Ketika kududuk dibangku SMA tanpa disengaja Aku memperhatikan orang lain, tanpa kusadari kumulai berempati kepada orang itu, hingga akhirnya apa yang ia biasa lakukan setiap hari akupun mengikutinya di dalam kehidupanku dan mencoba menerapkannya dalam keseharianku mungkin karena rasa kagum akan dirinya.
Dan hal itu berlangsung terlalu lama hingga pada waktunya kesadaran untuk menjadi diri sendiri memang mutlak diperlukan karena aku bukan dia dan dia bukan aku, kita berdua memang dari satu jenis yang sama yaitu manusia tetapi semua yang ada pada diri aku berbeda dengan apa yang ada pada dirinya...
Karena aku dan dia memiliki kehidupan yang berbeda, disitulah kesadaran untuk menjadi diri sendiri muncul, mencoba menampakannya pada orang lain agar terbiasa menunjukannya bahwa inilah aku, inilah diriku, inilah hidupku.
Memang seringkali kita meniru orang lain atas apa saja yang menurut kita bisa membuat senang dan hal itu dimulai dengan melihat, melihat disekeliling kehidupan. Mata adalah sesuatu yang berharga yang dikaruniakan tuhan kepada kita, kita bisa melihat apa saja yang kita inginkan tetapi apakah kita menggunakan dengan seenaknnya saja? tanpa memikirkan bahwa mata kita hanya titipan sang ilahi rabbi dan kelak pasti akan diminta pertanggung jawaban olehnya, apakah kita sudah menggunakannya secara benar dan bijak? apakah kalian sadar? bahwa sesungguhnya kita diamanati oleh ilahi untuk menjaga semua titipannya? tapi begitulah seringkali kita lupa.
Dimulai dari melihat, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, kita bisa memandang keindahan pohon yang rindang.
Hal itu dimulai dari melihat.
Dimulai dari melihat, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, kita bisa memandang keindahan pohon yang rindang.
Hal itu dimulai dari melihat.

0 komentar:
Post a Comment