Saturday, August 10, 2013

Dreams


Ditulis Oleh : ZAKI ABDURROKHIM
 
you are the only one who can make the difference, whatever your dream, go for it !“

Malam ini begitu sempurna, hitam pekat beradu cahaya kuning bulan yang pucat. Tidak ada kerlip putih mala mini, semuanya tertutup awan mendung nan gelap. Yang tersisa hanya desir angin malam tanpa makna.
                Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menggugah diriku, entah apa itu. Hingga timbul keinginanku untuk merubah segalanya. Aku fikir aku berada pada titik jenuh, jenuh dari ketidak pastian hidup yang menaungi hari-hariku. Terlepas dari pemberitahuan hasil UN pagi tadi, aku menerawang jauh. Aku sadar, hidup bagaikan sebuah panggung  dan aku adalah pemain yang bermain di dalam nya, cukup sudah bermain-main, bolos, begadang, bergerak tanpa arah, tertawa terbahak-bahak. Hidup ini memliki haknya, yaitu sebuah tujuan.
                Panggil aku dzar fikri. Nama yang dianugrahkan kepada ku adalah baris yang indah, dan orang yang menggunakan nya adalah sosok yang ku kagumi, karena itulah aku. Entah apa alasanya untuk bangga dengan diri ini, terlalu datar. Hidup ku selama empat belas tahun aku bernafas adalah kehidupan seorang anak ingusan yang tidak faham sedikitpun tentang arti sebuah hidup. Asal-asalan menjalani nya, padahal banyak dari lapisan dunia ini yang ingin memilikinya, menggunakan untuk segala sesuatu yang lebih bermanfaat. Ya, itu adalah sebuah kehidupan, anugrah yang maha kuasa.
                Dan malam ini aku akan merubahnya, merubah semua yang salah dalam hidup ku. Segera ku raih alat tulis dan sebuah note book yang telah lama ku miliki, entah sudah berapa lama ini tersimpan, debunya terlalu banyak. Ini pemberian kakak ku, ayu namanya. “ kamu tulis apa yang ada dalam fikiranmu disini, mudah-mudahan menjadi kenyataan.” Ucap kakak ku seraya memberikannya, itu sudah lama terjadi, sekitar dua tahun yang lalu, ketika aku berulang tahun yang ke dua belas. Ternyata sampai sekarang buku itu masih kosong, oh tuhan, betapa tidak peduli aku dengan segala yang ada di sekitar ku.
                Mulai ku menggoreskan tinta ini,
-Mimpi serta harapan-harapan ku, yang akan menuntunku menjadi diriku yang baru :
1. SMAN 6 DEPOK.
2. S1 UNIVERSITAS INDONESIA, JURUSAN ILMU EKONOMI, DEPOK.
3. S2 dan S3 UNIVERSITY OF MELBOURNE AUSTRALIA.
               
Kupandangi tulisan ku ini berkali-kali, sederhana memang. Ya, sangat sederhana. Tapi tiba-tiba saja tubuhku merinding, aku seperti sedang menggambar perjalanan hidup ku yang akan ku lalui nanti. Ini adalah sebuah syarat, kewajiban yang harus aku penuhi. Apapun resikonya.   
∞∞∞
boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh (juga) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu … “ ( AL- BAQARAH : 216 )

“Dzar !ayo sarapan …“ panggil bapak, ia mengeraskan suaranya dari ruang makan keluarga kami. Aku segera dating dan kamu makan bersama. Setiap pagi memang seperti ini, “ Dan harus “ kata bapak. Karena saat-saat ini adalah saat kita sekeluarga berkumpul bersama sembari benostalgia. Waktu yang tepat untuk mempererat tali kekeluargaan, kakak ku datang lengkap dengan almamater kedokteran nya. Ya, sekarang dia adalah mahasiswi kedokteran Universitas islam negri semester lima. Sesosok kakak perempuan yang ku banggakan.
“ Kamu sudah punya pilihan dzar ? mau dimana ? “ Tanya bapak membuka pembicaraan di antara kami. Aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu bapak semuanya.
“ Ada pak, SMAN 6 DEPOK ! “
Satu alasan mengapa aku memilih sma itu. Alasannya adalah sekolah itu merupakan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI), dan aku menganggap sekolah itu akan merubah diriku, karena aku akan bergaul dengan orang-orang yang pintar nan berkualitas, serta di dukung dengan sarana yang memadai. Walau tidak ada yang bisa memastikan siswa atau siswinya pintar, namun sejauh yang aku ketahui, seleksi masuknya begitu sulit. Pastilah orang-orang yang berkesempatan belajar di sana adalah orang-orang yang berkualitas.
“ Pilihan bagus, “ balas bapak, tapi kali ini ia diam, seperti menyiapkan kata-kata untuk diungkapkannya lagi, “ Tapi, apa tidak lebih baik kamu melanjutkan sekolahmu di pondok pesantren saja. Bapak punya pilihan yang bagus untuk mu. “
          DEG. Lisan ku berhenti mengunyak makanan, aku tidak bisa percaya dengan apa yang di katakan bapak barusan. Ini terlalu jauh dari perkiraan dan rencanaku, aku mengernyitkan dahi seraya manatap bapak penuh heran. Baru saja aku ingin berubah, tiba-tiba saja semua ini terjadi. Aku hanya diam, aku yakin bapak tahu ketidak inginanku dengan semua rencananya. Dan bapak serta ibu dan kakak ku juga diam. Selesai sudah, mereka bersekongkol menghancurkan hidup ku.
∞∞∞
“What would you do to make your dreams come true ?can you handle the risk and never step back …

