Thursday, February 27, 2014

Sang Perantau Ragawi (Kata Hati #2)

Mantra-manta yang dulu diajarkan kepadaku membekas sampai hari ini, sampai aku benar-benar dalam perantauan yang sesungguhnya (Namu bukan sebenarnya juga, karena telapak tanganku masih menghadap kearah langit yang cerah). Terpisahakan oleh jarak yang amat jauh dari keluarga tercinta, bertemu keluarga baru yang nantinya menghiasi hari-hari dengan semestinya. 
Memang hidup diperantauan tak semudah dengan apa yang kita pikirkan. Lebih-lebih kerinduan kepada sang matahari dan bulan yang berada dirumah. Sebuah matahari yaitu seorang Ayah yang sinarnya abadi, hingga kelak waktu yang akan menjawab dan sebuah bulan yaitu seorang ibu yang sinarnya menerangi kegelapan, walaupun kegelapan itu sangat peka.
Inilah Mantra-mantra yang memang menemaniku diperantauan.

_Sang Perantau Ragawi_

Merantaulah….

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam.

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafi’i)

#Semoga Bermanfaat

If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: