UMMI
SANG MUJAHID (bag.4)
Dimana
pemuda itu ?
Ku
berusaha mencari di tengah medan laga. Ternyata dia di barisan depan pasukan
muslimin. Dia merangsek maju, menyibak skuadron kuffar dan memporak porandakan
barisan mereka.
Dia
bertempur dengan hebatnya. Dia mampu melumpuhkan begitu banyak pasukan kuffar.
Namun
begitu, tetap saja hati ini tak tega melihatnya. Aku segera menyusulnya di
depan.
"Kawan,
kau masih terlalu muda. Kau tak tahu betapa liciknya pertempuran. Kembalilah ke
belakang," teriakku mencoba menyaingi suara riuh pertempuran, sambil
menarik tali kekang kudanya.
"Paman,
tidakkah kau membaca ayat
{{
wahai segenap kaum mukmin, jika kalian telah bercampuh dengan kaum kuffar, maka
janganlah kalian mundur ke belakang }} [Al Anfall:15].
Sudikah
engkau aku masuk neraka ?" serunya menimpali
Saat
kucoba memahamkannya, serbuan kavelari kuffar memisahkan kami.
Aku
berusaha mengejarnya, namun sia-sia. Peperangan semakin bergejolak.
Dalam
kancah pertempuran, terdengarlah derap kaki kuda diiringi gemerincing pedang
dan hujan panah.
Lalu
mulailah kepala berjatuhan satu persatu. Bau anyir darah tercium dimana-mana.
Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah
darah.
Demi
Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan
melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak
henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak. Kedua pasukan bertempur
habis-habisan.
Saat
perang usai, aku segera mencari si pemuda. Terus mencari di medan laga. Aku
khawatir dia termasuk yang terbunuh. Aku berkeliling mengendarai kuda di
sekitar kumpulan korban. Mayat demi mayat, sungguh wajah mereka tak dapat
dikenali, saking banyaknya darah bersimbah dan debu menutupi.
Dimana
sang pemuda ?
Aku
terus melanjutkan pencarian. Dan tiba-tiba aku mendengar suara lirih, ”Kaum
muslimin, panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari!”
Itu
suaranya, teriakku dalam kalbu. Kucari sumber suara, ternyata benar, si pemuda.
Berada di tengah-tengah kuda bergelimpangan. Wajahnya bersimbah darah dan
tertutup debu. Hampir aku tak mengenalnya.
Aku
segera mendatanginya.
"Aku
di sini! Aku di sini! Aku Abu Qudamah!" isakku tak kuasa menahan tangis.
Aku sisingkan sebagian kainku dan mengusap darah yang menutupi wajah polosnya.
"Paman,
demi Rabb ka'bah, aku telah meraih mimpiku. Akulah putra ibu pemilik rambut
kepang itu. Aku telah berbakti padanya, ku kecup keningnya dan ku hapus debu
dan darah yang terkadang mengalir di wajahnya," kenangnya. Sungguh aku
benar-benar tak kuasa dengan kejadian ini.
"Kawan,
janganlah kau lupakan pamanmu ini. Berilah dia syafa'at nanti di hari
kiamat."
"Orang
sepertimu tak kan pernah kulupakan."
"Jangan!"
serunya lagi saat kucoba mengusap wajahnya.
"Jangan
kau usap wajahku dengan kainmu. Kainku lebih berhak untuk itu. Biarkanlah darah
ini mengalir hingga aku menemui Rabb-ku, paman.
Paman,
lihatlah, bidadari yang pernah kuceritakan padamu ada di dekatku. Dia menunggu
ruhku keluar. Dengarkanlah kata-katanya; "sayang, bersegeralah. Aku
rindu."
Paman,
demi Allah, tolong bawalah bajuku yang berlumuran darah ini untuk ummi.
Serahkanlah padanya, agar beliau tahu aku tak pernah menyia-nyiakan petuahnya.
Juga agar beliau tahu aku bukanlah pengecut melawan kaum kafir yang busuk itu.
Sampaikanlah salam dariku dan katakan hadiahmu telah diterima Allah.
Paman,
saat berkunjung ke rumah nanti, kau akan bertemu adik perempuanku. Usianya
sekitar sepuluh tahun. Jika aku datang, ia sangat gembira menyambutku. Dan jika
aku pergi, ia paling tidak mau kutinggalkan.
Saat
ku meninggalkannya kali ini, ia mengharapkanku cepat kembali. "Kak, cepat
pulang, ya." Itulah kata-katanya yang masih terngiang di telingaku.
Jika
engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya dan katakan; Allah-lah yang
akan menggantikan kakak sampai hari kiamat, "
kata-katanya
terus membuat air mataku meleleh. Menetes dan terus menetes membuat aliran
sungai di pipi.
"Asyhadu
alla ilaaha illalloh, wahdahu laa syarikalah, sungguh benar janji-Nya. Wa
asyhadu anna muhammadarrosululloh. Inilah apa yang djanjikan Allah dan
rasul-Nya dan nyatalah apa yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya," itulah
kata-kata terakhirnya sebelum ruh berlepas dari jasadnya.
Lalu
aku mengkafaninya dan menguburkannya.
Aku
harus segera ke Recca, tekadku.
(bersambung,
insyaAllah)
________oo0oo________
Saat
menulis ini, kupersembahkan air mata cinta dan rindu untuk kedua adikku di
Solo. Allahu yubarik fykum. Wa nas-alulloha al ikhlash.
Dikirim
oleh Al-akh Yahya Al-Windany (salah satu Thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
WA
Thullab alfiyusy

0 komentar:
Post a Comment