           Aku berhadapan dengan dua buah gerbang besar yang di pisahkan oleh sepetak pos satpam dia antara dua besi kekarnya. Warnanya hijau, begitu juga dengan semua bangunan disini. Ada tulisan yang diukir keramik persis disebelah gerbang paling kanan, “ PONDOK PESANTREN DAAR EL-QOLAM “ ya tepat. Itu adalah nama pesantren ku, tempat dimana aku akan menghabiskan masa SMA ku disini, dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter, memisahkan aku dengan dunia luar setelah empat belas tahun aku hidup di dalamnya.
           Aku rasa, aku harus menyiapkan diriku untuk menjalani sebagian fase hidupku dengan keterpaksaan. Jangan Tanya tentang usaha ku untuk tetap bersekolah di SMA favorit ku, bapak selalu menang dengan segala macam perhitungannya. Alhasil, aku berdiri disini. Mengikuti saran bapak yang tidak bisa ku bantah, aku hanya bisa menguatkan diriku dengan beranggapan bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh orangtua untuk ku, adalah semata-mata untuk kebaikan ku, dan aku harus meyakini itu.
          Ternyata, hidup di pondok pesantren bukanlah perkara mudah. Jauh dari orangtua, itu sudah pasti. Ini lebih jatuh kepada bagaimana kita menyikapi segala yang ada di pondok pesantren. Peraturan adalah hal yang vital disini, segala sesuatu pasti dikaitkan dengan peraturannya. Namun jika kita berbicara masalah akhlak, ini dinamakan sikap atau sopan santun. Semuanya ada di sini, bahkan banyak keunggulan yang tidak ada di sekolah-sekolah SMA. Aku contohkan satu, yaitu penerapan pembelajaran menggunakan tiga bahasa, Indonesia, inggris dan arab. Tentu di dukung dengan teriak-teriakan di pagi hari, bukan untuk membuat keributan, melainkan mengulang dan menghafal setiap kata yang di berikan oleh ustadz atau kita biasa memanggilnya guru. Untuk membantu kita memahami pelajaran. Oke, beralih ke masalah fasilitas, menurut ku, ini jauh dari cukup.
          Tetapi tetap saja, niat sudah terpaksa. Ya semuanya jadi terasa hambar. Aku kembali kepada diriku yang dulu lagi. Lupakan masalah mimpi-mimpi itu, rencana bapak cukup menjadikan rencana itu semua omong kosong belaka.
          Kehidupan ku disini semakin parah, biasa saja. Malah terkesan malas-malasan. Teman-teman ku faham alasan diriku yang seperti ini. karena ini bukan ingin ku, juga bukan kemauan ku. So, untuk apa aku menjalani hidup yang bukan ingin ku. Ulangan semester satu seminggu lagi, teman-teman ku sudah siap-siap dari seminggu yang lalu. Sedang aku ?membuka buku saja enggan, apalagi untuk membacanya. Tidak peduli dengan berapa nila yang akan ku dapat nanti, anggap saja ini sebagai tanda protes ku kepada orangtua. Aku ingin pergi dari semua omong kosong ini dengan kembali merajut mimpi-mimpi ku yang tertunda, tidak ada waktu lagi.
∞∞∞
orang yang menginginkan sesuatu tetapi tidak berusaha untuk meraihnya, sama saja ia mati sebelum mati. Atau hidup seperti mati. “

            Liburan semester satu telah selesai, aku kembali lagi ke pondok pesantren. Bertemu teman-teman lama ku di rumah membuat ku setengah mati iri dengan keinginan mereka yang terkabul, sekolah mereka tepat seperti apa yang mereka inginkan dulu, sedang aku? percayalah kawan, aku hanya tersenyum ketika mereka menanyakan tentang aku dan sekolah ini.
            Hari ini pembagian raport. Aku yakin mereka yang belajar sungguh menanti saat-saat seperti ini, disaat mereka taHu hasil dari kerja keras mereka selama ujian berlangsung. Bedanya dengan ku, aku tak menunggu hasil apa-apa.
Buruk !buruk sekali. Nilaiku jelek, bahkan terlalu jelek bagiku. Dari dua ratus tujuh puluh tiga teman-teman ku satu angkatan, aku duduk tiga puluh besar di belakang. Aku menyesal, menyesal dengan apa yang telah aku lakukan dengan nilai-nilai ku. Dan juga aku kecewa, seharusnya aku tidak semarah ini, tidak semalu ini di hadapan teman-teman ku yang lain, ini adalah resiko, resiko menjadi nomer urut terbawah di kelas dan dianggap menjadi anak yang kurang. Aku malu, sangat malu. Aku memang bukan murid yang pintar, namun setidaknya aku tidak menduduki peringkat terakhir di kelas. Ingatan ku tiba-tiba saja tertuju pada sosok yang penting bagi ku, orangtua ku. Mereka pasti sangat malu dengan nilai-nilai buruk yang ku peroleh. Lagi-lagi aku mengecewakan mereka, seharusnya aku tidak mengorbankan mereka. Ini pure masalah hidup ku, diriku yang tidak berdaya mempertahankan mimpi-mimpi ku. Tetapi mengapa harus membawa orang lain dalam masalah ini. Bodoh !ternyata benar, penyesalan itu datang diakhir. Bapak, ibu, maakan dzar.
            Beberapa mingu kemudian, bapak dan ibu datang menjenguk ku. Entak kenapa setelah kejadian raport ku itu, aku jadi lebih sering mengingat bapak dan ibu. Kini rambutnya tidak lagi sehitam dulu, kadang ada sedikit warna yang tidak selaras disana, menandakan umurnya yang tidak lagi muda. Kulitnya yang tidak lagi sekencang dulu, adapun warna kulitnya yang kelam, menandakan perjuangannya dalam menantang kehidupan. Melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angina dan menciut di terkam dingin. Aku sadar ini berat, dan aku tidak ingin menambah beban mereka.
            Menjelang pulang, aku memberikan raport yang harus ditandatangani oleh bapak. Sikap dan ekspresi mereka terkesan biasa, malah mereka tersenyum. Aku tahu mereka sedang menutupi kekecewaan mereka. Aku membalas kerja keras orangtuaku dengan nilai-nilai yang memalukan. Tuhan, betapa durhakanya aku, Aku mengantarkan mereka ke tempat parkir, aku berjalan agak belakang dari mereka.
“ Bapak … “ panggil ku, bapak menoleh dan aku langsung memeluknya. Aku benamkan wajahku pada bahu kekarnya, “ Dzar minta maaf pak, dzar sudah mengecewakan bapak dan ibu, nilai dzar terlalu kecil. “ ucap ku sejelas mungkin, air mataku terlalu banyak keluar yang kemudian membasahi baju batik yang bapak kenakan.
             “ Tidak ada yang harus di maafkan dzar, nilai yang kamu maksud adalah yang terdapat di kertas-kertas itu, bukan yang ada di sini. “ bapak menepuk bahuku, “ di dalam dirimu, kamu lebih pintar dan cerdas dari apa yang tertulis di kertas-kertas itu.”
             Setelah kejadian itu, aku merasa lega. Setidaknya aku sudah mengungkapkan permintaan maafku kepada mereka. Dan aku berjanji akan mengganti kekecewaan yang telah ku perbuat ini.
             Aku bertekat untuk membuka lembaran baru dalam hidup ku, menumpahkan seluruh semangatku untuk hidup ini,bukan lagi keterpaksaan. Aku sadar, aku mempunyai mimpi yang tinggi dan besar, dan juga aku sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak ada yang bisa memberikan mimpi-mimpi itu selain aku sendiri yang mengambilnya. Cukup untuk menyalahkan keadaan, menyumpahinya setiap saat, memandingkan apa pun yang ada. Tugas kita bukanlah untuk menggugat takdir yang telah ada dalam hidup kita, tapi membuat diri kita pantas untuk mendapatkan takdir tersebut.
***
           jika kita tidak bisa merubah arah angin, maka rubahlah arah sayap kita.”

