Tuesday, May 13, 2014

Mencari Ilmu, untuk apa?

Mengembalikan Tujuan Pendidikan
Oleh : Savran Billahi

              “Ilmu meninggalkan pencarian kebenaran dan beralih untuk mencari kekuatan”,inilah ketakutan dan ungkapan kritis Francis Bacon, seorang filsuf sekaligus penulis asal Inggris, terhadap dunia pendidikan. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan berbentuk materi. Ia beranggapan bahwa kemajuan zaman dapat menenggelamkan manusia ke dalam perbudakan materi. Lebih jauh, keluhuran moral dan kepekaan ruhaniah dapat merosot dan hilang. Manusia bahkan dapat tenggelam ke dunia bekerja untuk mengonsumsi dan mengonsumi untuk bekerja.

             Sejatinya ramalan tersebut terjadi zaman sekarang, ini dapat dilihat ketika banyak orang, biasanya orangtua, bertanya kepada anaknya tentang pemilihan jurusan dan universitas; mau kerja apa nanti? Pertanyaan ini seakan menunjukkan bahwa kekayaan mater iadalah tujuan dari pendidikan. Pada akhirnya, pertanyaan sederhana ini memunculkan diskriminasi instansi pendidikan dan jurusan di dunia perkuliahan.

Ironis, bila pendidikan yang bertujuan memerdekakan dan memanusiakan manusia akhirnya menjadi kabur. Pendidikan yang seharusnya membebaskan manusia dari perbudakan kerja jasmani dan menambah waktu luang, ternyata tak dapat berbuat demikian. Pendidikan yang semestinya membuat manusia dapat mengerti manusia lainnya malah melahirkan pribadi-pribadi yang individual. Pendidikan yang seharusnya menuntut kebenaran malah mengedepankan pekerjaan sebagai tujuan. Akhirnya, pendidikan bukan menciptakan persatuan, tetapimewujudkan persaingan.

              Mungkin kita dilema akan hal ini, mengikuti pendapat orangtua atau mengikuti tujuan yang benar dalam mencari ilmu. Dilema ini bahkan akan meninggi bila orangtua benar-benar serius mengarahkan kita untuk masuk jurusan/instansi yang berpotensi kerja cepat. Orangtua tentu berpandangan seperti itu karena pengalaman hidupnya, dan mungkin juga pegalaman hidupnya karena pengaruh orangtua mereka sebelumnya. Semua itu akhirnya menjadikan Indonesia sebagai tempat yang penuh dengan orang bertarung mencari pekerjaan, dan instansi/jurusan jadi oli untuk itu. Akhirnya, perlahan tujuan pencarian ilmu pun menghilang.

               Banyak siswa yang beralasan masuk instansi terkenal, sebut saja, ui, ugm, unair, unpad, atau stan, stis, dan lainnya, hanya untuk cepat mencari uang. Ketika ditanya, untuk apa kamu susah-susah ikut seleksi instansi A, B, atau C? katanya, ketika melamar pekerjaan cv kita akan didahului atau itu kan kerjanya pasti atau kalau masuk sana gampanglah dapat jabatan. Terlalu frontal mungkin penulis menulis ini, tapi inilah fakta. Kalau tidak percaya, silahkan survey sendiri. Penulis yakin anggapan ini benar, kalaupun tidak jadi alasan pertama, pasti pernah terucap kata-kata itu oleh si pelajar.

              Munafik memang bila kita tidak membutuhkan uang. Semua orang butuh uang, tapi yang penulis tekankan di sini jangan jadikan instansi atau jurusan yang kita jadikan wadah untuk belajar adalah jalan untuk meraih itu. Lagi-lagi masalah niat, tidak ada dalil yang menyatakan tujuan belajar adalah untuk mencari pekerjaan. Namun pencarian ilmu adalah untuk melengkapi ibadah kita. Tulisan ini bukan untuk menggurui, tapi untuk mengingatkan kepada diri sendiri dan beberapa dari teman yang lain. Hidup ini memang sulit untuk menemukan sebuah niat, tapi yang terpenting adalah saling mengingatkan. ad-din an-nasihat, agama adalah nasehat. 

