������UMMI
SANG MUJAHID (bag.3)������
Kami
terus berjalan menyusuri hamparan bumi nan luas. Hingga kami tiba di medan laga
bersamaan dengan bersiap-siapnya matahari untuk terbenam.
Sesampainya,
sang pemuda memaksakan diri menyiapkan hidangan berbuka untuk pasukan. Memang,
hari itu kami berpuasa. Dan dikarenakan hal inilah juga khidmatnya kepada
pasukan selama perjalanan, dia tertidur pulas. Pulas sekali hingga kami iba
membangunkan. Akhirnya, kami sendiri yang menyiapkannya dan membiarkan si pemuda
tidur.
Saat
tidur, tiba-tiba bibirnya mengembang menghiasi wajahnya.
"Lihatlah,
ia tersenyum!" kataku pada teman keheranan.
Setelah
bangun, aku bertanya padanya, "kawan, saat tertidur kau tersenyum. Apa
gerangan mimpimu?"
"Aku
mimpi indah sekali. Membuatku bahagia," jawabnya.
"Ceritakanlah
padaku!" pintaku penasaran.
"Aku
seperti di sebuah taman hijau nan permai. Indah sekali. Pemandangannya menarik
kalbuku untuk berjalan-jalan.
Saat
asyik berjalan, tiba-tiba aku berdiri di depan istana perak, balkonnya dari
batu permata dan mutiara serta pintu-pintunya dari emas.
Sayang,
tirai-tirainya terjuntai, menghalangiku dari bagian dalam istana. Namun tak
lama, keluarlah gadis-gadis menyingkap tirai-tirainya. Sungguh wajah mereka
bagaikan rembulan. Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, amboi
cantiknya.
"Marhaban,"
kata salah seorang dari mereka tahu ku memandanginya.
Aku
pun tak tahan hendak menjulurkan tangan menyentuhnya. Belum sampai tangan ini
menyentuh, dia berkata,
"Belum.
Ini belum waktunya. Janganlah terburu-buru."
Telingaku
juga menangkap sebuah suara salah seorang mereka, "Ini suami Al
Mardhiyah."
Mereka
berkata kepadaku, "kemarilah, yarhamukalloh."
Baru
saja kakiku hendak melangkah, ternyata mereka telah berdiri di depanku.
Mereka
membawaku ke atas istana. Di sebuah kamar, seluruhnya dari emas merah yang
berkilauan indahnya. Dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau
dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih.
Dan
diatasnya. . .
seorang
gadis belia dengan wajah bersinar lebih indah dari sekedar rembulan!! Kalaulah
Allah tidak memantapkan kalbu dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan
hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya!!
"Marhaban,
ahlan wa sahlan, duhai wali Allah. Sungguh engkau adalah milikku dan aku adalah
milikmu" katanya menyambutku, membuatku tak terasa hendak memeluknya.
"Sebentar.
Janganlah terburu-buru. Belum waktunya.
Aku
berjanji padamu, kita bertemu besok selepas sholat dhuhur. Bergembiralah,"
sang pemuda mengakhiri kisahnya.
Lalu,
aku berusaha membangkitkan himmahnya, "Kawan, mimpimu begitu indah. Engkau
akan melihat kebaikan nantinya,"
Kami
pun bermalam dengan perasaan takjub dan kagum akan mimpi sang pemuda.
Esok
hari, kami bersiap menghadapi kaum kafir. Barisan diluruskan, formasi dan
strategi dimatangkan, senjata tergenggam kuat dan tali kekang kuda dipegang
erat.
Semangat
pun semakin berkobar saat mendengar hasungan, "wahai segenap para tentara
Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian. Bergembiralah dengan jannah. Majulah
kalian, baik terasa ringan oleh kalian ataupun terasa berat."
Tak
lama, skuadron pasukan kuffar tiba dihadapankan kami. Banyak sekali, bagaikan
belalang yang menyebar kemana-mana.
Perang
campuh pun terjadi. Kesunyian pagi hari sontak terpecah oleh teriakan skuadron
kuffar dan gema takbir kaum muslimin. Suara senjata yang saling beradu, berbaur
dengan riuh rendah suara para prajurit yang sedang bertaruh nyawa.
Tiba-tiba
aku mengkhawatirkan pemuda itu. Iya, dimana pemuda itu...
(bersambung,
insyaAllah)
(Dikirim
oleh al-akh yahya Al-Windany, salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
������WA
THULLAB ALFIYUSY ������

0 komentar:
Post a Comment