Yang lalu biarlah berlalu, setelah tragedi raport ku yang mengenaskan berakhir, aku telah berubah seperti apa yang ku mau. Setiap kesempatan kulalui dengan rasa antusias yang tinggi serta semangat yang menggelora. Berkali-kali ulangan, Alhamdulillah, aku tidak pada absen paling bawah lagi, malah aku masuk sepuluh besar di kelas.
           Bicara tentang mimpi-mimpi ku, tidak ada masalah yang berarti, selain hanya sebuah nama saja yang berbeda. Sudah aku ganti SMAN 6 DEPOK, menjadi SMA DAAR EL-QOLAM. Tidak beda bukan, tetap sama, yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil peran disana. Kini aku sadar, tidak ada yang bisa menahan ku untuk meraih cita-cita ku. Tidak sekolahku, tidak keinginan orangtua ku, tidak ekonomiku, tidak keterbatasku. Yang terpenting adalah diriku, sejauh mana aku berkorban untuk semua yang aku inginkan tersebut, lupakan segala kekurangan, namun tetap fokus pada kekuatan.
          Ganjil sudah aku berada disini, tempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tepat tahun ketiga aku mengerti niat dan tujuan bapak, menyuruhku untuk terus disini, ini adalah sebuah tujuan yang indah nan agung. Seminggu lagi, pesantrenku akan mengadakan sebuah acara akbar yang pasti ada setiap tahunnya dan selalu diikuti oleh semua lapisan yang ada di pesantren ini. Itu adalah wisuda santri kelas tiga, dan khusus untuk tahun ini adalah angkatan kedua, angkatan ku. Kemarin kami baru saja menyelsaikan ujian pondok, yang nilainya nanti akan menjadi bahan pertimbangan pada hasil akhir kelulusan. Jangan kalian tanya usahaku, semuanya mati-matian untuk mendapatkan predikat baik,begitu juga aku. Entahlah kawan, aku tidak pernah memikirkan hasil apa nanti yang akan aku peroleh, yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku mendapatkan hasil tersebut, itulah proses.
∞∞∞
tidak ada orang yang gagal, yang ada hanya mereka yang berhenti berusaha.”

Acara wisuda kami berlangsung khidmat, disaat seperti ini kami baru menyadari betapa beratnya meninggalkan pondok pesantren ini, tempat yang sangat dekat bagi kami. Hal ini sama seperti yang kami rasakan ketika kami ingin meninggalkan dunia luar, yang juga sangat dekat dari kami. Pembacaan hasil akhir pun telah usai, jangan tanya bagaimana hasil akhirku. Itu jauh dari perkiraan dan harapan, namun aku tidak menganggapnya sebuah kegagalan, karena aku tahu, aku telah memberikan semua yang terbaik dari ku. Dari kejadian ini aku belajar banyak,kedewasaan serta wawasan yang telah mengajariku untuk mengambil hikmah dari segala kejadian yang terjadi dalam hidup. Yaitu hidup bukan hanya rentetan kebahagiaan belaka, kadang kita butuh kegagalan untuk memahami nikmatnya sebuah keberhasilan.
          Siangnya aku pulang dan langsung bergulat dengan laptopku, mencari-cari informasi seputar penerimaan mahasiswa baru.
          “Universitas indonesia pak !” jawabku mantap ketika bapak bertanya tentang tempat kuliah yang kutuju.
          “Apa tidak sebaiknya di tempat yang lain saja dzar ?banyak kok tempat yang lebih cocok untuk mu.” Berita baiknya adalah orangtua ku memberiku kebebasan untuk memilih. Namun buruknya, mereka tidak percaya aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah aku pilih tersebut. Nada negatif juga datang dari beberapa teman ku yang menyuruhku untuk membuat planing ke dua, itu artinya mereka tidak percaya dengan kemampuan ku.
          Semua orang melihatku dari segi kekurangan, tidak ada lagi yang menyemangatiku selain diriku dan kepercayaanku bahwa allah akan mengabulkan setiap doa orang yang meminta kepadanya. Aku harus memulai semua ini dengan sebuah langkah. Ya besok aku akan belajar di sebuah lembaga pendidikan, aku jauh masuk lebih lambat, karena aku di pondok pesatren, sedangkan teman-teman bimbelku yang lain sudah enam bulan yang lalu disini. Hasilnya, aku harus mengejar ketertinggalan ku. Tidak hari tanpa bergelut dengan soal-soal yang ada di buku SNMPTN ku, semua aku kerjakan tidak tersisa, kadang kurelakan waktu malamku untuk bergelut mengerjakan ya. Ibu terharu mellihat usahaku, semuanya aku relakan, waktu makan dan tidur ku acak-acakan,ini semua untuk satu, yaitu harapan dan mimpi-mimpi ku.
          Sudah ratusan soal aku kerjakan, dari beberapa buku yang ku punya. Hari yang di tunggu semakin dekat dan dekat. Aku terus memacu semangat dan doa ku, jika sedang malas, aku melihat sebuah tulisan bertinta merah yang ku pajang besar di meja belajarku.
“ AGUSTUS, DZAR MASUK UNIVERSITAS INDONESIA !!!”
∞∞∞
percayalah, dalam kesulitan yang menimpa kita, terdapat rahmat allah di dalamnya.”

          Aku tidak sabar menunggu Koran nasional datang, hari ini adalah berita kelulusan SNMPTN. Akhirnya datang, kemudian aku mencari-cari nomor ujian ku, aku cemas, lisanku terus berucap doa.
ADA !!! Alhamdulillah … aku lulus sebagai mahasiswa universitas Indonesia. Tiba-tiba air mataku jautuh, aku terharu, usahaku kini terbayar sudah. Kebahagiaan ini tidak mampu aku bendung lagi,orangtuaku juga. Mereka tersenyum, dan yang membuatku lebih bahagia lagi, aku adalah alasan di balik senyuman mereka.
          Kini aku memperoleh apa yang aku inginkan, serta membuktikan kepada dunia bahwa segala sesuatu jika ada keinginan dan usaha pasti ada jalan. Pada hari pengumuman itu, aku sudah memasrahkan semuanya kepada Allah, sekalipun tidak lulus, aku percaya bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuk ku. Dan aku bersyukur, Allah mengizinkan ku.
          Awal-awal masa perkuliahanku, aku rajin mencari berita tentang berbagai macam beasiswa atau pun lomba-lomba internasional yang diadakan kampus ku. Ini semua demi mewudjudkan mimpi ku yang terakhir, walau belum sempurna.
          Di awal tahun aku mendapat informasi tentang pertukaran pelajar yang diadakan oleh kampusku yang berkerja sama dengan university of Melbourne Australia. Aku senang, ya, setidaknya ada jalan bagiku untuk pergi kesana, dan pertukaran pelajar ini bebas diikuti oleh seluruh mahasiswa atau mahasiswi kampus ku. Dan ini akan menjadi persaingan yang ketat dan berat. Aku langsung mengambil langkah, besoknya, aku mencoba untuk mengetahui kemampuan bahasa inggris ku, aku test toefl. Hasilnya 420, hasil yang sangat kecil untuk bisa lulus dalam seleksi nanti. Aku memasang niat, aku tahu, teman-teman ku yang lain juga sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan kesempatan ini, aku tidak boleh kalah, ya, aku harus bergerak cepat.
          Aku mulai meningkatkan kemampuan bahasa inggris ku, bagaimanapun caranya, karena ini adalah salah satu syarat yang tidak bisa di rubah. Aku langsung membeli buku-buku bahasa inggris, kemudian aku banyak menonton film barat dengan subtitle asli bahasa inggris, aku juga membaca novel-novel bahasa inggris, chatting dengan orang-orang luar untuk menambah rasa percaya diriku untuk berbicara dengan mereka nanti, aku juga banyak menulis karangan atau pun karya ilmiah dengan bahasa inggris yang baik dan benar, dan juga mendengarkan lagu barat sembari menerka-nerka apa yang di ucapkannya. Hasilnya, setelah sekitar satu tahun aku terus belajar, tanpa disangka nilai toefl ku naik menjadi 580.hasil yang sangat memuaskan, dengan kemampuan bahasa inggrisku yang semakin mahir, sekarang aku tidak lagi merasakan blok ketika berbicara atau pun mendengar orang berbicara bahasa inggris walaupun itu orang asli.
          Aku pun memberanikan diri untuk mengikuti test yang diselenggarakan kampus untuk ikut berpartisipasi menjadi delegasi dari UI. Dengan modal keyakinan dan doa, serta kemampuan bahasa inggrisku yang baru, aku mencoba.
∞∞∞
          dan mintalah pertolongan kepada tuhanmu dengan shalat dan sabar …” ( AL-BAQARAH : 45 )