              Tokoh-tokoh seperti Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina, al-Kwarizm, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah, Galileo, Mendel, Karl Marx, Richard Thervetick, Thomas Alva Edison, Soekarno, Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, M. Hatta, Tan Malaka, Syahrir, dan lainnya patut kita ikuti. Mereka belajar untuk mencari kebenaran dan memberikan manfaat kepada orang lain, bukan mencari pekerjaan. Dengan itu, secara otomatis mereka besar dan mendapatkan tempat yang tinggi di masyarakat. Hematnya, dengan niat yang baik mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih dari pekerjaan. Biasanya orang yang belajar hanya untuk mencari pekerjaan, mereka mendapatkannya, namun stganan di sana. 

              Mungkin dalam kasus kekinian kita juga bisa mencontoh seorang figur helmy yahya. walaupun merupakan lulusan sekolah kedinasan, dia berani melebarkan sayapnya untuk belajar. Dari SD hingga Sekolah tinggi dia selalu mendapatkan yang terbaik. Setelah itu, ia otomatis bekerja, namun dia berani melakukan tindakan out of the box untuk berhenti dan melanjutkan studi ke luar negeri, lagi-lagi di sana ia juga mendapatkan yang terbaik. Setelah itu, ia terus mengembangkan ilmunya dengan dipinta pekerjaan ke sana kemari, baik dari instansi yang ia tinggalkan ataupun perusahaan-perusaahan ternama, namun niatnya tetap satu, untuk belajar. Sebagai raja kuis, anak keturunan kyai pedagang asongan ini, mengaku membaca adalah kebutuhannya. Kuis yang ia bawakan saja, pertanyaannya semua berasal dari dia. Wajar saja, bila pertanyaannya selalu berbobot. Begitulah jika belajar diniatkan dengan benar. 

              Secara historis, permasalahan yang dibahas di  sini juga pernah terjadi pada masakolonial. Kolonialisme yang menjadi bayang-bayang membawa dampak terhadap kolonisasi pendidikan.  Hal itu membentuk pola pikir masyarakat untuk  menjadi manusia yang mempunyai keahlian tetapi tidak memiliki kemerdekaan. Oleh sebab itu, muncul golongan elit fungsionalis, yang bekerja sebagai aparatur negara dan memiliki jaminan hidup yang tetap, namun apatis terhadap nasib bangsa.

               Hal tersebut yang membuat Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, geram dan melahirkan sebuah konsep pendidikan yang seharusnya dijalankan. Untuk masalah itu, ia menawarkan sistem mengajar yang dinamakan sistem among. Sistem ini menyokong kodrat alam peserta didik, bukan dengan perintah dan larangan, tetapi dengan tuntunan dan bimbingan, sehingga perkembangan batin seseorang dapat berkembang dengan baik sesuai dengan kodratnya.

              Di zaman milenium ini semestinya kita perlu memahami kembali tujuan dari pendidikan, bukan menjadi penjara namun berfungsi sebagaikunci kebebasan. Pendidikan juga bukan perkara menghasilkan pekerjaan dan yang kalah menjadi pengangguran. Inilah tantangan pendidikan generasi dewasa ini. Generasiyang memahami tujuan pendidikan akan banyak membantu bangsa dalam meraihkeberhasilan.

Pada akhirnya, upaya menemukan kembali tujuan pendidikan mesti menjadi agenda pertamamasyarakat Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah memegang tanggung jawabterbesar. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya mulai menimalisir sistem pendidikan yang berorientasi pada persaingan. Namun perlu mengedepankan kebebasan berpikir dan kesempatan terbuka. Sehingga kita perlahan dapat menghilangkan diskriminasi pendidikan yang disebabkan demaknaisasi tujuan pendidikan. Dengan demikian, kitadapat menemukan tujuan pendidikan yang bukan untuk mencari kekuatan. Inilah tugas kita keseluruhan dari instansi mana pun. Hematnya, ini adalah langkah awal untuk memperbaiki Indonesia: memperbaiki niat

Semoga bermanfaat


If You Like This Post, Share it With Your Friends

0 komentar: