UMMI
SANG MUJAHID (bag.5/terakhir)
Aku
segera pergi ke Recca. Tak lain dan tak bukan tujuanku hanyalah ibu si pemuda.
Celakanya
aku, aku belum mengetahui nama si pemuda dan di mana rumahnya. Aku
berkelililing ke seluruh kota Recca. Setiap sudut, gang dan jalan ku telusuri.
Dan akhirnya aku mendapatkan seorang gadis mungil. Wajahnya bersinar mirip si
pemuda.
Ia
melihat-lihat setiap orang yang berlalu didepanya. Tiap kali melihat orang baru
datang dari bepergian, ia bertanya,
“Paman,
anda datang darimana?”
“Aku
datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau
begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya
“Aku
tak kenal, siapa kakakmu.” kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu
lewatlah orang kedua dan tanyanya,
“Paman,
anda datang dari mana?”
“Aku
datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku
ada bersamamu?”, tanya gadis itu.
“Aku
tak kenal, siapa kakakmu.” jawabnya sambil berlalu.
Gadis
itu pun tak bisa menahan rindu kepada sang kakak. Sambil terisak-isak, dia
berkata,"mengapa mereka semua kembali dan kakakku tak kunjung kembali?”
Aku
iba kepadanya. Ku coba menghampiri tanpa membawa ekspresi kesedihan.
"Adik
kecil, bilang sama Ummi, Abu Qudamah datang."
Mendengar
suaraku, sang ibu keluar.
"Assalamu'alaiki,"
salamku.
"Wa'alaikum
salam," jawabnya.
"Engkau
ingin memberiku kabar gembira atau berbela sungkawa?" lanjutnya.
"Maksud,
ibu ?"
"Jika
putraku datang dengan selamat, berarti engkau berbela sungkawa. Jika dia mati
syahid, berarti engkau kemari membawa kabar gembira," terangnya.
"Bergembiralah.
Allah telah menerima hadiahmu."
Ia
pun menangis terharu.
"Benarkah?"
"Iya."
Benar-benar
ia tak kuasa menahan tangis.
"Alhamdulillah.
Segala puji milik Allah yang telah menjadikannya tabunganku di hari
kiamat," pujinya kepada Zat Yang Maha Kuasa.
________oo0oo________
Para
sahabat Abu Qudamah mendengarkan kisahnya dengan penuh kekaguman.
"Lalu
gadis kecil itu bagaimana?" tanya salah seorang dari mereka.
"Dia
mendekat kepadaku. Dan kukatakan padanya, "Kakakmu menitipkan salam padamu
dan berkata; dik, Allah-lah yang menggantikanku sampai hari kiamat nanti"
Tiba-tiba
dia menangis sekencang-kencangnya. Wajahnya pucat. Terus menangis hingga tak
sadarkan diri. Dan setelah itu nyawanya tiada.
Sang
ibu mendekapnya dan menahan sabar atas semua musibah yang menimpanya.
Aku
benar-benar terharu melihat kejadian ini. Aku serahkan padanya sekantong uang,
berharap bisa mengurangi bebannya.
��Sang
ibu pun melepas kepergianku. Aku meninggalkan mereka dengan kalbu yang penuh
kekaguman, ketabahan sang ibu, sifat ksatria sang pemuda dan cinta gadis kecil
itu kepada kakaknya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
yaR
Rohman yaR Rohiim
Kabulkanlah
seuntai do'a kami.
Memang
terasa berat meniti jalan jannah-Mu. Syahwat yang selalu menyambar, syubhat
yang terus menghantam, setan yang tak pernah menyerah dan nafsu jahat yang
senantiasa memberontak. Sedangkan kalbu ini lemah, ya Rabb.
Kalaulah
bukan karena-Mu, tidaklah kami ini berislam. Tidak pula mengerjakan sholat,
tidak pula bersedekah.
Teguhkanlah
kaki kami di atas jalan-Mu ini
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
��Diterjemahkan
dengan beberapa editing tanpa merubah tujuan dan makna dari kitab 'Uluwwul
Himmah indan Nisaa', 212-217.
Lihat
juga:
1.
Masyari'ul Asywaqi ila mashori'il Usysyaqi: 1/285-290.
2.
Sifatush Shofwah: 2/369-370
3.
Tarikh Islam: 1/214-215
Dikirim
oleh Al-akh Yahya Al-Windany(salah satu thulab di Darul Hadist Fuyus,Yaman)
��������
WA
Thullab Alfiyusy

1 komentar:
aih..templatenya kok sama -_-
Post a Comment