          Tidak ada pengorbanan yang sia-sian semuanya memiliki makna dimata Allah, aku percaya itu.
          “jangan lupa shalat dan berdoa dzar …” ibu selalu mengingatkanku untuk itu, ketika aku tengah sibuk dengan berbagai macam keinginanku. Dan aku melaksanakannya. Aku beruntung terlahir ditengah keluarga taat akan beragama, itu adalah salah satu alasan bapak kenapa aku disekolahkan di pesantren, agar aku terbiasa untuk shalat lima waktu yang itu adalah sebuah kewajiban bagi ku. Aku terus berdoa dibarengi dengan usahaku yang keras. Kalian tahu kawan ?ketika kita berdoa, dan meminta segala sesuatu yang kita inginkan, jangan bertanya apa jawabnya. Tapi yakinlah, bahwa ia maha mendengar.
          when we pray, god hears more than we say. God answeres more than we ask. God gives more than we imagine. Keep faith.”
∞∞∞
          I am thankful to all those who said no to me, it’s because of them, I did my self.”

          Sepertinya aku datang agak terlambat, mading kampus penuh dengan banyak orang yang menantikan hasil pengumuman test pertukaran pelajar kemarin. Aku berjalan pelan, seraya terus berdoa. Setelah mading agak sepi, aku melihatnya dan mencari namaku disana.
         Yes ada !!aku terkejut luar biasa. Lalu aku mengucapkan rasa syukur ku berulang-ulang, ini benar-benar diluar dugaan ku, aku adalah anak baru, dan orang-orang yang juga diterima adalah para seniorku, aku bahagia.
          “sekarang kamu buktikan itu dzar, mimpi-mimpimu yang pernah kamu bilang ke bapak. Bapak selalu yakin, kamu bisa mewujudkannya.” Ujar bapak kepada ku. Keluargaku merasa bangga kepadaku, terutama orangtua ku, mudah-mudahan apa yang aku dapatkan kali ini mampu mengantikan kekecawaan bapak dan ibu yang telah lalu.
           Malamnya, aku shalat dan bersimpuh di hadapannya, ini adalah kuasanya. Kau tahu kawan ?tuhan memiliki berbagai macam cara untuk menggagalkan rencana manusia. Namun, ia juga memiliki beribu alasan untuk menepati janji- janji-Nya bagi orang yang percaya. Karenanya berdoalah, doa tidak hanya menguatkan tapi juga memberi kita ketenangan hati, dan percayalah, ia maha mendengar atas segala doa-doa kita.
          tujuan adalah sesuatu yang di tetukan di awal, di wudjudkan di akhir, tempat memulai pemikiran dan akhir dari sebuah perjalanan.”
          Siang ini aku tiba di bandara internasional soekarno hatta, bersama keluarga dan bebarapa sanak saudara. Kami sepakat untuk bertemu di bandara, dengan komitmen satu jam lebih awal agar tidak telat. Aku memeluk kedua orang tuaku, lagi-lagi aku menangis.
          Hari ini adalah kali pertamaku naik pesawat terbang, sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi tak apalah, pertama kali, gratis dan sekaligus mengunakan penerbangan internasional, aku menikmatinya, hasil kerja keras ku.
          Aku mendarat di langit Australia dengan selamat tepatnya di Camberra international airport, kemudian langsung bergegas menuju rumah kedutaan besar di Sydney dan memulai petualanganku selama tiga bulan di Australia. Terlepas dari berbagai macam kegiatan kampus, aku mencoba untuk jalan-jalan sendiri, ini benar layaknya mimpi yang menjadi kenyataan. Aku sampai di salah satu tempat yang cukup terkenal di Australia yaitu oprah house, walaupun tidak sampai masuk, aku cukup puas, puas sekali. Kini mimpiku setengah menjadi kenyataan, karena mimpiku yang ketiga adalah melanjutkan S1 dan S2 ku di sini, namun kali ini aku hanya mampir sebentar saja, tapi setidaknya, aku tengah menemukan titik tengah untuk menuju kesana. Dan aku berbisik pada diriku sendiri,
 “all things are possible for those who believe …”


