Ummi Sang Mujahid (bag.2)
Kesekoan harinya, aku bersama pasukan beranjak
meninggalkan Recca.
Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul
Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang
memanggil-manggil.
"Abu Qudamah!" serunya.
"Abu Qudamah, tunggu sebentar, semoga Allah
merahmatimu."
Kaki pun terhenti. Lalu aku berpesan kepada
pasukan, "tetaplah di tempat hingga aku mengetahui orang ini."
Dia mendekat dan memelukku.
"Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan
menjadi pasukanmu. Sungguh Dia tidak ingin aku gagal," ucapnya
"Kawan, singkaplah kain penutup kepalamu
dahulu," pintaku.
Ia pun menyingkapnya. Ternyata wajahnya bak bulan
purnama. Terpancar darinya cahaya ketaatan.
"Kawan, apakah engkau memiliki Abi?"
tanyaku.
"Justru aku keluar bersamamu hendak menuntut
balas kematian Abi. Dia telah mati syahid. Semoga saja Allah menganugrahiku
syahid seperti Abi," jawabnya.
"Lalu, bagaimana dengan Ummi? Mintalah restu
darinya terlebih dahulu. Jika merestui, ayo. Jika tidak, layanilah beliau.
Sungguh baktimu lebih utama dibandingkan jihad. Memang, jannah di bawah
bayangan pedang, namun juga di bawah telapak kaki ibu."
"Duhai Abu Qudamah. Tidakkah engkau
mengenaliku."
"Tidak."
"Aku putra pemilik titipan itu. Betapa
cepatnya engkau melupakan titipan Ummi, pemilik kepangan rambut itu.
Aku, insya Allah, adalah seorang syahid putra
seorang syahid. Aku memohon kepadamu dengan nama Allah, jangan kau halangi aku
ikut berjihad fy sabilillah bersamamu.
Aku telah menyelesaikan Alquran. Aku juga telah
mempelajari sunnah Rasul. Pun aku lihai menunggang kuda dan memanah.
Tak ada seorang pun lebih berani dariku. Maka,
janganlah kau remehkan aku hanya karena aku masih belia.
Ummi telah bersumpah agar aku tidak kembali.
Beliau berpesan; Nak, jika kau telah melihat musuh, jangan pernah kau lari.
Persembahkanlah ragamu untuk Allah. Carilah kedudukan di sisi Allah. Jadilah
tetangga Abimu dan paman-pamanmu yang sholeh di jannah. Jika nantinya kau
menjadi syahid, jangan kau lupakan Ummi. Berilah Ummi syafa'at. Aku pernah
mendengar faedah bahwa seorang syahid akan memberi syafaat untuk 70 orang
keluarganya dan juga 70 orang tetangganya.
Ummi pun memelukku dengan erat dan mendongakkan
kepalanya ke langit;
Rabbku.. Maulaku.. Inilah putraku, penyejuk jiwaku,
buah hatiku.. aku persembahkan ia untukmu. Dekatkanlah ia dengan ayahnya,"
terang sang pemuda
Kata-katanya terus mendobrak tanggul air mataku.
Dan akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku tersedu-sedu. Aku tak
tega melihat wajahnya yang masih muda, namun begitu tinggi tekadnya. Aku pun
tak bisa membayangkan kalbu sang ibu. Betapa sabarya ia.
Melihatku menangis, sang pemuda bertanya,
"Paman, apa gerangan tangisanmu ini? Jika sebabnya adalah usiaku, bukankah
ada orang yang lebih muda dariku, namun Allah tetap mengadzabnya jika
bermaksiat!?"
"Bukan," aku segera menyanggah.
"Bukan lantaran usiamu. Namun aku menangis
karena kalbu ibumu. Bagaimana jadinya nanti jika engkau gugur?"
Akhirnya aku menerimanya sebagai bagian dari
pasukan. Siang malam si pemuda tak pernah jemu berdzikir kepada Allah ta'ala.
Saat pasukan bergerak, ia yang paling lincah mengendalikan kuda. Saat pasukan
berhenti istirahat, ia yang paling aktif melayani pasukan. Semakin kita
melangkah, tekadnya juga semakin membuncah, semangatnya semakin menjulang,
kalbunya semakin lapang dan tanda-tanda kebahagiaan semakin terpancar darinya.
(bersambung, insyaAllah)
Dikirim oleh Al-akh yahya Al-Windany
(Salah satu Thulab di Darul Hadist Fuyus, Yaman)
Forward:
Forum WA. Thullab Al Fiyusy

0 komentar:
Post a Comment