20 Janurai 2014, setelah beberapa bulan aku meninggalkan sebuah tempat yang menjadi ladang bagiku menimba ilmu selama tiga tahun disana. Aku kembali lagi kesana dengan melihat wajah yang berbeda, bukan hanya penghuni yang ada disana. Tetapi juga bangunan-bangunan yang baru berdiri serta pemandangan yang semakin indah nampak di tempat tersebut.
Tak terasa, waktu memang berjalan
begitu cepat. Sudah hampir satu tahun setelah dinyatkan lulus dari ladang pendidikan yang biasa disebut dengan
“Kampung Pena” ini, aku kembali lagi pada ulang tahunnya yang ke-46 . Disana nampak
pemandangan yang berbeda ketika aku masih disini, hanya saja aktifitas masih
sama seperti biasa.
“Keteraturan memang sangat
membosankan, tetapi dengan adanya keteraturan manusia akan menjadi lebih
berfikir, berusaha, dan berdo, serta sebuah system
yang sangat menyebalkan, namun dengannya manusia dilatih agar berusaha untuk
lebih memahami akan sebuah kondisi yang seharusnya dilakukan dan tidak untuk
dilakukan. Inilah yang harus dipahami agar manusia mampu mengikuti pola
kehidupan, bukankan seorang bayi yang masih berada didalam kandungan ibunya
juga mengikuti pola yang telah ditentukan sebelumnya?”
Ketika aku masih berada di Kampung
Pena, tidak jarang aku merasa sangat bosan oleh aktifitas yang ada didalamnya.
Tetapi hal itulah yang justru menjadi titik temu dengan sesuatu yang sulit
untuk dapat dipelajari yang biasa disebut dengan kesabaran. Tak jarang
teman-temanku yang kalah oleh hal tersebut, tetapi bagi mereka yang telah berhasil
melewati garis finish merasa semuanya berjalan begitu indah dan sarat akan
kenangan.
Kampung Pena oh Kampung Pena...


0 komentar:
Post a Comment