∞∞∞

Aku Mirip Obama


Ditulis Oleh: ARI SUJIAR

Aku lepaskan pandanganku diruangan ini. Bebas mengembara menjelajahi seisi ruangan disetiap sudutnya. Menelisik setiap jengkal kenikmatan dan fasilitas yang ada. Teriknya matahari diluar tak mempengaruhi ruangan ini karena adanya AC yang dulu sangat kuidamkan. Empuknya kursi busa berlapis kulit original yang kududuki ini menemani keseharianku mebekerja di tempat ini. Tempat yang bahkan dulu aku tak sempat membayangkannya. Jangankkan untuk bekerja disini dan memikirkan rakyat negaraku, untuk mengurusi diriku saja pun sudah lebih dari cukup membuatku pusing.
excuse me, sir!”, terdengar suara staff khususku mengetuk pintu seraya meminta izin untuk masuk. Menyadarkan pikiranku dari lamunan panjangnya.
yes, come in please!”, kataku seraya menyuruhnya masuk.
sir, here is the required documents for our meeting with Indonesia. We are going to meet them in Jakarta next week.” Katanya dengan nada yang sangat diplomatis.
ok, I`ll obsrve.” Timpalku menanggapi. Diapun keluar dari ruanganku. Meninggalkank sendirian bersama lamunanku.
Aku buka berkas-berkas dari staaf ahliku. Membaca dengan seksama semua data yang terlampir disana dan barulah aku tahu ternyata minggu depan aku akan mengunjungi tanah kelahiranku. Indonesia.
Ya, beginilah pekerjaanku sebagai seorang kepala negara. Aku harus bolak-balik ke negeri orang. Bertemu dengan para penguasa yang bersandiwara di tengah liciknya panggung perpolitikan. Memasang wajah manis sesuai dengan lakon mereka masing-masing. Menelusup dibalik agungnya sebuah agungnya otorisasi kepemimpinan. Setipa hari ku bergumul dengan kotornya penghuni-penghuni singgasana kemunafikan. Serakah dan tamak berbungkus celotehan indah dari bibir tebal mereka sudah akrab di gendang telingaku. Kadang aku juga termakan rayuan setan untuk mengikuti jejak mereka, tapi sekuat tenaga ku palingkan niat. Tapi tak jarang juga nafsuku memberontak membunuh nuraniku dan akhirnya kalah dalam pergulatan batin. Alhasil, akupun menikmati indahnya kenikmatan semu. Tapi apa daya, inilah konsekuensi pekerjaanku.
∞∞∞
Bandara Soekarno-Hatta menyambutku dengan nuansa Indonesia yang khas. Dengan kawalan pasukan khusus kepresidenan yang super ketat, aku berjalan menyusuri lorong khusus tamu negara. Terlihat di ujung sanasebuah mobil hitam nan glamor menunggu kedatanganku. Sekilas ku memandang berkeliling. Ah, ternyata negeriku sudah jauh lebih baik dibanding ketika dulu aku meninggalkannya 20 tahun yang lalu. Walaupun aku sudah menjadi warga negara Amerika Serikat, tapi aku tetap mengikuti pemberitaan mengenai sang bangsa garuda. Samar ku mendengar cerita di media tentang kebobrokan tanah kelahiranku ini, tapi ternyata semua itu tak separah dengan apa yang mereka katakan tentangnya.
Mobil Royal-Saloon yang kunaiki ini membelah jalanan kota. Kesan macet yang dulu sempat melekat dengan kota ini teryata sudah sirna. Ya, memang hebat ibukota negaraku ini. Dulu ia begitu terhina. Sungai kotor dan penuh sampah, jalanan rusak penuh macet serta masalah-masalah lain yang seolah mustahil untuk bisa diatasi sampai-sampai para ahli menganjurkan untuk memindahkan ibukota ini. Ternyata wacana itu memang menjadi solusi yang tepat. Hebat pemerintahan Indonesia sekarang ini. Mereka mengikuti sistem yang dianut oleh Negeri Paman Sam, membagi ibukota negara menjadi dua distrik pemerintahan. Pusat ekonomi dipindahkan ke Palangkaraya, tetapi pusat pemerintahan tetap di Jakarta. Alhasil, lebih dari setengah penduduk jakarta berbondong-bondong hijrah ke Palangkaraya meninggalkan tanah Betawi. Pada akhirnya, Jakarta pun berangsur-angsur bebas dari segala masalah yang menyertainya.
Memasuki pusat kota, Monas pun menampakkan kewibawaannya. Masih sama seperti dulu. Tetap anggun dan berwibawa. Teringat masa-masa kecilku dulu ketika aku merengek untuk melihatnya kepada orangtuaku yang ketika itu terpenjara keterbatasannya. Ah, indah sekali.
Tak berapa lama berselang, Senayan pun menunjukkan keangkuhannya. Tak tahu lagi aku bagaimana keadannya sekarang. Tapi melihat kemajuan Indonesia seperti sekarang ini, yakinlah aku bahwa yang ada di dalamnya pastilah para abdi masyarakat yang profesional.
Hampir satu jam kemudian, mobilku pun berhenti di depan istana kepresidenan. Banyak sekali orang disana. Dari mulai paparazi sampai para petinggi negeri. Aku keluar dari mobilku dan langsung disambut oleh presiden Indonesia. Tapi tunggu, rasanya aku kenal secara pribadi siapa presiden ini.ah entahlah, mungkin aku salah. Lagipula aku disini untuk mengurusi kepentingan rakyatku, bukan untuk meladeni daya khayalku. Segera setelah acara penyambutan itu, kami segera masuk ke ruang rapat kenegaraan membicarakan tentang kerja sama ekonomi antara RI dan AS.
Rapat pun usai, terjalinlah kerjasama antara negara kami. Lelah setelah seharian aku membicarakan urusan rakyat negaraku, mataku pun terlelap dalam naungan kenangan masa kecil yang penuh dengan perjuangan nyata.
∞∞∞
Esoknya, aku pergi ke sebuah stasiun televisi memenuhi undangan wawancara tentang diriku dan perjuanganku. Kabar tentang kedatanganku memang menjadi headline news di negara ini. Rasa heran terus menari-nari membayangi pikiran mereka. Keheranan yang besar atas nasibku yang menurut mereka sangat beruntung ini. Keheranan yang datang bersama sebuah pertanyaan. Pertanyaan besar yang sedang memayungi bangsa ini, bagaimana aku yang seorang anak kampung dari pedalaman Malingping ini bisa menjadi seorang penguasa negeri adidaya? Jangankan mereka, aku sendiri pun heran dengan nasibku ini.
“ok Mister Prahasto. Welcome back to Indonesia. How are you?”,  sapa pembawa acara dengan ramah.
“kabar saya baik, tidak usahlah memakai Bahasa Inggris, walaupun saya presiden Amerika, tapi tetap saja saya ini wong Indonesia kok mbak!”,  ucapku disusul tawa para penonton.
“baiklah bapak presiden, rakyat Indonesia sekarang sedang dilanda gelombang rasa penasaran karena ada putra daerah asli Indonesia yang melanglang buana ke luar negeri hingga dia berhasil meraih kedudukan terhormat disana. Biskah anda ceritakan bagaimana itu bisa terjadi?” , tanyanya santai tapi penuh rasa ingin tahu.
Mendengar pertanyaan itu, memoriku pun menjelajah menyusuri jejak-jejak perjuangan masa laluku. Menapak tilas kisah keberuntunganku.
∞∞∞
Semuanya berawal dari desa kecil di pedalaman Malingping. Namaku Tri Prahasto setiawan. Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Tak ada yang istimewa dari diriku ataupun keluargaku. Masa kecilku dihabiskan untuk membantu kedua orangtuaku. Ayahku adalah seorang kuli tani miskin yang diupah dengan bayaran tak seberapa atas kerja kerasnya untuk menggarap ladang milik orang lain. Sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang membantu meringankan beban ayahku dengan menjual nasi uduk di pagi hari.
Setiap harinya, setelah pulang sekolah, aku pergi keladang tempat ayahku bekerja. Membawakan bekal
Selepas isya, aku kembali ke rumah dari tempatku mengaji. Di bawah temaram lmpu pijar kuning 5 watt, aku membuka kembali pelajaran yang telah aku dapatkan di sekolah tadi. Berusaha meniti titian ilmu dalam otakku. Berharap aku bisa mengingat mereka semua. Atau setidaknya ada satu dua hurup yang bersemayam dalam pikiranku.
