus diuji. Pernah suatu hari kucoba memberanikan diriku
untuk memintanya menuliskan sesuatu dibuku baruku. Kala itu sedang naik daun
sekali tren menuliskan kesan dan pesan terakhir di kelas tiga. Aku, tak mau
ketinggalan barisan. Kubujuk dia untuk menulis di bukuku.
“Nulis apa coba?“ tanyanya, suaranya yang
lembut dan manja terdengar lebih tegas.
“Apa saja,“ Jawabanku singkat.
Terlihat dia mengkerutkan dahinya sejenak.
“Aku tak pintar menulis,“ rendahnya.
“Buat kenangan simbolis aja,“ rayuku.
“Mana? Sini aku tulis.“ kuserahkan
bukunya, lama dia berkutat dengan penanya.
Mengetuk-ngetukan penanya kekepalanya “Rudi…”
teriaknya “nih udah!“ lanjutnya
sambil memberikan bukunya lagi. Aku membukanya secara antusial. Kubuka hatiku
sedikit berdegup lebih kencang dan ternyata disana tertulis ,
“ Rudi, semangat yah buat kuliah
nanti. Jangan lupain Aqia yah!“
“GUBRAKKKKK.......“ cukup lama
menulis, hanya ucapan semangat saja. Kumenoleh ke tempatnya duduk.
“ Bagus kan?“ tanyannya sambil
tersenyum menahan tawa.
“Dikit banget “ .
“Kan
udah bilang, kalau gak biasa nulis.“ senyumnya lebih melebar. Membuat lingkaran
unik dipipinya terukir.
Dia sangat manis memang, “makasih
yah!“ kataku.
“ Marah?“ tanyannya cemas.
“Gak kok! gak apa – apa.“
“ mukanya gak ikhlas gitu.“
“emang mukanya kayak gini dari
sononya.“
“dih sini deh ditulis lagi .“
“udah gak apa.”
“senyum dong!”
“Nih!”
ucapku sambil tersenyum lebar padanya, lagi dia tertawa geli melihatku.
“Fiuh…. “ kucoba menghela nafas,
terlebih panjang nanti, setelah besok tak akan kulihat lagi tawanya itu. Atau mungkin
mendegarnya merengek untuk meminta bantuanku melakukan sesuatu. Semua memang
akan pergi . Kadang pergi dari tempat ini sangat kuinginkan. Menjauh dari
segala aturan, omelan, rangkulan kemunafikan, tapi ternyata sebenarnya hari
belum siap bahkan enggan untuk meninggalkan semua kisah yang telah terbalut
dibalik tembok hijau ini.
“Rudi…!“ seru seseorang padaku, terlihat jamal
dan teman–teman yang lain bermandikan hujan dengan tiang besar yang digotongnya
beramai–ramai panggilannya membuyarkan lamunan kecilku. Semua bayangan
tentangnya berlarian diatas kepalaku.
“ Kenapa ? “ teriakku.
“Bantu nih!“ titahnya, tanpa banyak
berfikir kuberlari ditengah hamburan hujan. Membiarkan langit membasahi tubuhku
dengan hujannya. Dengan sigap, kuambil pernan dalam pembopongan ini. Hujan
semakin deras, bajuku benar – benar basah kini.
“Hujan–hujanan terkahir,“ celotehku.
“Kaya mau mati aja?“ kilah Jamal semua
yang mendengar malah tertawa geli.
“Loh kok ketawa ?“ Tanya Jamal heran .
“Mukanya kayak karapan sapi, coba ngomong lagi!“
celetuk yang lain.
“Rese!“ sinisnya, wajahnya bertambah
lucu ketika dia marah seperti itu.
Bukannya
membujuknya agar tidak marah, kami malah tertawa lebih besar lagi,
kebersamaan seperti ini pun, akan ikut
pergi menghilang dan hanya membekas menjadi kenangan manis. Seperti Aqia yang
juga akan menjadi kenangan paling indah yang akan Kuingat. Aku belum cukup
berani untuk mengatakan apa yang ada dihatiku.
Biarlah
ia melekat dihati ini saja. Aku percaya jodoh tidak akan lari kemanapun. Seperti
hujan yang akan turun disatu titik yang sama. Meski angin menerpanya , Dia akan
tetap menetes di satu titik saja. Aku sangat percaya, apa yang telah
ditakdirkan oleh Allah telah diperhitungkan dengan baik. Aku hanya berharap apa
yang Allah takdirkan adalah dia, dan bukan yang lain. Dan hujan, bisikianlah
padanya aku memikirnya sedari tadi. Dan sampaikanlah akulah orang yang selalu
mengharapkannya.
∞∞∞

0 komentar:
Post a Comment