Ummi Sang Mujahid bag. 1
Ikhwatal iman...
Jika antum ditanya, siapakah pahlawan yang
senantiasa mewarnai lembaran perjuangan islam? Pasti yang bermunculan dalam
benak kita adalah nama-nama harum seperti Anas bin Malik, Al Hasan, Al Husein,
Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan sederet pahlawan islam lainnya.
Memang benar, mereka telah berkorban banyak untuk
islam dan muslimin. Seolah setiap hembusan nafas, tetesan keringat, denyut
nadi, air mata, darah, derap langkah, mereka korbankan untuk islam.
Sungguh.. sungguh kerdilnya kita di hadapan
mereka!
Namun, taukah akhi siapakah pemeran utama dibalik
kesuksesan mereka -setelah Allah tentunya-?
Bunda. Iya, bunda. Atau kita panggil saja Ummi.
Para kaum ummi adalah inspirasi hampir setiap
ulama. Jiwa rela berkorban yang dimiliki ulama telah terpatri kuat dalam kalbu
saat mereka melihat pengorbanan ummi.
Ummi yang selalu mengikatkan imamah saat sebelum
ulama pergi ke kuttab (madrasah Alqur'an). Ummi yang selalu menyeka air mata
saat air mata ulama tertumpah. Ummi yang tak pernah lupa mendoakan kesuksesan
para ulama saat semua orang belum sadar kedudukannya, Ummi yang tak kenal lelah
dan bosan merawat ulama. Ummi yang rela menjual rumah demi keberhasilan
tholabul ilmi ulama.
Perjuangan.. pengorbanan itulah yang para ulama
dapatkan dari ummi.
Dalam adagium arab dikatakan "Al Umm
Shooni'atur Rijaal", "Ummi adalah pencetak jagoan".
Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi, motivasi
dan hiburan untuk para kaum ummi.
Tak lupa pula, kisah ini ana kirim spesial untuk
Ummi tercinta di Solo, Allahu yubaariku fiiki.
________~~~~________
Hari itu, di salah satu sudut masjid nabawi
berkumpullah Abu Qudamah dan para sahabatnya.
Dihati para sahabatnya, Abu Qudamah adalah orang
yang sangat dikagumi. Itu karena Abu Qudamah adalah seorang mujahid. Berjihad
dari satu front ke medan-medan jihad lainnya. Seolah hidup beliau, beliau
persembahkan untuk berjihad.
Debu yang beterbangan, kilatan pedang, hempasan
anak panah, derap kuda adalah hal yang sudah biasa bagi beliau. Pengalaman,
tragedi, kisah dan momen pun telah banyak beliau saksisan di setiap gelanggang
perjuangan jihad.
"Abu Qudamah, ceritakanlah pada kami kisah
paling mengagumkan di hari-hari jihadmu," tiba-tiba salah seorang
sahabatnya meminta.
"Ya," jawab Abu Qudamah.
________~~~~________
Beberapa tahun lalu. . .
Aku singgah di kota Recca. Aku ingin membeli onta
untuk membawa persenjataanku.
Saat aku sedang bersantai di penginapan,
keheningan pecah oleh suara ketukan.
Ku buka ternyata seorang perempuan.
"Engkaukah Abu Qudamah?" tanyanya.
"Engkaukah yang menghasung umat manusia untuk
berjihad?" pertanyaannya yang kedua.
"Sungguh, Allah telah menganugrahiku rambut
yang tak dimiliki wanita lain. Kini aku telah memotongnya. Aku kepang agar bisa
menjadi tali kekang kuda. Aku pun telah menutupinya dengan debu agar tak
terlihat.
Aku berharap sekali agar engkau membawanya. Engkau
gunakan saat menggempur musuh, saat jiwa kepahlawananmu merabung. Engkau
gunakan bersamaan saat kau menghunus pedang, saat kau melepaskan anak panah dan
saat tombak kau genggam erat.
Kalau pun engkau tak membutuhkan, ku mohon
berikanlah pada mujahid yang lain. Aku berharap agar sebagian diriku ikut di
medan perang, menyatu dengan debu-debu fy sabilillah.
Aku adalah seorang janda. Suamiku dan karib
kerabatku, semuanya telah mati syahid fy sabilillah. Kalau pun syariat
mengizinkan aku berperang, aku akan memenuhi seruannya," ungkapnya sembari
menyerahkan kepangan rambutnya.
Aku hanya diam membisu. Mulutku kelu walau tuk
mengucapkan "iya".
"Abu Qudamah, walaupun suamiku terbunuh,
namun ia telah mendidik seorang pemuda hebat. Tak ada yang lebih hebat darinya.
Ia telah menghapal Alqur'an. Ia mahir berkuda dan
memanah. Ia senantiasa sholat malam dan berpuasa di siang hari.
Kini ia berumur 15 tahun. Ialah generasi penerus
suamiku. Mungkin esok ia akan bergabung dengan pasukanmu. Tolong terimalah dia.
Aku persembahkan dia untuk Allah. Ku mohon jangan halangi aku dari
pahala," kata-kata sendu terus mengalir dari bibirnya.
Adapun aku masih diam membisu. Memahami kalimat
per kalimat darinya. Lalu tanpa sadar perhatianku tertuju pada kepangan
rambutnya.
"Letakkanlah dalam barang bawaanmu agar
kalbuku tenang," pintanya tahu aku memperhatikan kepangan rambutnya.
Aku pun segera meletakkannya bersama barang
bawaanku. Seolah aku tersihir dengan kata-kata dan himmahnya yang begitu
mengharukan.
(bersambung Insya Alloh...)
Dikirim oleh Al-akh Yahya Al-Windany
(Salah satu Thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
����������

0 komentar:
Post a Comment