Pukul 3 pagi, biasanya aku terbangun dari tidurku. Melangkah keluar rumah menuju kamar mandi. Rumahku tidak seperti rumah kebanyakan orang yang memiliki kamar mandi di dalamnya karena rumahku hanyalah seonggok gubuk rapuh yang dimakan usia. Berdinding bilik bambu yang menghitam menahan renta. Beratap genteng kusam yang penuh dengan jaring laba-laba, seolah mereka semua menjadi bagian dari keluargaku. Berlantai semen kasar dengan hiasan banyak lubang disana dan disini. Tapi, karena adanya kehangatan keluarga, aku pun sudah cukup betah tinggal di dalamnya walaupun terkadang aku juga merasa iri dengan rumah orang lain yang terlihat jauh lebih nyaman untuk dihuni. Kucuci mukaku disana, lalu kupergi ke dapur. Terlihat disana ada seorang wanita yang sedang asyik dengan pekerjaannya. Memasak nasi uduk dan meracik bumbu-bumbu sebagai penyedap nasi uduknya. Itu memanglah sudah menjadi rutinitasnya setipa hari. Dari raut mukanya, terlihat jelas beratnya beban yang dipikul oleh ibuku ini. Dia harus sudah bangun dan bekerja di saat semua orang masih terbuai dalam mimpinya, bahkan aku rasa matahari pun masih terdekap dalam selimut malamnya. Ditambah lagi ibuku harus mengurusi kakak pertamaku yang sedari kecil mengalami gangguan mental. Terkadang batinku memberontak, kenapa Allah memberikan cobaan yang berat kepada keluargaku yang miskin ini? Tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku pun tahu bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Begitu kata ustadzku di pengajian.
Di hari Minggu, aku sring pergi ke rumah temanku untuk menonton TV karena di rumahku tidak ada sarana hiburan selain radio tua yang sudah rusak tiga bulan yang lalu. Walhasil, aku harus menumpang di rumah orang. Aku menyakskan beragam pemberitaan tentang kebobrokan negeri ini. Dari mulai kemiskinan, kelaparan, pengangguran sampai kasus korupsi pejabat. Jarang sekali aku menemukan pemberitaan yang bagus dan enak untuk didengar oleh telinga. Aku heran, pernahkah mereka berpikir untuk membangga-banggakan negeri mereka sendiri, negara yang telah memberikan mereka tempat untuk menyambung hidup. Negara yang telah memberikan lahan untuk mereka tinggal. Negara yang dengan senang hati memberikan mereka kehidupan. Lantas bagaimana bisa bangsa ini dihormati oleh bangsa lain jika penduduknya saja tidak bisa menghargai eksistensi negaranya? Ah, rasanya terlalu dini aku memikirkan masalah ini. Biarlah mereka yang berdasi yang memikirkannya.
Setelah lulus SMP, aku sempat ragu untuk melanjutkan pendidikanku ke SMA karena melihat kondisi ekonomi keluarga serba kekurangan. Tapi orangtuaku bilang, aku harus tetap sekolah dan mereka memintaku untuk masuk pesantren. Wow? Pondok pesantren. Tak pernah terbesit dalam bayanganku untuk masuk pesantren sebelumnya. Tapi tak apalah, hitung-hitung untuk menambah pengalaman. Begitu hatiku membatin ketika itu. Lalu dengan tekad yang kuat, aku pun berangkat ke Daar el-Qolam, tempat yang aku pilih untuk menimba ilmu. Dengan meminjam mobil Pick-up milik majikan ayahku, akupun berangkat kesana.
Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza Izza, itulah pondok tempatku nanti belajar. Sekilas ku melihat, tampaknya pondok ini masih dalam tahap pembangunan. Terlihat gundukan tanah disna-sini. Gedung sekolah yang masih belum rampung dan bangunan masjid yang masih tak beratap membuatku semakin yakin bahwa pondok ini memang masih meniti eksistensinya. Aku pun melangkah menuju kamar asramaku. Menurunkan barang-barangku dari mobil pick-up pinjaman ini. Lemari bekas dan kasur lapuk ini akan menjadi teman setiaku selama 3 tahun kedepan. Setelah itu, orangtuaku pergi pulang. Rasa sedih menggelayut di hatiku. Membuat mataku ingin menteskan air matanya. Tapi karena gengsi, ku tahan sekuat tenaga rasa itu.
Tahun pertamaku disini, kurasakan dengan kesendirian. Walaupun disini banyak teman-teman sebayaku, tapi tetap saja mereka bukan keluargaku. Tapi lambat laun aku pun bisa menjadikan mereka sabagai pelepur lara atas keluargaku. Tak hanya itu saja masalah yang kualami di tahun pertamaku. Ada juga ada rasa putus asa ketika otakku tak sanggup menerima materi yang sebagian besar berbahasa arab. Ingin rasanya aku menangis karena itu semua. Selain itu, batinku pun memberontak, menyulut rasa bosanku karena peraturan-peraturan di pondok ini yang membuatku seolah terkekang dalam kekangan yang mengusik hati. Aku merasa seperti seekor tikus yang terguncang diguncangkan oleh pemiliknya. Setiap hari aku berlari kesana dan kemari, mengantri nasi dan terkomando dengan komando jarosh. Ingin rasanya aku keluar dari pondok ini, tapi mengingat wajah kedua orangtuaku, kuurungkan niatku itu.
Di tahun kedua, aku sudah mulai mengerti apa itu arti sebuah kebersamaan. Aku sudah mulai bisa memfamilikan sahabat-sahabatku. Mungkin, karena perjalanan waktu membuat rasa ukhuwahku timbul. Mengingat bagaimana kebersamaan kami disini, makan kami selalu bersama di satu nampan. Terkesan jorok memang, tapi itulah yang membuat makanan yang kami makan terasa nikmat walaupun itu hanya nasi kusam ditemani potongan tempe kuning dengan hiasan kerupuk oranye. Teringat juga ketika aku belajar bersama teman-temanku, saling mengajari dan diajari. Apalagi ketika waktu ujian tiba, berbondong-bondong aku dan teman-temanku pergi belajar bersama. Aku yakin, diluar sana pastilah aku tidak akan memikirkan ujian. Belum lagi ketika aku harus berada di dalam kamar mandi bersama temanku yang lain. Bukan karena ingin melakukan mandi bersama, tapi kerena aku harus berpacu dengan waktu agar tidak mendapat hukuman dari pengurus kerena keterlambatanku .Ya, itulah yang membuat rasa persaudaraanku timbul. Tapi tak jarang aku juga mengerutu karena ada diantara kami yang meneriakkan loyalitas dan solidaritas semu. Berujar kompak tapi bertingkah layaknya perompak. Berucap satu tapi lebih sering menjadi benalu. Seolah-olah dialah orang yang maha sempurna. Mengajak ma’ruf tapi dia sendiri sendiri berorientasi munkar. Mencari pandangan baik dari ustadz-ustadz kami. Munafik, itulah satu kata yang bisa mewakili tabiat hidupnya. Tak pernah menyadari salahnya. Berkelit dari kesalahannya dengan berjuta alasan. Ah,aneh memang. Tapi inilah dunia, tak akan pernah lepas dari orang-orang munafik.
Di tahun terakhirku, aku semakin memahami makna dari sebuah perjuangan. Tahun ini menjadi tahun dimana aku dituntut untuk berjuang lebih keras. Banyak sekali ujian yang harus aku hadapi sebulum aku bisa dikatakan lulus dari institusi ini. Baik itu ujian mental maupun ujian pikiran. Semuanya harus kulewati dengan semangat yang besar. Di tahun ini pun aku sebagai penghuni kelas terakhir sekaligus tertua harus menjadi pengurus dan pengayom bagi adik-adikku yang lain. Sebenernya aku ragu apakah aku bisa atau tidak menjalaninya. Tapi karena ini adalah sunnah pondok, jadi mau tidak mau aku harus mengikutinya. Berat memang mengurusi mereka. Mengutamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri. Aku bukan kakak mereka, mereka pun bukan adik-adikku. Aku tidak dibyar atas semua ini, mereka pun tidak memberiku bayaran. Tapi, aku dituntut ikhlas untuk mengurusi mereka semua. Ketika itu, aku diangkat menjadi pengurus bagian bahasa, itu berarti aku harus menegakkan disiplin berbahasa resmi di pondok ini. Jangan kira bahasa resi di pondok ini adalah bahasa indonesia yang baku dan benar. Tapi bahasa resmi di pondok ini berarti bahasa arab dan bahasa inggris. Bah, bagaimana pula aku yang asli sunda ini harus mengurusi bahasa asing? Jangankan berceloteh kata inggris ataupun arab, mengeja deretan huruf indonesia pun terkadang aku masih terbata kaku. Tapi tak ada gunanya aku terus mengeluh dengan keadaanku. Ini adalah amanah, amanah berarti tanggung jawab, dan tanggung jawab harus diemban dengan baik. Di tahun ini juga aku harus menghadapi ujian nasional yang bagi sebagian besar siswa menganggapnya sebagai seorang malaikat maut yang menentukan nasib mereka kelak. Bagaimana tidak mereka beranggapan seperti itu? Masa iya setelah capek-capek belajar tiga tahun, nasib kelulusan mereka hanya ditentukan dengan 6 buah lembar kertas ujian yang harus mereka kerjakan dalam kurun empat hari. Apalagi UN tahun ini, pemerintah menerapkan sistem baru. 20 paket soal yang berbeda ditambah dengan adanya embel-embel barcode yang membuat pusing. Tapi yang menjadi ujian terberatku ketika itu adalah aku harus merelakkan ayahku dipanggil oleh emiliknya. Ya, ayahku harus pergi meninggalkanku di saat sebentar lagi aku akan mengakhiri masa belajarku di pesantren ini. Peristiwa ini menjadi pukulan yang sangat menyakitkan bagiku. Tapi aku tidak boleh menyerah dan kalah. Aku harus ikhlas. Itu yang sering dikatakan oleh kyaiku.
Disaat teman-temanku sedang sibuk membicarakan rencana kuliahnya, aku harus terdiam membisu karena aku tak tahu harus melanjutkan kemana. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena keterbatasan eknomilah yang  menjadi pengekang langkahku. Tapi untunglah, disaat seperti itu, datanglah tawaran untuk mendapatkan beasiswa di UIN. Syaratnya aku harus menghafal 8 juz al-Qur`an. Aku rasa syaratnya tak begitu sulit, toh aku juga diwajibkan unuk menghafal al-Qur`an disini. Lalu, dengan langkah yang mantap, aku mendaftarkan diriku untuk menjadi salah satu mahasiswa program beasiswa disana. Alhamdulillah aku diterima.
Aku menjalani masa belajarku di UIN tanpa rintangan yang berarti. 4 tahun berlalu, kutamatkan masa kuliahku disana. Tapi ternyata Allah memberikanku sesuatu yang lebih indah. Aku direkomendasikan menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa di McGill University Canada. UIN memamng menjalin kerjasama pendidikan dengan universitas itu. Dan ternyata akulah dipilih menjadi salah satu mahasiswa yang diberi kesempatan untuk belajar disana. Pendidikan di negara itu pun kutamatkan dengan lancar. Lalu pada tahun 2020, aku kembali ke Indonesia dan menjadi dosen di almamaterku itu. Aku mengajar hukum internasional disana, karena memang itulah yang menjadi keahlianku ketika di Canada. 2 tahun setelah itu, aku melanjutkan studi S3 ku Yale University Amerika Serikat. Karena pemikiranku yang kata mereka gemilang, aku pun diminta untuk menjadi dosen di univeritas itu. 10 tahun kemudian, aku menanggalkan kewarganegaraan Indonesiaku dan beralih menjadi warga negara Amerika. Hal ini aku ambil bukan karena aku bosan dan malu menjadi warga Indonesia, tapi ini kulakukan karena aku ingin mencoba hal yang baru. Terdengar serakah memang, tapi itulah manusia. Pada dasarnya tabiat mereka adalah tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Jadi wajar sajalah kalau aku merasa perlu mengembangkan potensiku dibidangyang lain.
Aku memutuskan untuk berkecimpung di bidang perpolitikan Amerika, dan kewarganegaraan Amerika adalah sebuah hal yang mutlak yang tidak  bisa ditawar lagi. Aku mengawali karir politikku dengan menjadi anggota Partai Republik. Di Amerika memang hanya ada 2 partai politik, Republik dan Demokrat. 5 tahun berkiprah di paratai itu, dengan mengerahkan segala kemampuan dan loyalitasku, aku pun terpilih menjadi senator negara bagian California. 2 tahun setelah itu, senat parlemen memilihku untuk maju sebagai calon presiden dari partai Republik 2044 mendatang. Dan akhirnya, aku bisa menduduki singgasana tertinggi kedaulatan negara adidaya itu di Gedung Putih. Kalau ditanya kenapa aku bisa seperti ini, aku juga tidak tahu. Tapi waktu di Daar el-Qolam dulu, teman-temanku bilang kalau aku ini mirip Obama. Ya, Barack Husein Obama yang pada saat itu menjadi presiden Amerika yang ke-44. Mereka memanggilku Obemz, sebutan yang keren menurutku. Mungkin perkataan teman-temanku itu menjadi do`a hingga aku bisa mengikuti jejak Obama. Jika Obama adalah presiden kulit hitam pertama di negara itu, maka aku boleh berbangga karena aku adalah presiden muslim pertama disana.
“Berbicara tentang Daar el-Qolam, tampaknya pesantren itu menjadi pabrikan para pemimpin masa kini. Redaksi kami mencatat, banyak sekali alumni pondok itu yang menempati posisi penting di negara ini. Sebut saja bapak Zulbahri si ketua PSSI yang berduet dengan bapak Menpora Naufal Dzaky sehingga membawa Timnas Indonesia menjadi semifinalis Piala Dunia 2044 baru-baru ini. Ada juga KH. Aep Puadus Shofwan yang menjadi Menteri Agama. Selain itu Panglima TNI RI kita juga bapak Syadam Husein juga berasal dari pondok itu. Bahkan Presiden RI saat ini, bapak DR. M. Hasan juga jebolan dari sekolah itu. Memangnya ada apa dengan Daar el-Qolam?”, tanyanya lagi dengan penasaran. Mendengar pertanyaan itu, sontak aku pun kaget. Ternayata teman-temanku yang lain juga berhasil meraih kesuksesannya.
“Daar el-Qolam memang menjadikan santrinya untuk menjadi pemimpin. ‘Siap dipimpin dan siap memimpin’. Itulah salah satu semboyannya. Seperti yang saya katakan tadi, disana kami diajarkan untuk menjadi pemimpin dengan mengurusi dan mengayomi adik-adik kelas kami. Jadi, sejak itulah tertanam jiwa kepemimpinan di hati kami semua.” Tuturku kepada para penonton disana.
∞∞∞
30 menit berlalu, acara talkshow pun selesai. Di mobil, aku masih memikirkan teman-temanku dulu. Tak kusangka ternyata mereka juga mendapat nasib mujur sepert diriku. Pantas saja, kemarin rasanya aku mengenal siapa presiden negeri ini. Ternya dia si Hasan yang dulunya bercita-cita membuka tambak ikan di Tasik. Si Aep yang dulu kerjaannya cuma ngori di masjid, ternyata bisa juga menjadi seorang Menteri Agama. Si Syadam yang tampangnya memang sangar itu ternyata menjadi pimpinan di lembaga tertinggi pertahanan negara ini. Si Naufal yang dulu kerjaannya Cuma ngrusin bola-bola ternyata jadi Menpora. Oantas saja di Piala Dunia 2044 kemarin, Indonesia basuk ke babak semifinal. Pantas juga keadaan negara ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena ternyata yang mengendalikan pemerintahan negara adalah para intelektual yang berakhlak jebolan Daar el-Qolam. Ah, kangen rasanya aku dengan mereka semua.
Besok lusa aku harus pulang kembali ke Amerika untuk mengurusi rakyatku lagi. Maka sebelum aku pulang, aku harus bisa bertemu dengan mereka semua. Aku pun meminta asisten pribadiku untuk menghubungi pihak Istana Negara untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden M. Hasan. Mereka pun menyetujuinya. Maka esoknya, aku berangkat dari hotel temp tku menginap menuju Istana Kepresidenan. Di ruang jamuan khusus tamu negara itu, kumulai pembicaraan.
“Bapak Hasan, pertemuan kita kali ini bukan untuk membicarakan tentang negara kita. Melainkan untuk membicarak masalah kita pribadi.” Mukanya langsung terlihat heran.
“masalah apa yang anda maksudkan?”
“jadi, saya ingin menanyakan apakah anda berhasil membuka tambak ikan di wilayah Tasik?”, tanyaku lagi. Terlihat wajahnya semakin heran.
“Darimana anda tahu tentang itu?”
“tentulah saya tahu karena saya adalah teman SMA anda ketika di Daar el-Qolam, masih ingat?”, tanyaku lagi. Terlihatlah kini wajahnya yang sudah tidak bingung lagi. Dengan tersenyum, dia menjawab pertanyaanku.
“oh, ente Obemz? Yang dulu ering jadi cencengan anak satu angkatan kan?”
“nah, itu ente masih inget ane. Hebat yah ente sekarang, dulunya pengen jadi raja ikan, eh taunya malah jadi presiden.”
ah, ente malah lebih hebat dari ane, ane Cuma jadi presiden Indonesia, nah ente jadi presiden Amerika.”
“hahaha.. bisa aja ente. Eh, kita ke pondok yuk. Sekalian silaturahim sama ustadz-ustadz disana. Ajak juga si Aep, Naufal, Syadam, sama Zulbahri! Sekarang jadi bawahan ente semua kan mereka tuh.
“boleh lah, mumpung hari ini ane gak ada acara kenegaraan.”
Tak menunggu lama, setelah menguhubungi teman-teman kami yang lain, kami pun berangkat ke Daar el-Qolam. Sesampainya disana, ternyata mereka semua telah tida lebih dahulu. Pangling rasanya ketika melihat mereka yang dulunya dekil, kurus dan rebek, kini menjadi pria dewasa berdasi yang mempunyai peran penting di negeri ini.
Keadaan Daar el-Qolam ternya sudah berubah 180 derajat. Jauh lebih baik dari 32 tahun yang lalu ketika aku meninggalkannya. Semuanya jauh lebih tertata. Pohon-pohon yang dulunya masih kecil, kini sudah menjadi rimbun. Kamipun tenggelam dalam kenangan masa lalu. Kalau bukan karena pondok, mungkin tak bisa aku menjadi seperti ini.

∞∞∞

Menulislah maka dunia akan menulismu

Dimulai dari ZERO, akupun mencoba untuk belajar menulis, apapun jenis tulisan itu. blog ini pun dibuat ketika aku berkeinginan untuk bisa menulis, semuanya dimulai dari NOL.

Ketika aku membaca sebuah kalimat tersebut "Menulislah maka dunia akan menulismu"  entah kenapa diriku tergugah untuk menulis, walau sebelumnnya aku belum pernah menghasilkan karya apapun didunia tulis menulis, tetapi berkat kalimat tersebut dan atas izin Alloh SWT kini aku belajar untuk bisa menulis apapun tulisan itu. Mau itu jelek, sederhana, bagus apapun itu yang penting diriku tidak berhenti untuk belajar menulis. karena tulisan merupakan salah satu sumber ilmu itu didapat. 

Tetapi apa menulis saja sudah cukup? apakah tulisan kita akan berkembang?
Jawabannya tidak, jikalau kita ingin berkembang didalam dunia tulis menulis jangan lupa untuk meng-upgrade kosa kata kita, caranya dengan membiasakan membaca. 

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra berkata dalam bukunya "Dari Harvad Hingga Mekah" yang merupakan buah pemikiran dan perenungan seorang tokoh islam indonesia mengatakan "Membaca tanpa disertai dengan menulis akan kehilangan aktualisasi diri, dan menulis tanpa didahului dengan membaca akan mengurangi kualitas tulisannya". Jadi membaca merupakan kegiatan yang harus dilakukan agar tulisan kita berkembang.

Semoga bermanfaat sobat!

Happy Eid Mubarak

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah.
yang jatuh pada kamis, 08 Agustus 2013 yang bertepatan denngan 01 Syawal 1434 Hijriah.

Bertepatan tiga hari setelah idul fitri tergugah hati saya untuk membuat sebuah blog yang sebenarnya ini dibuat dengan tujuan agar membiasakan diri saya untuk menulis, karena ada sebuah kata - kata yang terus terngiang didalam benak saya "Menulislah maka dunia akan menulismu" kata - kata itulah yang menjadi bomerang bagi saya untuk belajar agar bisa menulis, apapun tulisan itu.

Kenapa saya membuat blog ini tiga hari setalah suatu moment yang fitri, bukan tanpa alasan, tetapi lebih mengacu kepada angka ganjil serta suatu hari yang mana terkenal sebutan sebagai hari yang kembali suci seperti bayi yang baru lahir dari seorang ibu, bersih, suci, dan tanpa dosa sedikit pun dalam raga sicabang bayi tersebut. Semoga kita memperoleh kemenangan itu dan kembali lagi kepada jiwa raga yang suci.

Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan kepada kita berbagai pelajaran. semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun berikutnya. amin

Dengan mengucap "Bismillahirrohmanirrohiim" Blog ini resmi diluncurkan... Semoga blog ini bermanfaat.